Wacana pengenaan pungutan terhadap kapal yang melintasi Selat Malaka memicu perhatian negara-negara di kawasan. Usulan yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa itu dinilai sensitif karena berkaitan dengan jalur pelayaran internasional yang memiliki peran vital dalam perdagangan global.
Di tengah polemik tersebut, data menunjukkan dominasi Selat Malaka dalam peta perdagangan maritim dunia. Laporan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis pada 22 April 2026 mencatat, selat ini memiliki pangsa perdagangan sebesar 21,6%, tertinggi dibandingkan jalur laut strategis lainnya.
Angka tersebut menempatkan Selat Malaka di atas Selat Taiwan yang memiliki pangsa perdagangan maritim sebesar 21,2%. Sementara itu, Selat Gibraltar berada di posisi berikutnya dengan 18,1%, diikuti Selat Bab el-Mandeb sebesar 16,5%.
Terusan Suez dan Selat Dover juga mencatat kontribusi yang cukup tinggi, masing-masing sebesar 16,4% dan 16,3%. Di bawahnya, Selat Korea menyumbang 10,6% dari total perdagangan maritim global.
Adapun Selat Hormuz, yang selama ini dikenal sebagai jalur utama distribusi energi dunia, memiliki pangsa lebih kecil, yakni 7,9%. Angka ini berada di bawah Terusan Panama sebesar 6,7% serta dua jalur lain, Selat Tsugaru (5,2%) dan Selat Bohai (5,1%).
Besarnya kontribusi Selat Malaka menjadi latar penting dalam merespons wacana kebijakan yang berpotensi memengaruhi lalu lintas pelayaran. Jalur ini tidak hanya krusial bagi negara-negara Asia Tenggara, tetapi juga menjadi salah satu titik utama distribusi barang secara global.
Sejalan dengan itu, Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan menegaskan bahwa pengelolaan Selat Malaka tidak dapat dilakukan secara sepihak. Ia menyebut negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Thailand selama ini mengedepankan pendekatan berbasis konsensus.
Kerja sama tersebut juga diwujudkan melalui patroli bersama guna menjaga keamanan jalur pelayaran. Upaya ini dilakukan untuk memastikan stabilitas kawasan sekaligus menjaga kelancaran arus perdagangan internasional. (RK/D-1)
Pangsa Perdagangan Maritim Global pada Sejumlah Jalur Strategis Dunia per 22 April 2026
- Selat Malaka: 21,6%
- Selat Taiwan: 21,2%
- Selat Gibraltar: 18,1%
- Selat Bab el-Mandeb: 16,5%
- Terusan Suez: 16,4%
- Selat Dover: 16,3%
- Selat Korea: 10,6%
- Selat Hormuz: 7,9%
- Terusan Panama: 6,7%
- Selat Tsugaru: 5,2%
- Selat Bohai: 5,1%
(Baca: Dampak Penutupan Selat Hormuz: Guncangan Ekonomi Global dan Indonesia)













