Universitas Gadjah Mada menjadi kampus Indonesia dengan skor keberlanjutan tertinggi dalam QS World University Rankings atau QS WUR 2027. UGM memperoleh skor 69,3 poin.
Universitas Indonesia menyusul dengan 68,4 poin, sedangkan Institut Teknologi Bandung menempati posisi ketiga dengan 65,9 poin.
Urutan tersebut berbeda dari peringkat keseluruhan QS WUR 2027 yang menempatkan UI sebagai kampus terbaik Indonesia. Keberlanjutan hanya menjadi satu dari sembilan indikator yang membentuk peringkat global.
UGM unggul tipis atas UI
Selisih skor keberlanjutan UGM dan UI hanya mencapai 0,9 poin. Namun, keduanya terpaut 21 posisi dalam peringkat indikator dunia.
UGM berada di urutan ke-406, sedangkan UI menempati posisi ke-427. Belum ada kampus Indonesia yang menembus kelompok 400 besar dunia dalam indikator tersebut.
Meski unggul dalam keberlanjutan, UGM masih berada di bawah UI pada peringkat keseluruhan. UI menempati posisi bersama ke-191 dunia, sementara UGM berada di peringkat bersama ke-206.
Perbedaan ini memperlihatkan bahwa keunggulan pada satu indikator belum tentu menghasilkan peringkat keseluruhan lebih tinggi.
Sembilan kampus berada di Pulau Jawa
Sebanyak sembilan dari 10 kampus dalam daftar berlokasi di Pulau Jawa. UGM, UI, ITB, IPB, Unpad, Unair, UB, Undip, dan ITS menjadi wakilnya.
Universitas Hasanuddin menjadi satu-satunya perguruan tinggi dari luar Pulau Jawa. Kampus asal Makassar tersebut melengkapi 10 besar dengan skor 54,4 poin.
Selisih skor antara UGM dan Unhas mencapai 14,9 poin. Adapun persaingan pada posisi kelima hingga ketujuh relatif rapat karena ketiga kampus hanya terpisah 0,6 poin.
Apa yang dinilai dalam indikator keberlanjutan?
QS tidak hanya melihat kondisi lingkungan atau luas ruang terbuka hijau. Indikator keberlanjutan mencakup faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG.
Penilaiannya antara lain mencakup proyek lingkungan di kampus, inisiatif keberagaman, tata kelola institusi, serta dampak penelitian terhadap 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Perguruan tinggi dinilai sebagai pusat pendidikan dan penelitian sekaligus pemberi kerja. Dengan demikian, istilah kampus berkelanjutan mempunyai cakupan lebih luas daripada kampus hijau.
Indikator tersebut mempunyai bobot 5 persen dalam QS WUR 2027. Bobotnya lebih kecil dibandingkan reputasi akademik sebesar 30 persen, sitasi per dosen 20 persen, dan reputasi pemberi kerja 15 persen.
Berbeda dari QS Sustainability Rankings
Daftar ini menggunakan skor indikator keberlanjutan yang menjadi bagian dari QS World University Rankings 2027. Pemeringkatan itu berbeda dari QS Sustainability Rankings yang diterbitkan sebagai produk tersendiri. Ruang lingkup, penghitungan, dan komponen penilaiannya tidak sepenuhnya sama.
Oleh karena itu, posisi universitas dalam kedua pemeringkatan dapat berbeda. Nama produk QS yang digunakan perlu diperhatikan saat membandingkan hasilnya. (NKR/D-1)
Pertanyaan yang sering diajukan
Kampus mana yang memiliki skor keberlanjutan tertinggi di Indonesia?
UGM berada di posisi pertama dengan skor 69,3 poin.
Mengapa UGM mengalahkan UI dalam daftar ini?
Daftar hanya menggunakan skor indikator keberlanjutan. Dalam peringkat keseluruhan QS WUR 2027, UI tetap berada di atas UGM.
Berapa bobot keberlanjutan dalam QS WUR?
Indikator keberlanjutan mempunyai bobot 5 persen terhadap peringkat keseluruhan.
Apakah keberlanjutan hanya menilai lingkungan kampus?
Tidak. Penilaiannya juga mencakup aspek sosial, tata kelola, keberagaman, dan dampak penelitian terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan.
Apakah daftar ini sama dengan QS Sustainability Rankings?
Tidak. Daftar ini berasal dari indikator keberlanjutan dalam QS WUR 2027.
Baca: 10 Kampus Indonesia dengan Lulusan Terbaik Versi QS WUR 2027, UI Teratas













