Dataloka.id — Kampus dengan skor sitasi riset tinggi dalam QS World University Rankings tidak selalu memiliki SINTA Score tertinggi. Perbandingan lima perguruan tinggi Indonesia menunjukkan bahwa posisi kampus dapat berubah ketika indikator dan metode pengukurannya berbeda.
Institut Teknologi Bandung (ITB), misalnya, memperoleh skor Citations per Faculty tertinggi di antara lima kampus dalam QS World University Rankings (WUR) 2027, yakni 5,8. Namun, berdasarkan tampilan metrik SINTA yang ditelusuri Dataloka pada 2026, SINTA Score 3Yr ITB berada di kisaran 843.903.
Sebaliknya, Universitas Gadjah Mada (UGM) memiliki skor Citations per Faculty lebih rendah, yakni 3,1. Kendati demikian, SINTA Score 3Yr UGM mencapai 1.610.976 atau hampir dua kali lipat skor ITB.
Perbedaan itu menunjukkan bahwa satu indikator tidak dapat langsung digunakan untuk mewakili seluruh kinerja riset sebuah perguruan tinggi. Citations per Faculty QS dan SINTA Score sama-sama berkaitan dengan aktivitas penelitian, tetapi keduanya mengukur aspek yang berbeda.
Perbandingan Citations per Faculty QS dan SINTA Score
| Kampus | Citations per Faculty QS 2027 | SINTA Score 3Yr |
|---|---|---|
| ITB | 5,8 | 843.903 |
| UGM | 3,1 | 1.610.976 |
| IPB University | 2,8 | 1.189.245 |
| Unpad | 2,6 | 773.695 |
| Undip | 2,3 | 1.059.768 |
Catatan: Skor SINTA bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti pembaruan profil. Angka pada tabel mengikuti tampilan profil atau metrik SINTA yang terindeks dalam penelusuran pada 2026.
Sumber: QS World University Rankings 2027 dan SINTA Kemdiktisaintek.
ITB unggul dalam Citations per Faculty
QS memberikan skor Citations per Faculty sebesar 5,8 kepada ITB dalam World University Rankings 2027. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam sampel lima kampus, di atas UGM sebesar 3,1, IPB University 2,8, Universitas Padjadjaran (Unpad) 2,6, dan Universitas Diponegoro (Undip) 2,3.
Namun, Citations per Faculty tidak menunjukkan jumlah sitasi total yang diperoleh sebuah universitas. Dalam metodologi QS World University Rankings, indikator dengan bobot 20 persen ini digunakan untuk mengukur dampak penelitian relatif terhadap jumlah staf akademik.
Perhitungannya juga tidak sekadar membagi jumlah sitasi dengan jumlah dosen. QS menggunakan data bibliometrik serta melakukan normalisasi berdasarkan bidang ilmu agar disiplin dengan budaya sitasi tinggi tidak dibandingkan secara langsung dengan bidang yang secara alami menghasilkan sitasi lebih sedikit.
Karena pendekatan tersebut, universitas dengan jumlah sitasi absolut lebih besar belum tentu memperoleh skor Citations per Faculty yang lebih tinggi. Ukuran staf akademik dan karakter bidang ilmu yang dikembangkan universitas ikut memengaruhi hasil akhirnya.
UGM Memimpin SINTA Score 3Yr
Gambaran berbeda muncul ketika kelima kampus dibandingkan menggunakan SINTA Score 3Yr. UGM berada di posisi teratas dengan skor 1.610.976, disusul IPB University sebesar 1.189.245 dan Undip sebesar 1.059.768.
ITB yang memimpin Citations per Faculty QS justru memiliki SINTA Score 3Yr sekitar 843.903. Sementara itu, Unpad berada di kisaran 773.695 berdasarkan tampilan metrik SINTA yang ditelusuri pada 2026.
Dengan demikian, ITB menempati posisi teratas apabila ukuran yang digunakan adalah Citations per Faculty QS, tetapi tidak ketika pembandingnya SINTA Score 3Yr. Sebaliknya, Undip memiliki skor Citations per Faculty lebih rendah daripada ITB, tetapi SINTA Score 3Yr-nya lebih tinggi.
Perubahan urutan tersebut bukan berarti salah satu indikator keliru. Perbedaannya justru berangkat dari tujuan dan metodologi masing-masing sistem penilaian.
Mengapa Hasil QS dan SINTA Berbeda?
Perbedaan utama terletak pada apa yang dihitung oleh kedua indikator tersebut. SINTA Score tidak hanya melihat sitasi, tetapi merangkum sejumlah komponen kinerja penelitian dalam sistem Science and Technology Index milik Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Dalam tampilan metrik SINTA V3, penilaian antara lain mencakup artikel Scopus berdasarkan kuartil, publikasi nonartikel Scopus, sitasi Scopus, dokumen yang tersitasi, publikasi Web of Science, serta publikasi nasional. Masing-masing komponen kemudian masuk dalam formula penilaian sesuai bobot yang diterapkan SINTA.
Pada profil UGM, misalnya, SINTA menampilkan komponen Scopus Article Q1, Q2, Q3, dan Q4 beserta Scopus Citation dan Scopus Document Tersitasi. Dengan cakupan seperti itu, SINTA Score menggambarkan kinerja penelitian yang lebih luas daripada sekadar rasio sitasi terhadap jumlah staf akademik.
Sementara itu, Citations per Faculty QS memiliki fungsi yang lebih spesifik. Indikator tersebut berfokus pada dampak sitasi penelitian setelah memperhitungkan jumlah staf akademik dan melakukan normalisasi berdasarkan bidang ilmu.
Karena unit pengukurannya berbeda, kedua indikator memang tidak dirancang untuk menghasilkan peringkat kampus yang sama. Kampus yang unggul dalam Citations per Faculty karena memiliki dampak sitasi tinggi per staf belum tentu memperoleh SINTA Score terbesar.
SINTA juga Menyediakan Data Jumlah Sitasi
Selain skor komposit, profil SINTA menyediakan bagian Scopus Analysis yang dapat digunakan untuk melihat indikator bibliometrik secara lebih terperinci. Data tersebut antara lain memungkinkan pembaca melihat jumlah sitasi Scopus yang diperoleh masing-masing institusi.
UGM, misalnya, memiliki ratusan ribu sitasi Scopus yang ditampilkan dalam profil SINTA. IPB University dan ITB juga menunjukkan volume sitasi yang besar, meski angka tersebut tidak dapat langsung dibandingkan dengan skor Citations per Faculty QS.
Perbedaannya terletak pada satuan analisis yang digunakan. Jumlah sitasi Scopus merupakan angka absolut, sedangkan Citations per Faculty QS telah mempertimbangkan jumlah staf akademik serta perbedaan karakter sitasi antarbidang ilmu.
Karena itu, kampus berukuran besar dengan banyak dosen dan peneliti dapat menghasilkan jumlah sitasi total yang sangat tinggi. Di sisi lain, universitas dengan jumlah staf lebih sedikit tetap dapat memiliki rasio sitasi per dosen yang lebih besar.
Skor QS dan SINTA tidak Bisa Dijumlahkan
Perbedaan metodologi juga membuat skor QS dan SINTA tidak bisa begitu saja dijumlahkan untuk menghasilkan sebuah “skor riset gabungan”. Selain mengukur aspek yang berbeda, skala angka yang digunakan kedua sistem tersebut juga tidak sama.
QS menggunakan skor indikator yang telah dinormalisasi sebagai bagian dari sistem pemeringkatan universitas global. Sementara itu, SINTA menggunakan sistem skor nasional yang dibangun dari berbagai komponen keluaran penelitian dengan bobot tertentu.
Karena itu, menjumlahkan skor Citations per Faculty ITB sebesar 5,8 dengan SINTA Score 3Yr sebesar 843.903, misalnya, tidak menghasilkan ukuran yang memiliki arti statistik. Pembuatan indeks gabungan baru membutuhkan metode normalisasi dan pembobotan yang jelas terlebih dahulu.
Kedua indikator lebih tepat digunakan untuk menjawab pertanyaan yang berbeda. Citations per Faculty QS berguna untuk melihat dampak sitasi relatif dalam konteks pemeringkatan global, sedangkan SINTA Score dapat membantu membaca akumulasi kinerja penelitian dalam sistem penilaian nasional Indonesia.
Jadi, Kampus Mana yang Paling Banyak Disitasi?
Jawabannya bergantung pada definisi yang digunakan. Istilah “kampus paling banyak disitasi” dapat merujuk pada jumlah sitasi total, jumlah dokumen tersitasi, sitasi per dosen, ataupun indikator komposit yang memasukkan publikasi dan sitasi sekaligus.
Masing-masing ukuran tersebut dapat menghasilkan urutan kampus yang berbeda. Karena itu, pembaca perlu melihat terlebih dahulu metodologi di balik angka sebelum menyimpulkan bahwa satu universitas memiliki kinerja riset lebih baik daripada universitas lainnya.
Dalam sampel lima kampus ini, ITB memiliki skor Citations per Faculty QS 2027 tertinggi sebesar 5,8. Namun, jika menggunakan SINTA Score 3Yr, posisi teratas beralih kepada UGM dengan skor 1.610.976.
Perbedaan tersebut bukan sebuah kontradiksi, melainkan gambaran bahwa kinerja riset memiliki banyak dimensi. Produktivitas publikasi, dampak sitasi, jumlah peneliti, bidang ilmu, serta jenis keluaran penelitian dapat memberikan gambaran yang berbeda tentang kekuatan akademik sebuah perguruan tinggi.
Bagi calon mahasiswa ataupun peneliti, dua indikator ini sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar dalam memilih kampus. Peringkat bidang studi, rekam jejak publikasi, laboratorium, kelompok riset, kolaborasi internasional, hingga reputasi peneliti dapat menjadi data tambahan untuk melihat kekuatan riset sebuah universitas secara lebih spesifik. (RK/D-1)
Baca: 10 Kampus Indonesia dengan Riset Paling Banyak Disitasi Versi QS 2027, ITB Teratas













