IPB University menjadi perguruan tinggi Indonesia dengan skor rasio dosen dan mahasiswa tertinggi dalam QS World University Rankings (QS WUR) 2027. Kampus tersebut memperoleh skor 86,5 poin untuk indikator Faculty-Student Ratio.
Skor itu menempatkan IPB di peringkat ke-126 dunia dalam penilaian rasio dosen terhadap mahasiswa. Posisinya mengungguli Universitas Airlangga (Unair) yang berada di urutan kedua nasional dengan skor 74,5 poin.
Universitas Gadjah Mada (UGM) menyusul di posisi ketiga. Kampus asal Yogyakarta tersebut memperoleh skor 66,7 poin dan berada di peringkat ke-249 dunia untuk indikator yang sama.
IPB unggul 12 poin dari Unair
IPB memimpin dengan selisih cukup lebar. Skornya terpaut 12 poin dari Unair yang berada di posisi kedua. Keunggulan itu membuat IPB menempati peringkat ke-126 dunia dalam indikator rasio dosen–mahasiswa. Posisi tersebut menjadi yang tertinggi di antara seluruh perguruan tinggi Indonesia dalam QS WUR 2027.
Namun, keunggulan pada indikator ini tidak serta-merta menempatkan IPB di posisi pertama secara keseluruhan. IPB berada di peringkat ke-419 dunia, sedangkan UI menduduki peringkat bersama ke-191.
Perbedaan tersebut terjadi karena rasio dosen–mahasiswa hanya menjadi satu dari sembilan indikator utama dalam QS WUR 2027. Peringkat keseluruhan turut dipengaruhi reputasi akademik, reputasi pemberi kerja, sitasi, internasionalisasi, hasil kerja lulusan, dan keberlanjutan.
Unair dan UGM masuk tiga besar
Unair menempati posisi kedua nasional dengan skor 74,5 poin. Skor tersebut membawa kampus asal Surabaya itu ke peringkat ke-193 dunia dalam indikator rasio dosen–mahasiswa.
Di bawahnya, UGM memperoleh skor 66,7 poin. Meski selisihnya mencapai 7,8 poin dari Unair, UGM tetap menjadi satu dari tiga kampus Indonesia yang masuk 250 besar dunia dalam indikator ini.
Universitas Padjadjaran berada di posisi keempat nasional dengan skor 60,7 poin. Unpad hanya unggul 0,8 poin dari UI yang memperoleh skor 59,9.
Sementara itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember menempati posisi keenam dengan skor 58,9 poin. Ketiga universitas tersebut berada di rentang peringkat 302–320 dunia untuk indikator rasio dosen–mahasiswa.
Peringkat indikator tidak selalu sejalan dengan posisi keseluruhan
Susunan daftar menunjukkan bahwa peringkat keseluruhan universitas tidak selalu sejalan dengan ketersediaan dosen dibandingkan jumlah mahasiswa.
Institut Teknologi Bandung (ITB), misalnya, berada di peringkat keempat Indonesia secara keseluruhan dan ke-287 dunia. Akan tetapi, skor rasio dosen–mahasiswanya sebesar 44,8 poin menempatkan ITB di posisi kedelapan nasional untuk indikator tersebut.
Sebaliknya, Universitas Hasanuddin berada dalam kelompok 851–900 dunia secara keseluruhan, tetapi menempati posisi ketujuh nasional dalam rasio dosen–mahasiswa. Unhas memperoleh skor 54,1 poin dan menduduki peringkat ke-354 dunia berdasarkan indikator ini.
Pola serupa terlihat pada Universitas Sumatera Utara. Meski berada di kelompok 1.001–1.200 dunia secara keseluruhan, USU masuk sembilan besar nasional dengan skor rasio dosen–mahasiswa sebesar 42,4 poin.
Universitas Diponegoro melengkapi daftar 10 besar. Undip memperoleh skor 34,5 poin dan berada di peringkat ke-563 dunia dalam indikator tersebut.
Bagaimana QS menghitung rasio dosen dan mahasiswa?
QS menghitung Faculty-Student Ratiodengan membandingkan jumlah staf akademik dan jumlah mahasiswa pada sebuah perguruan tinggi. Semakin besar sumber daya akademik yang tersedia bagi mahasiswa, semakin tinggi pula potensi skor institusi.
Indikator ini menjadi satu-satunya komponen dalam kelompok penilaian pengalaman belajar atau Learning Experience. Bobotnya mencapai 10% dari nilai akhir QS WUR 2027.
Meski disebut rasio dosen dan mahasiswa, angka yang dipublikasikan QS merupakan skor hasil pengolahan dengan skala 0–100. Skor 86,5 yang diperoleh IPB, misalnya, bukan berarti terdapat 86,5 dosen untuk setiap 100 mahasiswa.
QS tidak menampilkan angka mentah berupa perbandingan satu dosen dengan sejumlah mahasiswa dalam tabel hasil publik. Karena itu, skor tersebut tidak dapat langsung dikonversi menjadi rasio 1 banding sekian.
Skor yang tinggi juga tidak otomatis menggambarkan ukuran setiap kelas atau kualitas pengajaran pada seluruh program studi. Distribusi dosen dapat berbeda antarfakultas, jenjang pendidikan, dan bidang ilmu.
Sembilan indikator QS WUR 2027
Selain rasio dosen–mahasiswa, QS menggunakan delapan indikator lain. Reputasi akademik memperoleh bobot terbesar sebesar 30%, diikuti sitasi per dosen sebesar 20% dan reputasi pemberi kerja sebesar 15%.
Rasio dosen–mahasiswa mempunyai bobot 10%. Adapun hasil kerja lulusan, rasio dosen internasional, rasio mahasiswa internasional, jaringan riset internasional, serta keberlanjutan masing-masing berbobot 5%.
Gabungan seluruh indikator tersebut menentukan skor dan peringkat akhir universitas. Itulah sebabnya kampus yang unggul dalam rasio dosen–mahasiswa belum tentu menempati posisi teratas dalam pemeringkatan secara keseluruhan.
QS WUR 2027 memuat 1.504 perguruan tinggi, termasuk 98 pendatang baru. Indonesia menempatkan 20 universitas dalam pemeringkatan yang dirilis pada 18 Juni 2026 tersebut. (RK/D-1)
Pertanyaan yang sering diajukan
Kampus Indonesia mana yang memiliki skor rasio dosen–mahasiswa tertinggi versi QS 2027?
IPB University berada di posisi pertama dengan skor 86,5 poin dan peringkat ke-126 dunia untuk indikator tersebut.
Kampus apa saja yang masuk tiga besar?
Tiga kampus teratas adalah IPB University, Universitas Airlangga, dan Universitas Gadjah Mada.
Apakah skor QS menunjukkan rasio satu dosen dibandingkan sejumlah mahasiswa?
Tidak. QS memublikasikan skor indikator dalam skala 0–100, bukan angka mentah seperti rasio 1:10 atau 1:20.
Mengapa UI tidak berada di posisi pertama?
UI memimpin peringkat universitas Indonesia secara keseluruhan, tetapi skor indikator rasio dosen–mahasiswanya berada di posisi kelima nasional.
Berapa bobot rasio dosen–mahasiswa dalam QS WUR 2027?
Indikator Faculty-Student Ratiomempunyai bobot 10% terhadap skor keseluruhan.
Baca: 10 Kampus Indonesia dengan Rasio Mahasiswa Asing Tertinggi Versi QS WUR 2027, ITS Teratas














Comments 1