Dataloka.id — Jurusan dengan penghasilan alumni tinggi belum tentu mudah dimasuki melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes atau SNBT. Di Institut Teknologi Bandung (ITB), beberapa program dengan median penghasilan tinggi berada di fakultas atau sekolah yang juga diminati ribuan peserta.
Tracer Study Sarjana ITB 2025 menunjukkan Teknik Perminyakan memiliki median penghasilan sekitar Rp13 juta per bulan. Teknik Kimia berada di Rp12 juta, Teknik Elektro Rp11 juta, Teknik Mesin Rp9,45 juta, dan Teknik Sipil Rp8,175 juta.
Namun, data penerimaan ITB perlu dibaca pada level fakultas atau sekolah karena peserta SNBT tidak selalu masuk langsung ke program studi. Karena itu, tulisan ini menghubungkan prodi dengan rumpun penerimaan yang menaunginya dan tidak menyebut rasio tersebut sebagai peluang lolos prodi.
Gaji Alumni dan Persaingan Masuk
| Program studi | Median penghasilan | Rumpun SNBT | Peminat | Kursi/diterima |
|---|---|---|---|---|
| Teknik Perminyakan | Rp13 juta | FTTM | 4.789 | 115 |
| Teknik Kimia | Rp12 juta | FTI-SP | 1.485* | 105* |
| Teknik Elektro | Rp11 juta | STEI-R | 1.802* | 75* |
| Teknik Mesin | Rp9,45 juta | FTMD | 2.586* | 100* |
| Teknik Sipil | Rp8,175 juta | FTSL-ISLK | 1.554* | 90* |
Catatan: FTTM memakai peminat dan peserta diterima pada hasil SNBT 2026. Tanda * menggunakan peminat 2025 dan daya tampung SNBT 2026 yang ditampilkan SNPMB, sehingga tidak boleh disebut acceptance rate aktual 2026.
Teknik Perminyakan Paling Tinggi dari Sisi Median Penghasilan
Teknik Perminyakan memiliki median penghasilan Rp13 juta per bulan dalam Tracer Study ITB 2025. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara program studi sarjana ITB yang dibandingkan dalam data penghasilan.
Pada SNBT 2026, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan atau FTTM diminati 4.789 peserta dan menerima 115 orang. Rasio sederhananya sekitar 2,4 persen, tetapi angka ini menggambarkan persaingan masuk fakultas dan bukan Teknik Perminyakan secara terpisah.
FTTM juga menaungi bidang lain sehingga satu peserta yang diterima belum otomatis menjadi mahasiswa Teknik Perminyakan sejak awal. Mekanisme penempatan program studi ITB perlu dibaca terpisah dari hasil seleksi masuk.
Teknik Kimia Rp12 Juta, Rumpun Masuknya juga Ketat
Median penghasilan Teknik Kimia mencapai Rp12 juta per bulan. Program ini berada di rumpun FTI Sistem dan Proses atau FTI-SP pada skema penerimaan yang digunakan untuk membandingkan data.
Peminat historis FTI-SP mencapai 1.485 orang, sedangkan daya tampung SNBT 2026 sebanyak 105 kursi. Perbandingan sederhana menghasilkan rasio sekitar 7,07 persen dari peminat tahun sebelumnya.
Rasio tersebut lebih longgar dibandingkan FTMD dan STEI-R dalam data yang sama. Namun, angka tetap bukan peluang individu karena jumlah peminat 2026 dapat berubah dan seleksi ditentukan oleh performa peserta.
Teknik Elektro Punya Gaji Tinggi dan Rumpun Kompetitif
Teknik Elektro memiliki median penghasilan sekitar Rp11 juta per bulan. Program ini berada di STEI-Rekayasa bersama sejumlah program teknik elektro dan teknologi terkait.
STEI-R memiliki 1.802 peminat historis dan daya tampung 75 kursi pada SNBT 2026. Rasio sederhananya sekitar 4,16 persen atau kira-kira satu kursi untuk 24 peminat tahun sebelumnya.
Persaingan yang ketat tidak otomatis terjadi karena gaji lulusan. Reputasi kampus, minat pada teknologi, pilihan program, dan strategi peserta juga ikut membentuk jumlah peminat.
Teknik Mesin Menjadi Salah Satu Rumpun Paling Ketat
Median penghasilan Teknik Mesin berada di sekitar Rp9,45 juta per bulan. Dari sisi penerimaan, FTMD memiliki 2.586 peminat historis dengan daya tampung 100 kursi.
Rasio sederhananya sekitar 3,87 persen dan menjadi salah satu yang paling ketat dalam kelompok yang dibandingkan. FTMD juga menaungi Teknik Dirgantara dan Teknik Material sehingga data tetap berada pada level fakultas.
Teknik Sipil Punya Median Rp8,175 Juta
Teknik Sipil memiliki median penghasilan sekitar Rp8,175 juta per bulan. Rumpun FTSL-ISLK memiliki 1.554 peminat historis dan daya tampung 90 kursi.
Rasio sederhananya sekitar 5,79 persen. Posisi ini berada di antara FTI-SP dan STEI-R jika hanya menggunakan perbandingan peminat tahun sebelumnya terhadap kuota 2026.
Apakah Gaji Tinggi Membuat Jurusan Lebih Sulit Ditembus?
Data ini belum cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat. Teknik Perminyakan memang memiliki median penghasilan tertinggi dan FTTM sangat kompetitif, tetapi rumpun Teknik Mesin justru lebih ketat daripada beberapa program dengan median penghasilan lebih tinggi.
Keketatan dipengaruhi banyak faktor selain pendapatan, termasuk reputasi bidang, jumlah kursi, tren industri, lokasi kampus, dan strategi calon mahasiswa. Karena itu, gaji dan persaingan masuk sebaiknya dibaca sebagai dua indikator yang berdampingan.
Jurusan Bergaji Tinggi Mana yang Paling Sulit Masuk?
Dalam kelompok yang dibandingkan, FTTM yang menaungi Teknik Perminyakan sangat kompetitif pada hasil SNBT 2026, sedangkan FTMD yang menaungi Teknik Mesin memiliki rasio kuota terhadap peminat historis sekitar 3,87 persen. Namun, keduanya tidak dapat disamakan karena sumber peminat dan definisi datanya berbeda.
Kesimpulan yang aman adalah beberapa jurusan bergaji tinggi ITB memang berada pada rumpun masuk yang ketat. Calon mahasiswa tetap perlu melihat mekanisme penerimaan fakultas, bukan hanya nama prodi dan angka gaji. (RK/D-1)
Baca: Jurusan ITB dengan Gaji Lulusan Tertinggi 2025, Teknik Perminyakan Capai Rp13 Juta














Comments 1