Dalam beberapa bulan terakhir, nama TOCO (toco.id) kian sering muncul dalam pemberitaan media dan blog bisnis asal China. Platform e-commerce asal Indonesia ini disorot karena menawarkan model bisnis yang relatif tidak lazim di kawasan Asia Tenggara, yakni komisi nol seumur hidup bagi penjual.
Di tengah meningkatnya biaya transaksi dan komisi pada platform besar seperti Shopee, Lazada, dan TikTok Shop, TOCO dipandang sebagai alternatif yang menjanjikan bagi para penjual. Tidak hanya pelaku usaha lokal, minat juga datang dari penjual lintas negara, termasuk dari China, yang tengah mencari saluran penjualan dengan beban biaya lebih ringan.
Laporan Sea321.com pada 19 Desember 2025 menekankan bahwa meningkatnya minat terhadap TOCO tidak terlepas dari lonjakan biaya administrasi di platform e-commerce besar. Media ini mengutip pernyataan CEO TOCO, Arnold Sebastian, yang menyebut pertumbuhan platform terjadi secara organik tanpa biaya pemasaran.
Arnold menyatakan banyak penjual mengeluhkan potongan di platform lain yang mencapai 8 hingga 38 persen, sehingga menyulitkan keberlanjutan usaha. Hingga akhir 2025, TOCO disebut memiliki sekitar 1 juta pengguna aktif bulanan dan 3,4 juta produk, memperkuat posisinya sebagai pendatang baru yang mulai diperhitungkan di pasar e-commerce Indonesia.













