Menjamurnya konten kreator dan influencer di berbagai platform digital menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan perusahaan media. Fenomena ini dinilai berpotensi menggerus minat pembaca terhadap produk jurnalistik konvensional yang selama ini menjadi andalan media arus utama.
Berdasarkan hasil survei Reuters Institute, sebanyak 70% responden dari perusahaan media global mengaku khawatir konten kreator dapat mengambil perhatian audiens dari konten media tradisional. Kekhawatiran ini muncul seiring meningkatnya kepercayaan publik terhadap konten yang diproduksi secara personal, cepat, dan dekat dengan keseharian audiens.
Tak hanya soal pembaca, ancaman lain juga datang dari sisi sumber daya manusia. Sebanyak 39% responden menyatakan khawatir kehilangan talenta editorial terbaik mereka. Para jurnalis dinilai semakin tertarik beralih menjadi konten kreator karena tawaran fleksibilitas kerja serta potensi pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan bekerja di ruang redaksi konvensional.
Menghadapi perubahan tersebut, perusahaan media mulai mengubah pendekatan. Mayoritas responden, atau sekitar 76%, menyebutkan bahwa media kini mendorong para jurnalis untuk berperan layaknya konten kreator. Artinya, jurnalis tidak hanya menulis berita, tetapi juga membangun personal branding, aktif di media sosial, serta berinteraksi langsung dengan audiens.
Selain itu, kolaborasi menjadi strategi lain yang banyak dipilih. Sekitar 50% perusahaan media menyatakan akan bekerja sama dengan konten kreator, terutama dalam proses distribusi konten agar jangkauan pembaca semakin luas. Langkah ini dinilai efektif untuk menembus ekosistem platform digital yang didominasi algoritma.
Sementara itu, 31% responden berencana merekrut konten kreator secara langsung. Strategi ini ditujukan untuk menjangkau audiens muda yang cenderung lebih akrab dengan format konten visual, video pendek, dan gaya komunikasi yang santai.
Tidak sedikit pula perusahaan media yang mengambil langkah lebih jauh. Sebanyak 28% responden mengaku memiliki inisiatif membentuk kerja sama bisnis atau joint venture, seperti mendirikan studio kreator. Studio ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara jurnalisme dan industri kreatif digital.
Namun, di tengah berbagai opsi tersebut, masih ada perusahaan media yang belum menemukan arah. Sebanyak 8% responden mengaku belum mengetahui langkah strategis apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi gelombang konten kreator yang kian masif.
Survei ini melibatkan 280 responden dari 51 negara. Mereka berasal dari berbagai posisi strategis, mulai dari pemimpin redaksi, editor eksekutif, CEO, direktur pelaksana, hingga kepala inovasi di perusahaan media tradisional maupun digital. Survei dilakukan pada periode 18 November hingga 20 Desember 2025.
Temuan ini menunjukkan bahwa persaingan antara media arus utama dan konten kreator bukan lagi sekadar wacana. Perusahaan media dituntut untuk beradaptasi, berinovasi, dan menemukan keseimbangan antara nilai jurnalistik dan tuntutan ekosistem digital yang terus berubah. (RK/D-1)
(Baca: Medsos Terpopuler di Dunia Oktober 2025: WhatsApp Ungguli Instagram dan Facebook)













