Dataloka.id – Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat masih berlangsung di Indonesia pada November 2026. Meski umumnya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan, sejumlah wilayah justru mengalami hujan yang sangat lebat hingga ekstrem pada awal November 2026 ini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan curah hujan harian tertinggi selama periode 1–4 November 2026 mencapai 358 milimeter (mm) di Jawa Timur. Bali menyusul dengan 300 mm per hari, Aceh 167 mm per hari, dan Kalimantan Barat 101 mm per hari.
Selain keempat provinsi tersebut, BMKG melaporkan hujan lebat di Sumatera Utara, Bengkulu, Sulawesi Selatan, Papua Selatan, Sumatera Barat, dan Sulawesi Barat.
Kondisi ini berlangsung ketika anomali suhu muka laut di kawasan Pasifik tengah semakin menguat. Berdasarkan analisis BMKG pada dasarian III Oktober 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +3,57 derajat Celsius (°C).
Sementara itu, indeks El Niño Southern Oscillation (ENSO) rata-rata tiga bulanan untuk periode Agustus–Oktober 2026 mencapai +3,09. BMKG mengategorikan kondisi tersebut sebagai El Niño dengan intensitas sangat kuat.
El Niño Terus Menguat sejak Juni 2026
Hasil pemantauan BMKG menunjukkan peningkatan anomali suhu muka laut di kawasan Niño 3.4 sepanjang Juni hingga Oktober 2026. Pada dasarian III Juni 2026, anomali suhu muka laut berada di level +1,69°C. Angkanya meningkat menjadi +2,45°C pada dasarian III Juli, kemudian kembali naik menjadi +2,74°C pada akhir Agustus.
Penguatan berlanjut pada September ketika anomali suhu mencapai +3,44°C, sebelum meningkat menjadi +3,57°C pada dasarian III Oktober 2026. Dari rangkaian tersebut, anomali suhu muka laut meningkat sebesar 1,88°C antara akhir Juni dan akhir Oktober 2026.
Fenomena El Niño berkaitan dengan pemanasan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis. Perubahan tersebut dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer dan pola pembentukan awan hujan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Secara umum, El Niño berpotensi mengurangi curah hujan dan memperpanjang kondisi kering di sebagian wilayah Indonesia. Namun, dampaknya tidak selalu sama antardaerah karena dipengaruhi berbagai faktor atmosfer lainnya.
Mayoritas Wilayah Indonesia Masih Mengalami Hujan di Bawah Normal
Kuatnya pengaruh El Niño juga terlihat dari distribusi sifat hujan di Indonesia sepanjang Oktober 2026. BMKG melaporkan pada dasarian I Oktober, sebanyak 87,72% wilayah analisis berada dalam kategori sifat hujan bawah normal. Proporsinya sedikit meningkat menjadi 87,82% pada dasarian II.
Memasuki dasarian III Oktober, proporsi wilayah dengan sifat hujan bawah normal berkurang menjadi 73,80%. Sementara itu, wilayah dengan sifat hujan atas normal meningkat menjadi 15,12%.
Data tersebut memperlihatkan bahwa meskipun proporsi wilayah dengan hujan di bawah normal menurun pada akhir Oktober, kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.
Sebaliknya, peningkatan proporsi wilayah dengan sifat hujan atas normal memperlihatkan bahwa kondisi hujan tidak berlangsung seragam di seluruh daerah.
Sifat hujan sendiri menggambarkan perbandingan jumlah curah hujan terhadap kondisi normal klimatologisnya. Dengan demikian, hujan bawah normal tidak selalu berarti tidak terjadi hujan sama sekali.
Mengapa Hujan Ekstrem Tetap Terjadi saat El Niño?
BMKG menjelaskan bahwa perkembangan cuaca Indonesia tidak hanya ditentukan oleh El Niño. Aktivitas atmosfer regional dan lokal masih dapat mendukung pertumbuhan awan hujan, sekalipun fenomena iklim global tersebut sedang berlangsung dengan intensitas sangat kuat.
Salah satunya adalah Madden-Julian Oscillation (MJO), fenomena pergerakan aktivitas awan dan hujan di kawasan tropis yang dapat memengaruhi cuaca dalam skala mingguan.
Pada periode 6–12 November 2026, MJO diprakirakan berada pada fase 2 hingga fase 3 di sekitar Samudra Hindia. Aktivitasnya secara spasial berpotensi memengaruhi Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Maluku, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Selain MJO, aktivitas gelombang Rossby ekuatorial dan Kelvin juga diprakirakan berpengaruh di sejumlah wilayah Indonesia. Pergerakan gelombang atmosfer tersebut, disertai pertemuan angin, kelembapan udara yang tinggi, serta kondisi atmosfer yang labil, dapat mendukung pembentukan awan hujan.
Artinya, El Niño sangat kuat tidak serta-merta menghilangkan kemungkinan hujan lebat. Sejumlah wilayah masih dapat mengalami hujan ekstrem ketika faktor atmosfer regional dan lokal mendukung pertumbuhan awan hujan.
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Ekstrem pada 9–12 November 2026
BMKG memperkirakan potensi hujan lebat masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia pada 9–12 November 2026.
Sumatera Utara berada dalam kategori Awas karena berpotensi mengalami hujan sangat lebat hingga ekstrem. Sementara itu, Aceh dan Sumatera Barat berada dalam kategori Siaga terhadap potensi hujan lebat.
Pada periode yang sama, Papua Selatan juga berpotensi mengalami angin kencang. Namun, di tengah potensi hujan ekstrem tersebut, ancaman kekeringan masih perlu diwaspadai. BMKG melaporkan sebanyak 543 titik pengamatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori sangat panjang hingga ekstrem panjang.
Kondisi kering tersebut turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan pemantauan satelit yang disampaikan BMKG pada awal November, Papua Selatan memiliki 615 titik panas berkepercayaan tinggi, diikuti Kalimantan Tengah sebanyak 255 titik dan Kalimantan Timur 223 titik.
Titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan dan tidak selalu menunjukkan kejadian kebakaran. Perbedaan kondisi cuaca antardaerah memperlihatkan bahwa Indonesia menghadapi dua potensi bahaya secara bersamaan, yakni hujan ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi serta kekeringan yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, masyarakat perlu memantau pembaruan prakiraan cuaca dan peringatan dini BMKG sesuai wilayah masing-masing. Potensi hujan lebat maupun kekeringan dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi atmosfer. (RK/D-1)
Baca: Indonesia Peringkat 168 Dunia dalam Indeks Kinerja Lingkungan 2026
Sumber: BMKG
https://www.bmkg.go.id/cuaca/potensi-hujan-sepekan/prakiraan-cuaca-indonesia-sepekan-periode-6-12-november-2026-waspada-peningkatan-potensi-hujan-di-tengah-el-nino-sangat-kuat-yang-masih-berlangsung
https://www.bmkg.go.id/iklim/dinamika-atmosfer
https://www.bmkg.go.id/iklim/analisis-dinamika-atmosfer-dasarian-i-oktober-2026
https://www.bmkg.go.id/iklim/dinamika-atmosfer/analisis-dinamika-atmosfer-dasarian-ii-oktober-2026
https://www.bmkg.go.id/iklim/analisis-dinamika-atmosfer-dasarian-iii-oktober-2026


Comment