Dataloka.id — Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Sipil, dan Teknik Kimia sama-sama menawarkan jalur karier luas di berbagai sektor industri. Namun, jika dibandingkan dari sisi penghasilan alumninya, jurusan teknik mana yang memiliki median pendapatan paling tinggi?
Tracer Study Sarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) 2025 memberikan salah satu gambaran yang dapat dibandingkan secara relatif setara. Data keempat program studi berasal dari universitas yang sama, periode survei yang sama, serta kelompok alumni yang sama, sehingga perbedaannya lebih relevan dibandingkan jika mengambil data dari kampus yang berbeda.
Hasilnya, alumni Teknik Kimia memiliki median penghasilan bulanan tertinggi di antara empat jurusan tersebut, yakni Rp12 juta per bulan. Teknik Elektro berada di posisi berikutnya dengan Rp11 juta, disusul Teknik Mesin Rp9,45 juta dan Teknik Sipil Rp8,175 juta per bulan.
Data tersebut berasal dari alumni sarjana ITB angkatan 2018 yang telah bekerja ketika survei dilakukan. Karena itu, angka dalam tracer study tidak dapat diperlakukan sebagai gaji awal atau starting salary lulusan baru.
Median Penghasilan Empat Jurusan Teknik ITB
| Program Studi | Responden Penghasilan/Total Alumni | Median Penghasilan Bulanan |
|---|---|---|
| Teknik Kimia | 100/109 | Rp12.000.000 |
| Teknik Elektro | 51/53 | Rp11.000.000 |
| Teknik Mesin | 90/105 | Rp9.450.000 |
| Teknik Sipil | 100/109 | Rp8.175.000 |
Sumber: Report Tracer Study Sarjana ITB 2025.
Teknik Kimia Tertinggi, Median Rp12 Juta per Bulan
Teknik Kimia berada di posisi teratas dengan median penghasilan alumni sebesar Rp12 juta per bulan. Sebanyak 100 alumni masuk dalam data penghasilan dari total 109 alumni pada kelompok yang dibandingkan.
Posisi tersebut juga menempatkan Teknik Kimia di antara program studi dengan median penghasilan tertinggi di ITB. Dalam Tracer Study 2025, Teknik Perminyakan berada di atasnya dengan median Rp13 juta per bulan, sedangkan Teknik Telekomunikasi mencapai Rp12,5 juta.
Dengan demikian, Teknik Kimia tidak hanya unggul dibandingkan Teknik Elektro, Mesin, dan Sipil. Program tersebut juga berada dalam kelompok atas jika seluruh program studi ITB dibandingkan berdasarkan median penghasilan alumni.
Namun, angka Rp12 juta bukan berarti seluruh lulusan Teknik Kimia memperoleh pendapatan sebesar itu. Median menunjukkan nilai tengah distribusi penghasilan responden, sehingga separuh responden berada di atas nilai tersebut dan separuh lainnya berada di bawahnya.
Teknik Elektro Rp11 Juta, Bonus Tahunannya Lebih Tinggi
Teknik Elektro memiliki median penghasilan sebesar Rp11 juta per bulan, atau Rp1 juta lebih rendah dibandingkan Teknik Kimia. Dari 53 alumni yang masuk dalam kelompok data, sebanyak 51 orang memiliki data penghasilan yang digunakan dalam analisis.
Meski median penghasilan bulanannya berada di posisi kedua, Teknik Elektro memiliki daya tarik lain dari sisi kompensasi. Dalam laporan yang sama, median bonus tahunan alumni Teknik Elektro mencapai sekitar Rp45 juta, tertinggi di antara program studi yang ditampilkan ITB.
Nilainya lebih tinggi dibandingkan median bonus Teknik Mesin yang sekitar Rp30 juta dan Teknik Kimia Rp25 juta. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa penghasilan bulanan bukan satu-satunya komponen yang menentukan total kompensasi seorang pekerja.
Perusahaan dapat memberikan bonus, insentif kinerja, tunjangan, ataupun komponen variabel lain dengan nilai yang berbeda antarindustri. Karena itu, dua pekerjaan dengan gaji bulanan sama belum tentu menghasilkan total pendapatan tahunan yang sama.
Teknik Mesin Punya Median Rp9,45 Juta
Alumni Teknik Mesin memiliki median penghasilan sebesar Rp9,45 juta per bulan. Sebanyak 90 responden masuk dalam analisis penghasilan dari total 105 alumni dalam kelompok program tersebut.
Angka itu berada di bawah Teknik Kimia dan Teknik Elektro, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan median seluruh alumni ITB yang bekerja. Secara keseluruhan, Tracer Study ITB 2025 menunjukkan median penghasilan alumni yang bekerja sekitar Rp8,3 juta per bulan.
Sementara itu, rata-rata penghasilan seluruh responden berada di sekitar Rp10,17 juta per bulan. Selisih antara median dan rata-rata tersebut mengindikasikan adanya sebagian responden dengan penghasilan jauh lebih tinggi yang mendorong nilai rata-rata ke atas.
Laporan ITB bahkan menunjukkan terdapat responden dengan penghasilan lebih dari Rp100 juta per bulan. Dalam kondisi distribusi seperti ini, median lebih berguna untuk menggambarkan pendapatan tipikal karena tidak terlalu dipengaruhi nilai ekstrem.
Teknik Sipil Rp8,175 Juta per Bulan
Teknik Sipil memiliki median penghasilan sebesar Rp8,175 juta per bulan, terendah di antara empat jurusan yang dibandingkan. Kendati demikian, nominal tersebut masih relatif dekat dengan median penghasilan seluruh alumni ITB yang bekerja.
Sebanyak 100 responden Teknik Sipil masuk dalam analisis penghasilan dari total 109 alumni. Jumlah responden tersebut juga termasuk yang terbesar dibandingkan empat program studi dalam perbandingan ini.
Median yang lebih rendah tidak otomatis berarti prospek kerja Teknik Sipil lebih buruk. Keempat jurusan memiliki karakter industri, struktur upah, dan jalur karier yang berbeda sehingga perbandingan penghasilan perlu dibaca bersama konteks sektornya.
Teknik Sipil banyak masuk ke konstruksi, infrastruktur, properti, konsultan, perusahaan engineering, ataupun pemerintahan. Sementara itu, Teknik Mesin memiliki spektrum pekerjaan di manufaktur, otomotif, energi, desain mekanik, operasi, pemeliharaan, hingga industri berat.
Teknik Elektro dapat masuk ke energi, telekomunikasi, elektronika, otomasi, semikonduktor, hingga industri teknologi digital. Adapun Teknik Kimia banyak bersinggungan dengan industri proses, petrokimia, energi, material, pangan, farmasi, hingga manufaktur.
Perbedaan sektor tersebut dapat menghasilkan struktur penghasilan yang berbeda. Industri dengan margin tinggi, kebutuhan tenaga spesialis, atau struktur kompensasi berbasis bonus dapat membayar lebih tinggi dibandingkan sektor lain.
Perusahaan Multinasional Cenderung Beri Penghasilan Lebih Tinggi
Tracer Study ITB juga menunjukkan bahwa skala perusahaan berkaitan dengan penghasilan alumni. Alumni yang bekerja di perusahaan multinasional memiliki median penghasilan sekitar Rp10 juta per bulan, lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja di perusahaan nasional maupun lokal.
Median penghasilan alumni di perusahaan nasional berada di kisaran Rp8,24 juta per bulan. Sementara itu, alumni yang bekerja di perusahaan lokal memiliki median sekitar Rp6 juta per bulan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa jurusan bukan satu-satunya faktor yang berhubungan dengan pendapatan. Jenis perusahaan, sektor industri, lokasi kerja, jabatan, pengalaman, hingga kompetensi individu dapat menghasilkan perbedaan pendapatan yang besar meski seseorang berasal dari program studi yang sama.
Dua lulusan Teknik Elektro, misalnya, dapat memperoleh kompensasi berbeda jika satu bekerja di perusahaan multinasional pada sektor energi dan satu lainnya bekerja di perusahaan lokal. Pola serupa juga dapat terjadi pada Teknik Kimia, Mesin, ataupun Sipil.
Siapa Responden Tracer Study ITB 2025?
Tracer Study Sarjana ITB 2025 meneliti alumni sarjana angkatan 2018 dari berbagai program studi. Survei dilakukan beberapa tahun setelah responden mulai menempuh pendidikan tinggi, sehingga sebagian alumni telah memiliki pengalaman kerja ketika data dikumpulkan.
Data penghasilan dalam tulisan ini hanya menggunakan responden yang bekerja dan memiliki informasi pendapatan pada laporan. Karena itu, jumlah responden penghasilan tidak selalu sama dengan jumlah seluruh alumni pada masing-masing program studi.
Hal ini juga berarti angka dalam laporan sebaiknya tidak disebut sebagai gaji pertama lulusan. Istilah yang lebih tepat adalah median penghasilan alumni yang bekerja ketika tracer study dilakukan.
Perbedaan tersebut penting karena pengalaman kerja biasanya berpengaruh terhadap penghasilan. Alumni yang telah bekerja beberapa tahun dapat menerima gaji, bonus, dan tanggung jawab yang berbeda dibandingkan fresh graduate ketika pertama kali masuk pasar kerja.
Jadi, Jurusan Teknik Mana yang Gajinya Paling Tinggi?
Jika hanya menggunakan median penghasilan dalam Tracer Study ITB 2025, Teknik Kimia menjadi yang tertinggi di antara empat jurusan yang dibandingkan, yakni Rp12 juta per bulan. Teknik Elektro menyusul dengan Rp11 juta, Teknik Mesin Rp9,45 juta, dan Teknik Sipil Rp8,175 juta.
Namun, perbandingan tersebut hanya menggambarkan alumni ITB angkatan yang menjadi responden survei. Angka itu tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh lulusan Teknik Kimia di Indonesia pasti memperoleh penghasilan lebih tinggi daripada lulusan Elektro, Mesin, ataupun Sipil.
Kampus, sektor industri, lokasi kerja, jenis perusahaan, pengalaman, hingga kemampuan individu dapat membentuk pola penghasilan yang berbeda. Bahkan dalam satu program studi, jarak pendapatan antaralumni dapat sangat lebar.
Bagi calon mahasiswa, data tracer study lebih tepat digunakan sebagai gambaran hasil lulusan daripada sebagai janji pendapatan setelah lulus. Minat terhadap bidang, kemampuan akademik, karakter pekerjaan yang diinginkan, serta prospek industri tetap perlu menjadi dasar utama ketika memilih program studi. (RK/D-1)
Baca: Gaji Tinggi atau Cepat Bekerja, Mana Keunggulan Lulusan UI, UGM, ITB, dan IPB?













