Dalam beberapa bulan terakhir, nama TOCO (toco.id) kian sering muncul dalam pemberitaan media dan blog bisnis asal China. Platform e-commerce asal Indonesia ini disorot karena menawarkan model bisnis yang relatif tidak lazim di kawasan Asia Tenggara, yakni komisi nol seumur hidup bagi penjual.
Di tengah meningkatnya biaya transaksi dan komisi pada platform besar seperti Shopee, Lazada, dan TikTok Shop, TOCO dipandang sebagai alternatif yang menjanjikan bagi para penjual. Tidak hanya pelaku usaha lokal, minat juga datang dari penjual lintas negara, termasuk dari China, yang tengah mencari saluran penjualan dengan beban biaya lebih ringan.
Sorotan lain datang dari Chwang.com pada 9 Desember 2025 yang mengulas perjalanan TOCO sejak masuk ke pasar Indonesia pada Agustus 2024. Dengan mengusung model komisi nol, TOCO secara langsung menantang platform besar Asia Tenggara yang mengenakan komisi berkisar 8 hingga 38 persen.
Chwang mencatat TOCO berhasil menarik jutaan pengguna aktif bulanan, dengan sekitar 3,4 juta produk terdaftar. Pola pertumbuhan ini disebut menyerupai Meesho di India, platform e-commerce tanpa komisi yang sukses menarik ratusan ribu penjual kecil sebelum akhirnya melantai di bursa.
Meski demikian, media tersebut juga menyoroti tantangan yang dihadapi TOCO, mulai dari keberlanjutan model bisnis, keterbatasan infrastruktur, hingga persoalan trafik. Bagi penjual China, TOCO direkomendasikan lebih sebagai platform uji pasar berbiaya rendah, bukan sebagai satu-satunya kanal penjualan.













