Fenomena langit Mei 2026 menghadirkan rangkaian peristiwa astronomi menarik yang dapat diamati dari Bumi. Sepanjang bulan, langit malam dihiasi dua kali fase Bulan Purnama, hujan meteor Eta Aquarid, serta sejumlah peristiwa papasan antara Bulan dan planet-planet terang.
Mei dibuka dengan Bulan Purnama pada 2 Mei dan ditutup dengan Bulan Purnama kedua pada 31 Mei. Fenomena dua kali purnama dalam satu bulan kalender ini kerap disebut sebagai Blue Moon.
Selain itu, fase Bulan Baru pada 17 Mei menjadi momen ideal untuk pengamatan objek langit redup seperti Bima Sakti karena minim gangguan cahaya alami.
Dari sisi planet, Merkurius hanya dapat diamati pada awal bulan di ufuk timur saat fajar sebelum akhirnya menghilang karena konjungsi superior dengan Matahari. Menjelang akhir Mei, planet ini kembali muncul di langit senja setelah Matahari terbenam.
Sementara itu, Venus dan Jupiter tampak cukup dominan di langit barat selepas Matahari terbenam. Venus dapat diamati hingga sekitar satu jam setelah Matahari terbenam, sedangkan Jupiter bertahan hingga sekitar pukul 21.00 waktu lokal. Kedua planet ini juga akan berpapasan dengan Bulan pada pertengahan bulan.
Di langit fajar, Mars dan Saturnus masih menjadi objek utama. Keduanya tampak semakin tinggi setiap harinya dan dapat diamati sebelum Matahari terbit. Mars bergerak dari rasi Pisces menuju Aries, sedangkan Saturnus berada di rasi Cetus sepanjang bulan.
Adapun Uranus dan Neptunus memerlukan alat bantu seperti teleskop karena cahayanya yang redup. Uranus dapat diamati sesaat setelah Matahari terbenam di awal bulan, sementara Neptunus terlihat sebelum fajar di rasi Pisces.
Hujan Meteor Eta Aquarid
Puncak aktivitas meteor terjadi pada 5–6 Mei melalui hujan meteor Eta Aquarid. Fenomena ini berasal dari sisa debu komet Halley dan dapat menghasilkan sekitar 10 hingga 30 meteor per jam pada kondisi langit ideal. Meteor tampak datang dari rasi Aquarius dan paling baik diamati setelah tengah malam hingga menjelang fajar.
Selain itu, sejumlah peristiwa konjungsi turut meramaikan langit Mei. Bulan akan berpapasan dengan bintang terang Antares pada 3–4 Mei dan kembali terjadi pada 31 Mei. Kemudian, konjungsi dengan Saturnus terjadi pada 14 Mei, Mars pada 15 Mei, Venus pada 19 Mei, Jupiter pada 20 Mei, serta Regulus pada 23 Mei.
Minggu ketiga Mei menjadi waktu terbaik untuk menikmati langit malam, terutama saat fase Bulan Baru. Pada periode ini, pengamatan Bima Sakti dan gugusan bintang menjadi lebih optimal karena kondisi langit yang gelap.
Sepanjang Mei, berbagai bintang terang seperti Sirius, Canopus, Arcturus, hingga Antares dapat dijadikan panduan dalam pengamatan. Kehadiran rasi-rasi seperti Scorpius, Leo, dan Crux juga memudahkan pengamat dalam mengenali objek langit.
Tak hanya itu, kampanye langit gelap Globe at Night berlangsung pada 8–17 Mei. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap dampak polusi cahaya dengan mengajak masyarakat mengamati jumlah bintang yang terlihat dari lokasi masing-masing.
Dengan rangkaian peristiwa tersebut, Fenomena Langit pada Mei 2026 menjadi salah satu periode terbaik bagi pengamat langit, baik pemula maupun berpengalaman, untuk menikmati keindahan langit malam secara langsung. (NKR/D-1)
(Baca: Mengenal Rasi Ursa Mayor (Bintang Biduk): Sang Beruang Besar yang Penuh Cerita)












