Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional 1.276 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keputusan yang diumumkan pada 16 September 2026 itu berkaitan dengan pemenuhan persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Sebagian besar dapur yang terkena penghentian sementara berada di Jawa, yakni 927 SPPG. Jumlah tersebut setara 72,6% dari seluruh SPPG yang disebut dalam rilis BGN. Sumatera mencatat 239 SPPG, sedangkan 110 lainnya berada di wilayah di luar Jawa dan Sumatera. BGN belum memberikan rincian per provinsi dalam rilis tersebut.
Dari sisi status sertifikasi, 821 SPPG masih dalam proses pendaftaran SLHS. Sebanyak 447 SPPG sudah mendaftar tetapi dinilai belum memenuhi syarat dan kelayakan, sementara status delapan SPPG lainnya belum terkonfirmasi. Dengan demikian, angka 1.276 tidak berarti seluruh dapur tersebut sudah mengalami insiden keracunan.
| Wilayah Menurut Pengelompokan BGN | Jumlah SPPG | Persentase |
|---|---|---|
| Jawa | 927 | 72,6% |
| Sumatera | 239 | 18,7% |
| Di luar Jawa dan Sumatera | 110 | 8,6% |
| Total | 1.276 | 100% |
Data per: 16 September 2026.
Mengapa Dapur Dihentikan?
Penghentian sementara dilakukan setelah pemantauan terhadap persyaratan higiene dan sanitasi. Menurut BGN, dapur yang memenuhi persyaratan SLHS dapat kembali beroperasi melalui mekanisme yang berlaku. BGN menyatakan layanan penerima manfaat akan dialihkan sementara ke SPPG terdekat yang telah memiliki SLHS dan kapasitas memadai.
BGN juga mengusulkan, belum menetapkan, penutupan permanen terhadap 654 SPPG kategori kritis apabila ketentuan tidak dipenuhi dalam batas waktu yang disebut dalam rilis 16 September. Status 654 SPPG itu perlu dicek lagi sebelum artikel diperbarui atau diterbitkan dengan klaim bahwa semuanya sudah ditutup.
Angka tersebut berbeda dari 504 dapur yang menurut BGN telah ditutup permanen hingga 10 Agustus 2026 karena dinilai tidak layak secara sanitasi. Rilis mengenai 504 dapur tidak menyediakan sebaran provinsi, sehingga belum dapat diketahui provinsi dengan penutupan permanen terbanyak.
Perkembangan terbaru: Pada 23 September, BGN mengumumkan penghentian permanen empat SPPG yang disebut satu per satu, masing-masing di Sumatera Utara, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Papua. Empat kasus ini punya daftar lokasi yang jelas, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan provinsi terbanyak dari keseluruhan dapur yang ditutup. (VN/D-1)
Baca: 512 Santri Sidoarjo Diduga Keracunan MBG, Jawa Tengah Punya Porsi Terbesar













