Potensi invasi darat AS di Iran terus menguat seiring konflik yang telah memasuki bulan kedua. Pergerakan tambahan pasukan Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah menjadi sinyal bahwa opsi militer, termasuk operasi darat terbatas, mulai diperhitungkan secara serius.
Iran juga tampaknya mulai merespons situasi ini dengan mobilisasi sekitar satu juta pejuang. Selain itu, otoritas setempat juga mencatat lonjakan permintaan dari pemuda Iran. Mereka mendaftarkan diri melalui pusat-pusat Basij, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan Angkatan Darat untuk ikut serta dalam pertempuran.
Di tengah situasi tersebut, perbandingan kekuatan militer kedua negara kembali menjadi perhatian. Dari sisi anggaran, jarak antara Amerika Serikat dan Iran terlihat sangat lebar.
Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan, belanja militer Iran pada 2024 berada di kisaran US$7,89 miliar. Angka ini bergerak fluktuatif dalam satu dekade terakhir.
Meski sempat meningkat hingga 2017, anggaran tersebut kemudian turun pada 2018–2019 sebelum kembali naik secara bertahap hingga 2023, dan kembali melemah pada 2024.
Sebaliknya, Amerika Serikat mencatatkan anggaran militer yang nyaris tak tertandingi. Pada 2024, belanja militernya mencapai US$997,31 miliar dalam harga berlaku. Nilai ini menjadikan AS tetap berada di posisi teratas sebagai negara dengan anggaran pertahanan terbesar di dunia.
Tren dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa meski sempat mengalami penurunan, belanja militer AS secara umum tetap berada di level tinggi dan kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir hingga mencapai puncaknya pada 2024.
Namun, keunggulan anggaran tersebut tidak serta-merta menjadi penentu dalam skenario invasi darat. Dari sisi jumlah personel, Amerika Serikat memang unggul dengan sekitar 1,34 juta tentara aktif.
Kekuatan ini tersebar di berbagai matra, mulai dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, hingga Angkatan Udara, serta didukung oleh Korps Marinir, Penjaga Pantai, dan Angkatan Luar Angkasa. Selain itu, AS juga memiliki lebih dari 800.000 personel cadangan yang dapat dimobilisasi sewaktu-waktu.
Di sisi lain, Iran memiliki sekitar 610.000 personel militer aktif. Komposisinya didominasi oleh Angkatan Darat, disusul Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menjadi salah satu pilar utama pertahanan negara tersebut. Iran juga memiliki dukungan paramiliter serta cadangan militer yang jumlahnya ratusan ribu personel.
Meski secara jumlah berada di bawah Amerika Serikat, kekuatan Iran tidak hanya terletak pada angka. Sejumlah analis menilai bahwa potensi invasi darat AS di Iran tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran dan jumlah pasukan. Faktor topografi menjadi variabel kunci yang justru kerap disebut sebagai penghambat utama dalam skenario operasi darat.

Iran berdiri di atas dataran tinggi luas yang dikenal sebagai Iranian Plateau, dengan lanskap yang didominasi pegunungan besar. Di bagian barat, terdapat Pegunungan Zagros yang membentang panjang dan membentuk penghalang alami dari arah Irak. Sementara di bagian utara, Pegunungan Elburz menjadi benteng geografis.
Struktur pegunungan ini menciptakan medan tempur yang tidak mudah ditembus. Jalur pergerakan pasukan darat menjadi terbatas pada koridor tertentu, sehingga memperbesar risiko hambatan logistik dan memperlambat mobilisasi dalam skala besar.
Selain pegunungan, luas wilayah Iran yang mencapai sekitar 1,63 juta kilometer persegi juga menjadi faktor pembeda apabila dibandingkan dengan Irak dan Afghanistan, dua negara yang sebelumnya pernah menjadi lokasi invasi militer Amerika Serikat. Skala wilayah ini memberi ruang bagi Iran untuk menyebar infrastruktur militernya sekaligus menciptakan kedalaman strategis dalam pertahanan.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada daya tahan terhadap serangan. Penyebaran fasilitas militer dan nuklir di berbagai wilayah, termasuk kawasan pegunungan, membuat Iran tidak mudah dilumpuhkan hanya melalui serangan udara. Artinya, operasi darat—jika dilakukan—akan menghadapi kompleksitas medan sekaligus tekanan dari sistem pertahanan yang tersebar.
Dalam konteks ini, topografi tidak sekadar menjadi latar geografis, tetapi berfungsi sebagai pengganda kekuatan bagi Iran. Medan yang kompleks menciptakan tantangan operasional serius bagi pihak yang ingin melakukan invasi darat konvensional, terutama dalam menjaga jalur suplai dan konsistensi serangan di wilayah yang luas dan terfragmentasi. (RK/D-1)
(Baca: Peta Kekuatan Militer Timur Tengah 2025, Iran Terkuat, Konflik Regional Kian Memanas)













