Marketplace lokal Toco menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil, tidak hanya dari sisi penjual, tetapi juga tingkat kepuasan pembeli. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kebijakan biaya layanan tetap sebesar Rp2.000 per transaksi yang dibebankan kepada pembeli.
Berdasarkan wawancara dengan sejumlah pengguna aktif, skema biaya tetap tersebut dinilai lebih ringan, transparan, sekaligus memberikan dampak positif bagi ekosistem UMKM. Berbeda dengan sejumlah platform lain yang menerapkan biaya administrasi berbasis persentase, Toco memilih pendekatan biaya tetap. Model ini dinilai lebih sederhana dan mudah dipahami oleh pengguna.
Ronaldo, pelanggan toko Cryotech Card Company, mengatakan kebijakan tersebut tetap terasa ringan meski pada awalnya tidak menyadari adanya biaya tambahan. “Untuk saya ini termasuk ringan, dan saya merasa lebih mendukung UMKM dengan sistem seperti ini,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Dea Putri, pelanggan kategori fesyen. Ia mengaku sudah mengetahui skema biaya tersebut sejak awal dan menilainya lebih ringan dibanding platform lain. “Terasa lebih ringan, dan tetap sepadan dengan pengalaman belanja yang didapat,” jelasnya.
Sementara itu, James Daniel Pranata, buyer aktif sekaligus seller di Toco, menilai skema biaya tetap menjadi salah satu keunggulan platform. “Lebih ringan, dan jelas mendukung ekosistem penjual. Saya sendiri sudah melakukan sekitar 9 kali transaksi dengan nilai total sekitar puluhan juta rupiah,” ungkapnya.
Dari sisi transparansi, sebagian pengguna menilai informasi biaya sudah cukup jelas, meski ada yang mengaku tidak terlalu memperhatikan saat proses transaksi. Namun, hal tersebut tidak mengganggu pengalaman berbelanja secara keseluruhan.
Ahmad Zaki, pembeli kategori aksesori, menyebut dirinya tidak mempermasalahkan biaya tersebut. “Saya tidak terlalu aware karena memang tidak keberatan. Selama pengalaman belanja nyaman, itu sudah cukup,” katanya.
Menariknya, skema biaya tetap ini juga memunculkan pola belanja yang lebih efisien. Sejumlah pengguna cenderung menambah jumlah barang dalam satu transaksi untuk mengoptimalkan biaya yang dibayarkan.
Kategori produk yang dibeli di Toco terbilang beragam, mulai dari kebutuhan harian, produk fashion seperti tas wanita, hingga produk hobi seperti kartu koleksi dan aksesori airsoft. Untuk pengiriman, mayoritas pengguna masih mengandalkan layanan ekspedisi seperti JNE, POSAja, serta layanan instan seperti GoSend.
Secara keseluruhan, hasil wawancara menunjukkan bahwa biaya layanan Rp2.000 diterima dengan baik oleh pengguna. Skema ini juga memperkuat posisi Toco sebagai marketplace yang berpihak pada UMKM, seiring kebijakan 0% komisi untuk penjual.
Ke depan, Toco diharapkan dapat terus meningkatkan transparansi, pengalaman pengguna, serta memperluas ekosistem agar semakin banyak pelaku usaha dan pembeli yang merasakan manfaatnya.
Tentang Toco
Toco adalah marketplace berbasis komunitas yang didirikan oleh Arnold Sebastian Egg dan diluncurkan pada pertengahan Agustus 2024. Platform ini mengedepankan model bisnis yang berfokus pada keberpihakan kepada seller, terutama UMKM dan brand, melalui kebijakan 100% potongan dan bebas biaya komisi seumur hidup.
Tujuan utama Toco adalah menjadikan e-commerce sebagai infrastruktur yang efisien untuk mempercepat transaksi dan membantu pelaku usaha memaksimalkan keuntungan. Model ini dinilai mampu mendorong pertumbuhan transaksi secara signifikan.
Pada November 2025, Toco meraih penghargaan dari Marketeers Markplus sebagai Inspiring Ecommerce Enabler of The Year 2025 dalam ajang Marketeers SME Award. (ADV/NKR/D-1)
(Baca: Lonjakan Penjualan Seller Usai Lebaran, Marketplace Lokal Toco.id Kian Dilirik)













