Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) mempunyai keunggulan berbeda dalam sembilan indikator QS World University Rankings (QS WUR) 2027.
UI berada di posisi terbaik pada empat indikator, yakni reputasi akademik, reputasi pemberi kerja, jaringan penelitian internasional, dan hasil kerja lulusan. UGM memimpin tiga indikator, sedangkan ITB unggul dalam dua indikator.
Secara keseluruhan, UI tetap menjadi kampus Indonesia dengan posisi tertinggi. UI berada di peringkat ke-191 dunia dengan skor 56,7 poin, disusul UGM di posisi ke-206 dengan skor 55 poin.
ITB menempati peringkat ke-287 dunia dengan skor 47,2 poin. Posisi ITB berada di bawah Universitas Airlangga yang menduduki urutan ke-276 dunia, tetapi tetap masuk dalam tiga kampus Indonesia dengan reputasi akademik tertinggi.
| Indikator | Bobot | UI | UGM | ITB | Skor Tertinggi |
|---|---|---|---|---|---|
| Reputasi akademik | 30% | 71,9 | 71,9 | 59,9 | UI* |
| Sitasi per dosen | 20% | 3,9 | 3,1 | 5,8 | ITB |
| Reputasi pemberi kerja | 15% | 87,4 | 81,8 | 76,2 | UI |
| Rasio dosen dan mahasiswa | 10% | 59,9 | 66,7 | 44,8 | UGM |
| Rasio dosen internasional | 5% | 88,4 | 76,1 | 88,7 | ITB |
| Rasio mahasiswa internasional | 5% | 10,3 | 11 | 4,4 | UGM |
| Jaringan penelitian internasional | 5% | 63,4 | 59,3 | 32,7 | UI |
| Hasil kerja lulusan | 5% | 81 | 68,5 | 64,1 | UI |
| Keberlanjutan | 5% | 68,4 | 69,3 | 65,9 | UGM |
*UI dan UGM sama-sama memperoleh skor 71,9 pada indikator reputasi akademik.
UI dan UGM sama-sama memperoleh skor 71,9 dalam reputasi akademik. Namun, peringkat indikator global menempatkan UI di posisi ke-130 dan UGM di urutan ke-131. Atas dasar urutan tersebut, UI berada satu tingkat lebih tinggi.
Jumlah indikator yang dimenangkan tidak langsung menentukan peringkat keseluruhan. Setiap indikator mempunyai bobot berbeda. Reputasi akademik, misalnya, menyumbang 30 persen, sedangkan sejumlah indikator lain masing-masing hanya sebesar 5 persen.
UI Unggul dalam Reputasi dan Hasil Lulusan
Kekuatan utama UI berada pada dua indikator reputasi yang mempunyai bobot gabungan 45 persen. Pada reputasi akademik, UI memperoleh skor 71,9 poin. Skor tersebut sama dengan UGM dan lebih tinggi 12 poin dibandingkan ITB.
UI juga memimpin reputasi pemberi kerja dengan skor 87,4 poin. UGM berada di posisi berikutnya dengan 81,8 poin, sedangkan ITB memperoleh 76,2 poin.
Keunggulan UI berlanjut pada indikator hasil kerja lulusan. Skornya mencapai 81 poin, lebih tinggi dibandingkan UGM sebesar 68,5 poin dan ITB sebesar 64,1 poin.
Indikator hasil kerja lulusan berbeda dari reputasi pemberi kerja. Reputasi pemberi kerja berasal dari penilaian perusahaan terhadap universitas dan lulusannya, sedangkan hasil kerja lulusan mempertimbangkan dampak alumni dan kinerja lulusan di dunia kerja.
UI turut memiliki skor jaringan penelitian internasional tertinggi di antara ketiganya. Indikator tersebut menilai keberagaman dan kesinambungan kerja sama penelitian dengan institusi dari negara lain.
UGM Unggul dalam Rasio Dosen dan Keberlanjutan
UGM mempunyai skor tertinggi dalam rasio dosen dan mahasiswa, rasio mahasiswa internasional, serta keberlanjutan. Skor rasio dosen dan mahasiswa UGM mencapai 66,7 poin. UI memperoleh 59,9 poin, sedangkan ITB berada di 44,8 poin.
Indikator tersebut digunakan QS untuk menggambarkan ketersediaan sumber daya pengajaran. Secara umum, jumlah dosen yang lebih memadai dibandingkan populasi mahasiswa dinilai dapat memperkuat akses terhadap pengajaran dan pendampingan akademik.
UGM juga mempunyai skor rasio mahasiswa internasional tertinggi di antara tiga kampus, yakni 11 poin. Meski demikian, skor ketiganya masih lebih rendah dibandingkan indikator rasio dosen internasional.
Dalam keberlanjutan, selisih ketiga kampus relatif sempit. UGM berada di posisi teratas dengan 69,3 poin, diikuti UI sebesar 68,4 poin dan ITB sebesar 65,9 poin.
ITB Memimpin Sitasi dan Dosen Internasional
ITB unggul dalam indikator sitasi per dosen dengan skor 5,8 poin. Skor tersebut berada di atas UI sebesar 3,9 poin dan UGM sebesar 3,1 poin.
Sitasi per dosen mengukur rata-rata jumlah sitasi publikasi ilmiah dengan mempertimbangkan jumlah tenaga akademik. Indikator ini tidak hanya melihat banyaknya publikasi, tetapi juga dampak penelitian yang dihasilkan.
QS melakukan normalisasi sitasi berdasarkan bidang ilmu karena pola publikasi dan jumlah rujukan berbeda pada setiap disiplin. Meski memimpin di antara ketiganya, skor sitasi per dosen ITB masih menjadi salah satu komponen yang menahan skor keseluruhan kampus Indonesia.
Keunggulan lain ITB terdapat pada rasio dosen internasional. ITB memperoleh skor 88,7 poin, hanya terpaut 0,3 poin dari UI. UGM berada di posisi berikutnya dengan skor 76,1 poin.
Mengapa UI Tetap Menjadi yang Terbaik?
UI memimpin indikator dengan bobot besar, terutama reputasi akademik dan reputasi pemberi kerja. Kedua indikator tersebut menyumbang 45 persen terhadap skor akhir QS WUR.
UI juga unggul dalam hasil kerja lulusan dan jaringan penelitian internasional. Kedua komponen ini menambah keunggulannya meskipun skor sitasi per dosennya berada di bawah ITB.
UGM mempunyai keunggulan pada pengalaman belajar, internasionalisasi mahasiswa, dan keberlanjutan. Namun, selisih skor reputasi pemberi kerja dan hasil kerja lulusan membuat skor akhirnya berada 1,7 poin di bawah UI.
Sementara itu, ITB mempunyai kekuatan pada dampak penelitian per dosen dan proporsi dosen internasional. Posisi akhirnya dipengaruhi skor rasio dosen dan mahasiswa, mahasiswa internasional, serta jaringan penelitian internasional yang lebih rendah.
Dengan demikian, jawaban mengenai kampus “terbaik” bergantung pada aspek yang digunakan. UI mempunyai posisi keseluruhan tertinggi, UGM lebih kuat pada rasio dosen dan keberlanjutan, sedangkan ITB memimpin sitasi per dosen serta rasio dosen internasional.
Bagaimana QS Menentukan Peringkat Universitas?
QS WUR 2027 menggunakan sembilan indikator dengan bobot yang berbeda. Reputasi akademik menjadi indikator terbesar dengan bobot 30 persen, diikuti sitasi per dosen sebesar 20 persen dan reputasi pemberi kerja sebesar 15 persen.
Rasio dosen dan mahasiswa mempunyai bobot 10 persen. Lima indikator lainnya—rasio dosen internasional, mahasiswa internasional, jaringan penelitian internasional, hasil kerja lulusan, dan keberlanjutan—masing-masing berbobot 5 persen.
Data reputasi berasal dari QS Global Academic Survey dan QS Global Employer Survey. Sementara itu, data penelitian menggunakan basis data Scopus, sedangkan beberapa indikator lain berasal dari data institusi dan sumber eksternal.
QS WUR 2027 memuat 1.504 perguruan tinggi dari 106 negara dan wilayah. Sebanyak 20 universitas di antaranya berasal dari Indonesia. (RK/D-1)
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mana yang terbaik antara UI, UGM, dan ITB versi QS WUR 2027?
UI mempunyai posisi keseluruhan tertinggi, yakni peringkat ke-191 dunia. UGM berada di posisi ke-206 dan ITB ke-287.
Kampus mana yang unggul dalam indikator terbanyak?
UI berada di posisi terbaik pada empat indikator, UGM tiga indikator, dan ITB dua indikator.
Mengapa UI dan UGM memiliki skor reputasi akademik sama, tetapi peringkatnya berbeda?
Keduanya memperoleh skor tampilan 71,9 poin. Namun, QS menempatkan UI di peringkat indikator ke-130 dan UGM ke-131 dunia.
Apakah kampus yang memenangkan indikator terbanyak pasti menjadi peringkat pertama?
Tidak selalu. Setiap indikator mempunyai bobot berbeda sehingga kemenangan pada indikator berbobot besar lebih berpengaruh terhadap skor akhir.
Kampus mana yang mempunyai skor sitasi per dosen tertinggi?
ITB mempunyai skor sitasi per dosen tertinggi di antara ketiganya, yakni 5,8 poin.
Baca: Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027, UI Peringkat Pertama














Ini ulasan yang Ndak obyektif sebagai seorang akademisi ( mencederai nilai kejujuran ) …harusnya Unair dibahas sebagai universitas no 3 nilai total dari semua kategori . Terlihat tidak rela kalo Unair masuk top three …tapi tetap dunia akan mengakui bahwa Unair termasuk universitas terbaik no 3 di Indonesia berdasar WUR …