Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan alat kesehatan dari luar negeri masih terlihat kuat dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai impor alat kesehatan cenderung meningkat sepanjang 2021-2025, meski sempat mengalami penurunan pada 2024.
Pada 2021, nilai impor alat kesehatan tercatat sebesar US$645,50 juta. Angka tersebut kemudian naik menjadi US$719,79 juta pada 2022 dan kembali meningkat menjadi US$758,76 juta pada 2023.
View this post on Instagram
Setelah mengalami koreksi menjadi US$729,47 juta pada 2024, impor alat kesehatan kembali tumbuh menjadi US$738,66 juta pada 2025. Secara kumulatif, nilai impor alat kesehatan pada 2025 lebih tinggi sekitar 14,4% dibandingkan 2021.
Tren ini menunjukkan bahwa kebutuhan alat kesehatan nasional masih banyak dipenuhi melalui produk impor, meskipun dalam dua tahun terakhir laju pertumbuhannya cenderung melambat.
Struktur negara asal impor juga memperlihatkan konsentrasi yang cukup tinggi pada sejumlah pemasok utama. China menjadi mitra dagang terbesar dengan nilai impor mencapai US$198,05 juta pada 2025.
Dominasi China mencerminkan peran penting negara tersebut dalam rantai pasok alat kesehatan global. Selain menjadi basis manufaktur berbagai perangkat medis, China juga memiliki keunggulan skala produksi yang memungkinkan produk-produknya menjangkau banyak pasar, termasuk Indonesia.
Di bawah China, Amerika Serikat menempati posisi kedua dengan nilai impor sebesar US$107,05 juta. Sementara itu, Jerman berada di urutan ketiga dengan nilai US$80,05 juta.
Pengaruh kawasan Asia Timur juga masih terlihat. Jepang memasok alat kesehatan senilai US$47,14 juta, sedangkan Korea Selatan mencapai US$39,06 juta.
Dari kawasan Asia Tenggara, Malaysia dan Singapura turut berkontribusi sebagai pemasok. Nilai impor dari Malaysia tercatat sebesar US$25,35 juta, sementara Singapura mencapai US$18,96 juta.
Di sisi lain, BPS mencatat Oman sebagai negara dengan nilai impor alat kesehatan paling rendah di antara 84 negara asal impor yang tercatat pada 2025. Nilainya hanya mencapai US$7 juta. (RK/D-1)
Baca: Biaya Kesehatan di Indonesia 2024, Kalimantan Tengah Tertinggi (Wilayah Perkotaan)












