Kegiatan sosialisasi dan simulasi gempa bumi menjadi salah satu pendekatan pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah. Hal ini tercermin dalam kegiatan bertajuk “Siaga Gempa: Selamatkan Diri, Bantu Sesama” yang dilaksanakan di SMK Negeri 7 Semarang pada 4 Maret 2026.
Program ini melibatkan siswa kelas X TO 1 dan X PPLG 3, dengan tujuan utama memperkuat pemahaman sekaligus keterampilan praktis peserta didik dalam menghadapi situasi darurat. Kegiatan ini merupakan bagian dari program magang mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang berfokus pada edukasi mitigasi bencana di lingkungan pendidikan.
Secara akademik, kegiatan ini mengintegrasikan aspek kognitif dan psikomotorik dalam pembelajaran kebencanaan. Siswa tidak hanya memperoleh materi dasar terkait gempa bumi—mulai dari definisi, penyebab, hingga potensi dampaknya—tetapi juga dibekali dengan prosedur mitigasi yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa terjadi.
Simulasi menjadi komponen kunci dalam kegiatan ini. Setelah sesi penyampaian materi, seluruh peserta terlibat dalam praktik langsung melalui skenario gempa. Siswa dilatih melakukan teknik drop, cover, and hold sebagai langkah perlindungan diri, serta melakukan evakuasi menuju titik kumpul dengan prosedur yang aman dan terstruktur. Pendekatan ini penting untuk membangun respons refleks yang cepat dan tepat saat terjadi bencana nyata.
Ketua pelaksana kegiatan, Dyan Ayu Kusumaningtyas, menegaskan bahwa tujuan utama program ini adalah menjembatani kesenjangan antara pengetahuan teoritis dan praktik lapangan. “Melalui sosialisasi dan simulasi ini, diharapkan siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan langkah-langkah yang tepat saat terjadi gempa bumi,” ujarnya.
Dari perspektif peserta, kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap kesiapan mental. Salah satu siswa menyatakan bahwa simulasi tersebut membantu meningkatkan pemahaman sekaligus mengurangi potensi kepanikan saat menghadapi gempa. “Kegiatan ini membuat kami lebih paham dan siap menghadapi gempa bumi, sehingga tidak panik jika terjadi bencana,” ungkapnya.
Secara lebih luas, kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan di sekolah tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya sistematis dalam membangun budaya sadar risiko. Dengan pendekatan berbasis praktik, siswa diharapkan memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik, sekaligus mampu berkontribusi dalam menjaga keselamatan diri dan lingkungan sekitarnya. (RK/D-1)
(Baca: PTN dengan Peminat Terbanyak pada SNBP 2026, UPI dan Unesa Pimpin Daftar)
Penulis: Dyan Ayu Kusumaningtyas
Editor: Raka Maheswara









