Dataloka.id — Gaji tinggi kerap menjadi salah satu pertimbangan calon mahasiswa ketika memilih jurusan. Namun, program studi dengan prospek penghasilan menarik belum tentu memiliki tingkat persaingan masuk yang sama.
Tracer Study ITB 2025 menunjukkan ada delapan program studi dengan median penghasilan alumni yang bekerja minimal Rp10 juta per bulan. Teknik Perminyakan berada di posisi teratas dengan median Rp13 juta, disusul Teknik Telekomunikasi Rp12,5 juta dan Teknik Kimia Rp12 juta.
Teknik Informatika memiliki median Rp11,04 juta, sedangkan Teknik Elektro Rp11 juta. Sistem dan Teknologi Informasi berada di Rp10,4 juta, Teknik Pertambangan Rp10,125 juta, dan Teknik Metalurgi tepat Rp10 juta per bulan.
Menariknya, delapan jurusan tersebut hanya tersebar dalam empat rumpun penerimaan ITB melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), yakni FTTM, STEI-Komputasi, STEI-Rekayasa, serta FTI-Sistem dan Proses. Dari empat rumpun itu, FTI-SP menjadi yang paling longgar jika dibandingkan menggunakan peminat 2025 dan daya tampung SNBT 2026.
Teknik Kimia Rp12 Juta, Rumpunnya Paling Longgar
Teknik Kimia merupakan satu-satunya jurusan bergaji minimal Rp10 juta dalam kelompok FTI-Sistem dan Proses atau FTI-SP. Median penghasilan alumninya mencapai Rp12 juta per bulan berdasarkan Tracer Study ITB 2025.
Data SNPMB menunjukkan FTI-SP memiliki 1.485 peminat pada SNBT 2025. Daya tampung SNBT 2026 mencapai 105 kursi.
Perbandingan tersebut menghasilkan sekitar 14,14 peminat untuk setiap kursi. Angka ini menjadi rasio terendah di antara empat rumpun yang menaungi seluruh jurusan ITB dengan median gaji minimal Rp10 juta.
Berikut Perbandingannya
| Rumpun SNBT ITB | Jurusan Bergaji ≥ Rp10 Juta | Median Gaji | Peminat 2025 | Daya Tampung 2026 | Peminat per Kursi |
|---|---|---|---|---|---|
| FTI-Sistem dan Proses | Teknik Kimia | Rp12 juta | 1.485 | 105 | 14,14 |
| STEI-Rekayasa | Teknik Telekomunikasi; Teknik Elektro | Rp12,5 juta; Rp11 juta | 1.802 | 75 | 24,03 |
| FTTM | Teknik Perminyakan; Teknik Pertambangan; Teknik Metalurgi | Rp13 juta; Rp10,125 juta; Rp10 juta | 4.975 | 115 | 43,26 |
| STEI-Komputasi | Teknik Informatika; Sistem dan Teknologi Informasi | Rp11,04 juta; Rp10,4 juta | 3.526 | 67 | 52,63 |
Sumber: Satu Data ITB dan SNPMB, diolah Dataloka.id.
Rasio pada tabel bukan tingkat kelulusan aktual SNBT 2026. SNPMB menampilkan peminat tahun sebelumnya sebagai data historis yang disandingkan dengan daya tampung tahun berikutnya, sehingga angka tersebut digunakan sebagai indikator tingkat persaingan, bukan acceptance rate resmi.
STEI-Rekayasa sekitar 24 Peminat per Kursi
Posisi berikutnya ditempati STEI-Rekayasa atau STEI-R. Rumpun ini menaungi dua jurusan dengan median penghasilan di atas Rp10 juta, yakni Teknik Telekomunikasi dan Teknik Elektro.
Teknik Telekomunikasi memiliki median penghasilan Rp12,5 juta per bulan. Nilainya menjadi yang tertinggi kedua di ITB, hanya di bawah Teknik Perminyakan.
Teknik Elektro berada di Rp11 juta per bulan. Dengan demikian, STEI-R memiliki dua program dengan median penghasilan relatif tinggi sekaligus rasio persaingan yang lebih rendah dibandingkan FTTM dan STEI-Komputasi.
Peminat STEI-R pada SNBT 2025 sebanyak 1.802 orang. Dengan daya tampung SNBT 2026 sebanyak 75 kursi, terdapat sekitar 24,03 peminat per kursi.
Gaji Tertinggi justru Berada di Rumpun yang Jauh Lebih Ketat
Teknik Perminyakan mempunyai median penghasilan tertinggi dalam Tracer Study ITB 2025, yakni Rp13 juta per bulan. Program ini berada di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan atau FTTM.
FTTM juga menaungi Teknik Pertambangan dengan median penghasilan Rp10,125 juta dan Teknik Metalurgi Rp10 juta. Artinya, tiga dari delapan jurusan bergaji minimal Rp10 juta berada dalam satu pintu masuk yang sama.
Namun, persaingannya jauh lebih tinggi dibandingkan FTI-SP dan STEI-R. FTTM memiliki 4.975 peminat pada SNBT 2025 dengan daya tampung 115 kursi pada 2026.
Rasionya sekitar 43,26 peminat per kursi. Dengan kata lain, indikator persaingannya lebih dari tiga kali rasio FTI-SP meski sama-sama menaungi jurusan dengan median penghasilan tinggi.
Informatika dan STI Ada di Rumpun Paling Ketat
Persaingan paling tinggi dalam kelompok ini terdapat pada STEI-Komputasi atau STEI-K. Rumpun tersebut menaungi Teknik Informatika serta Sistem dan Teknologi Informasi.
Median penghasilan alumni Teknik Informatika mencapai Rp11,04 juta per bulan. Sementara itu, Sistem dan Teknologi Informasi memiliki median Rp10,4 juta.
STEI-K memperoleh 3.526 peminat pada SNBT 2025. Daya tampung SNBT 2026 hanya 67 kursi, sehingga rasio sederhananya mencapai sekitar 52,63 peminat per kursi.
Angka itu sekitar 3,7 kali lebih tinggi dibandingkan FTI-SP. Jika hanya menggunakan rasio peminat historis terhadap kursi, STEI-K menjadi pintu paling ketat di antara rumpun yang menaungi delapan jurusan dengan median gaji minimal Rp10 juta.
Mengapa Data Masuknya Pakai Rumpun, bukan Jurusan?
Sistem penerimaan ITB berbeda dengan banyak perguruan tinggi lain. Pada SNBT, calon mahasiswa pada umumnya memilih fakultas, sekolah, atau rumpun keilmuan, bukan langsung program studi individual.
Karena itu, tidak tepat menyebut Teknik Kimia memiliki 1.485 peminat atau Teknik Informatika memiliki 3.526 peminat. Angka tersebut merupakan peminat rumpun yang menaungi beberapa program studi.
FTI-SP, misalnya, tidak hanya menaungi Teknik Kimia. Rumpun tersebut juga mencakup Teknik Fisika, Teknik Pangan, serta Teknik Bioenergi dan Kemurgi.
Hal serupa berlaku pada STEI-R, FTTM, dan STEI-K. Rasio dalam tulisan ini karena itu menggambarkan tingkat persaingan pintu masuk menuju rumpun tempat jurusan bergaji tinggi berada, bukan peluang pasti untuk mendapatkan program studi tersebut setelah diterima di ITB.
Delapan Jurusan dengan Gaji Minimal Rp10 Juta
Tracer Study ITB 2025 menyasar alumni sarjana angkatan 2018. Dari 3.664 alumni yang menjadi sasaran survei, sebanyak 3.274 orang berpartisipasi atau sekitar 90 persen.
Median penghasilan seluruh alumni yang bekerja mencapai Rp8,3 juta per bulan. Delapan program studi berada di atas atau sama dengan Rp10 juta.
| Peringkat | Program Studi | Median Penghasilan per Bulan | Responden Bekerja |
|---|---|---|---|
| 1 | Teknik Perminyakan | Rp13.000.000 | 71 |
| 2 | Teknik Telekomunikasi | Rp12.500.000 | 26 |
| 3 | Teknik Kimia | Rp12.000.000 | 100 |
| 4 | Teknik Informatika | Rp11.040.000 | 78 |
| 5 | Teknik Elektro | Rp11.000.000 | 51 |
| 6 | Sistem dan Teknologi Informasi | Rp10.400.000 | 32 |
| 7 | Teknik Pertambangan | Rp10.125.000 | 70 |
| 8 | Teknik Metalurgi | Rp10.000.000 | 52 |
Sumber: Tracer Study ITB 2025.
Median tidak berarti setiap lulusan memperoleh penghasilan yang sama. Angka tersebut merupakan nilai tengah penghasilan responden yang bekerja pada saat survei dilakukan.
Penghasilan juga dapat dipengaruhi jenis perusahaan, posisi, lokasi kerja, pengalaman, dan sektor industri. Karena itu, angka gaji sebaiknya digunakan sebagai gambaran outcome alumni, bukan jaminan gaji awal setiap lulusan.
Jadi, Jurusan ITB Bergaji di Atas Rp10 Juta Mana yang Paling Mudah Ditembus?
Jika ukuran yang digunakan adalah perbandingan peminat SNBT 2025 dengan daya tampung 2026, FTI-SP menjadi rumpun dengan indikasi persaingan paling rendah. Rumpun yang menaungi Teknik Kimia itu memiliki sekitar 14 peminat per kursi.
STEI-R berada setelahnya dengan sekitar 24 peminat per kursi. Rumpun ini menaungi Teknik Telekomunikasi dan Teknik Elektro yang masing-masing memiliki median penghasilan Rp12,5 juta dan Rp11 juta per bulan.
Sebaliknya, FTTM memiliki sekitar 43 peminat per kursi dan STEI-K sekitar 53 peminat per kursi. Artinya, jurusan dengan median gaji paling tinggi tidak otomatis berada pada pintu masuk yang paling longgar.
Bagi calon mahasiswa, data tersebut dapat dipakai sebagai salah satu bahan pertimbangan. Pilihan jurusan tetap perlu mempertimbangkan minat akademik, kemampuan, kurikulum, biaya, peluang karier, serta mekanisme penempatan program studi di ITB. (NKR/D-1)
Baca: Jurusan Bergaji Tinggi di ITB, Seberapa Sulit Masuk lewat SNBT?












