Spanyol lebih diunggulkan ketika menghadapi Argentina pada final Piala Dunia 2026 di New York/New Jersey Stadium, New Jersey, Senin (20/7) pukul 02.00 WIB. Berdasarkan data Opta 17 Juli 2026, peluang kemenangan La Roja mencapai 59,46%, sedangkan Argentina sebesar 40,54%.
Prediksi tersebut sejalan dengan penampilan Spanyol sepanjang turnamen. Tim asuhan Luis de la Fuente tidak hanya dominan dalam penguasaan bola, tetapi juga memiliki struktur pertahanan paling kukuh. Spanyol mencatatkan rata-rata penguasaan bola sebesar 58%, menghasilkan 120 tembakan, serta baru kebobolan satu gol.
La Roja juga telah membukukan enam laga tanpa kebobolan. Pertahanan itu dibangun melalui jarak antarlini yang rapat dan kemampuan merebut kembali bola sesaat setelah kehilangan penguasaan. Dengan cara tersebut, Spanyol dapat mengendalikan pertandingan sekaligus membatasi kesempatan lawan melakukan serangan balik.
Namun, dominasi permainan belum tentu menghasilkan kemenangan. Spanyol mencetak 13 gol dengan tingkat konversi peluang sebesar 11%. Argentina justru lebih tajam dengan torehan 19 gol dan tingkat konversi mencapai 17%.
Perbedaan itu memperlihatkan bahwa Argentina tidak membutuhkan banyak kesempatan untuk mencetak gol. Tim asuhan Lionel Scaloni dapat bertahan dalam periode panjang, menunggu kesalahan posisi lawan, kemudian menyerang ruang yang ditinggalkan pemain Spanyol.
Messi Menjadi Titik Ujian
Lionel Messi menjadi ancaman utama bagi pertahanan Spanyol. Ia telah menghasilkan delapan gol dan empat assist sepanjang turnamen. Dalam beberapa laga terakhir, Messi juga tidak hanya bertindak sebagai penyelesai serangan, tetapi menjadi pengatur permainan dari ruang di antara lini tengah dan pertahanan lawan.
Karena itu, Spanyol tidak cukup hanya menjaga Messi secara individual. Penjagaan satu lawan satu justru berpotensi menarik pemain keluar dari posisinya dan membuka ruang bagi Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, ataupun penyerang Argentina.
Spanyol perlu memutus aliran bola menuju Messi sejak awal. Rodri akan memegang peran penting untuk menutup ruang di depan bek tengah, sementara pemain depan La Roja harus menekan pengumpan Argentina agar tidak leluasa mengirim bola vertikal.
Di sisi lain, Argentina kemungkinan membiarkan Spanyol lebih banyak menguasai bola. Albiceleste dapat membentuk blok pertahanan yang rapat, kemudian menyerang ruang di belakang garis pertahanan La Roja melalui Messi, Julian Alvarez, atau Lautaro Martinez.
Pilihan penyerang juga akan menentukan pendekatan Argentina. Alvarez menawarkan tekanan tanpa bola dan pergerakan yang dapat mengganggu pembangunan serangan Spanyol. Adapun Lautaro memiliki penyelesaian akhir lebih tajam, terutama ketika pertandingan mulai terbuka.
Gol Pertama Akan Menentukan
Gol pertama berpotensi menentukan arah final. Jika Spanyol mencetak gol lebih dahulu, mereka dapat mengendalikan tempo dan memaksa Argentina keluar dari struktur pertahanannya. Situasi itu akan membuka ruang bagi pemain sayap La Roja.
Sebaliknya, apabila Argentina unggul lebih dulu, Spanyol harus menempatkan lebih banyak pemain di area serang. Kondisi tersebut dapat membuka ruang transisi yang dibutuhkan Messi dan lini depan Albiceleste.
Secara permainan, Spanyol memiliki struktur yang lebih lengkap. La Roja mampu menguasai bola, menjaga keseimbangan ketika menyerang, dan membatasi peluang lawan. Karena itu, peluang kemenangan sebesar 59,46 persen cukup beralasan.
Meski demikian, Argentina memiliki pengalaman, ketajaman, dan kemampuan memenangi pertandingan tanpa harus mendominasi permainan. Semakin terbuka dan tidak terstruktur pertandingan berjalan, semakin besar pula peluang Albiceleste.
Spanyol diprediksi memenangi pertandingan dengan selisih tipis. Namun, mereka harus menjaga final tetap berjalan dalam tempo yang dapat dikendalikan. Satu kehilangan bola di area tengah atau keterlambatan menutup Messi dapat mengubah hasil pertandingan. (RK/D-1)
Baca: 10 Gol Tercepat di Piala Dunia, Rekor Hakan Sukur yang Belum Terpecahkan













