Menurut data dari laman Satu Data Jakarta, nilai kerugian akibat kebakaran di Jakarta sepanjang 2015–2024 mencapai Rp2,97 triliun. Dari jumlah itu, nilai kerugian terbesar tercatat pada 2024 dengan taksiran mencapai Rp360,06 miliar. Angka ini naik 28,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2015, kerugian kebakaran mencapai Rp377,81 miliar. Setahun kemudian, nilainya turun drastis menjadi Rp213,48 miliar. Namun, tren berbalik pada 2017 dengan lonjakan tajam hingga Rp475,22 miliar, sekaligus menjadikan tahun tersebut sebagai periode dengan kerugian terbesar dalam satu dekade terakhir.
Tren kembali menurun pada 2018 dengan kerugian Rp238,94 miliar, lalu naik lagi pada 2019 menjadi Rp322,05 miliar. Periode 2020 dan 2021 mencatat penurunan beruntun, masing-masing Rp252,06 miliar dan Rp209,49 miliar. Angka 2021 menjadi yang terendah sepanjang 2015–2024.
Memasuki 2022, kerugian kembali meningkat menjadi Rp245,11 miliar. Tren berlanjut pada 2023 dengan Rp280,51 miliar, sebelum akhirnya mencapai Rp360,06 miliar pada 2024.
Sementara itu, apabila dilihat berdasarkan jumlah kejadiannya, jumlah kebakaran di Jakarta pada 2024 mencapai 1.969 kejadian. Angka itu menunjukkan penurunan 13,87% dari tahun sebelumnya yang mencatat 2.286 kasus.
Pada tingkat wilayah, Jakarta Selatan menjadi kawasan dengan kebakaran terbanyak, yakni 516 kejadian. Jakarta Barat mencatat 482 insiden, diikuti Jakarta Timur dengan 443 kasus. Di sisi lain, Jakarta Utara mencatat 279 kejadian dan Jakarta Pusat menjadi yang paling rendah dengan 249 insiden. (RK/D-1)
(Baca: Jumlah Kebakaran di Jakarta 2024 Turun, Insiden di Gedung Terra Drone Jadi Sorotan)













