The Military Balance 2025 yang dirilis oleh International Institute for Strategic Studies (IISS) menyoroti tren peningkatan anggaran militer negara-negara di seluruh dunia. Dalam lanskap geopolitik yang terus berubah, alokasi dana untuk sektor keamanan menjadi indikator penting bagi postur kekuatan dan prioritas strategis suatu negara.
Dalam laporan tersebut, anggaran militer global pada 2025 diperkirakan mencapai US$2,63 triliun, atau setara dengan Rp44.707 triliun. Angka ini mengalami peningkatan dari US$2,48 triliun pada 2024. Meskipun demikian, pertumbuhan ini tidak tersebar merata di semua kawasan.
Di puncak daftar, Amerika Serikat kembali menegaskan posisinya sebagai negara dengan anggaran militer terbesar. Alokasi dana yang mencapai US$921 miliar, atau setara dengan Rp15.656 triliun dengan kurs Rp17.000 per dolar AS. Angka ini, meski turun dari 2024, secara substansial melampaui negara-negara lain yang juga memiliki anggaran militer yang besar.
Mengikuti di posisi kedua adalah China, dengan anggaran militer sebesar US$251,3 miliar atau sekitar Rp4.272 triliun. Di tempat ketiga, Rusia mengalokasikan US$186,2 miliar, atau setara Rp3.165 triliun, untuk sektor militernya.
Dalam konteks Eropa, Jerman menonjol dengan anggaran militer sebesar US$107,3 miliar, atau sekitar Rp1.824 triliun. Britania Raya menyusul dengan alokasi US$94,3 miliar, setara Rp1.603 triliun, sementara Prancis menganggarkan US$70 miliar, atau Rp1.190 triliun, untuk memperkuat sektor militernya.
Selain kekuatan besar di Eropa, negara-negara di Asia dan Timur Tengah juga menunjukkan peningkatan anggaran militer yang signifikan. India mencatatkan pengeluaran sebesar US$78,3 miliar, setara Rp1.331 triliun. Arab Saudi tidak ketinggalan, mengalokasikan US$72,5 miliar, atau Rp1.232 triliun.
Perluasan daftar hingga 10 besar memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai negara-negara yang memprioritaskan pengeluaran militer. Jepang, dengan anggaran sebesar US$58,9 miliar (Rp1.001 triliun), menempatkan dirinya di urutan kesembilan. Sementara itu, Ukraina, yang menghadapi situasi keamanan yang kompleks, mengalokasikan US$44,4 miliar (Rp755 triliun) untuk militernya. (RK/D-1)
(Baca: Dampak Penutupan Selat Hormuz: Guncangan Ekonomi Global dan Indonesia)













