Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi perguruan tinggi Indonesia dengan skor sitasi per dosen tertinggi dalam QS World University Rankings (QS WUR) 2027. ITB memperoleh skor 5,8 poin pada indikator Citations per Faculty.
Posisi berikutnya ditempati Binus University dengan skor 4,8 poin. Sementara itu, Universitas Indonesia (UI) berada di urutan ketiga nasional setelah memperoleh skor 3,9 poin.
Hasil tersebut menunjukkan susunan peringkat sitasi tidak selalu sejalan dengan peringkat universitas secara keseluruhan. Binus, misalnya, berada di kelompok 901–950 dunia dalam QS WUR 2027, tetapi mampu menempati posisi kedua nasional untuk sitasi per dosen.
Meski demikian, seluruh perguruan tinggi Indonesia masih berada di kelompok peringkat 801+ dunia pada indikator ini. Dengan kata lain, belum ada kampus Indonesia yang masuk 800 besar dunia dalam penilaian Citations per Faculty.
ITB unggul, Binus berada di posisi kedua
ITB memimpin dengan skor 5,8 poin atau unggul satu poin dari Binus University. Namun, selisih skor keduanya dengan universitas di posisi berikutnya relatif lebih lebar.
UI yang berada di peringkat ketiga memperoleh skor 3,9 poin. Skornya terpaut 0,9 poin dari Binus dan 1,9 poin dari ITB.
Posisi ITB dalam indikator sitasi tidak lepas dari perannya sebagai perguruan tinggi berbasis sains dan teknologi. Kendati begitu, skor Citations per Faculty tidak hanya menghitung jumlah publikasi atau keseluruhan sitasi yang diterima universitas.
QS membagi jumlah sitasi dengan jumlah staf akademik. Karena itu, universitas dengan jumlah publikasi dan sitasi besar belum tentu memperoleh skor tertinggi apabila jumlah dosennya juga besar.
Dua kampus swasta masuk daftar
Selain Binus, Telkom University menjadi perguruan tinggi swasta yang masuk 10 besar nasional. Telkom memperoleh skor 2,7 poin, sama dengan Universitas Airlangga.
Kedua kampus tersebut menempati posisi ketujuh bersama. Akan tetapi, peringkat keseluruhan keduanya terpaut cukup jauh.
Unair berada di peringkat ke-276 dunia, sedangkan Telkom University menempati kelompok 1.201–1.400. Perbedaan itu kembali memperlihatkan bahwa satu indikator tidak dapat digunakan untuk menggambarkan seluruh performa universitas.
Di antara keduanya terdapat ITS dan IPB. ITS memperoleh skor 2,9 poin, sedikit lebih tinggi daripada IPB yang meraih 2,8 poin.
Seluruh kampus Indonesia masih di peringkat 801+
Walaupun memiliki skor berbeda, seluruh universitas Indonesia ditempatkan dalam kelompok peringkat indikator 801+. QS tidak memberikan urutan global yang lebih terperinci kepada kampus-kampus tersebut.
Kondisi itu menunjukkan adanya jarak antara perguruan tinggi Indonesia dan universitas dengan intensitas sitasi per dosen tertinggi di dunia. Namun, skor rendah tidak serta-merta berarti sebuah kampus tidak menghasilkan banyak penelitian.
Indikator ini mengukur sitasi rata-rata per staf akademik, bukan jumlah publikasi, total sitasi, nilai anggaran penelitian, jumlah paten, ataupun dampak pengabdian kepada masyarakat.
Perbedaan karakter bidang ilmu juga memengaruhi pola publikasi dan sitasi. Bidang kesehatan serta sains alam, misalnya, umumnya mempunyai tingkat sitasi berbeda dari ilmu sosial, seni, dan humaniora.
Bagaimana QS menghitung sitasi per dosen?
Menurut metodologi QS, indikator Citations per Faculty digunakan untuk mengukur intensitas dan pengaruh relatif penelitian pada sebuah perguruan tinggi.
QS membagi jumlah sitasi yang diterima publikasi dengan jumlah staf akademik. Pendekatan tersebut digunakan agar universitas dengan ukuran berbeda tetap dapat dibandingkan.
Data publikasi dan sitasi berasal dari basis data Scopus milik Elsevier. QS menghitung sitasi selama enam tahun terhadap karya ilmiah yang diterbitkan dalam periode lima tahun.
Sebelum skor dihitung, QS mengeluarkan sitasi mandiri pada tingkat penulis dan sejumlah jenis dokumen tertentu. QS juga melakukan normalisasi berdasarkan lima kelompok bidang ilmu agar masing-masing bidang menyumbang pengaruh sebesar 20% terhadap indikator.
Penyesuaian bidang diperlukan karena kebiasaan publikasi dan tingkat sitasi berbeda antardisiplin ilmu. Tanpa normalisasi, universitas dengan konsentrasi besar pada bidang yang banyak menghasilkan sitasi berpotensi memperoleh keuntungan lebih besar.
Bobot sitasi mencapai 20%
Citation per Faculty menyumbang 20% terhadap skor keseluruhan QS WUR 2027. Bobotnya menjadi yang terbesar kedua setelah reputasi akademik sebesar 30%.
Adapun reputasi pemberi kerja memiliki bobot 15%, sedangkan rasio dosen–mahasiswa sebesar 10%. Lima indikator lainnya masing-masing menyumbang 5%.
Besarnya bobot sitasi membuat perubahan skor indikator ini dapat memengaruhi posisi universitas secara keseluruhan. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada gabungan sembilan indikator.
QS WUR 2027 memuat 1.504 perguruan tinggi, termasuk 98 institusi baru. Indonesia menempatkan 20 universitas dalam pemeringkatan yang dirilis pada 18 Juni 2026 tersebut. (RK/D-1)
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kampus Indonesia mana yang memiliki skor sitasi tertinggi versi QS 2027?
Institut Teknologi Bandung berada di posisi pertama dengan skor Citations per Faculty sebesar 5,8 poin.
Kampus apa saja yang masuk tiga besar?
Tiga kampus teratas adalah Institut Teknologi Bandung, Binus University, dan Universitas Indonesia.
Apakah skor tersebut menunjukkan jumlah sitasi sebenarnya?
Tidak. Angka yang ditampilkan merupakan skor QS dalam skala 0–100, bukan jumlah sitasi mentah yang diterima universitas.
Apakah Citations per Faculty sama dengan total sitasi?
Tidak. QS membagi jumlah sitasi dengan jumlah staf akademik serta melakukan sejumlah penyesuaian dan normalisasi bidang ilmu.
Berapa bobot sitasi per dosen dalam QS WUR 2027?
Indikator Citations per Faculty mempunyai bobot 20% terhadap skor keseluruhan.
Apakah kampus dengan skor sitasi tertinggi otomatis menjadi universitas terbaik?
Tidak. Peringkat keseluruhan ditentukan melalui gabungan sembilan indikator dengan bobot yang berbeda.
Baca: 10 Kampus Indonesia dengan Rasio Dosen dan Mahasiswa Terbaik Versi QS 2027, IPB Teratas
Follow Channel WhatsApp Dataloka













