Estimasi kerugian bencana Sumatra per 11 Desember 2025 pukul 18.00 WIB menunjukkan dampak ekonomi dan fisik yang sangat besar akibat rangkaian bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Berdasarkan perhitungan Litbang Kompas, total kerugian di tiga provinsi tersebut mencapai Rp38,48 triliun, angka yang mencerminkan hilangnya pendapatan masyarakat, korban jiwa, serta kerusakan aset publik dan privat dalam skala luas.
Kontribusi kerugian terbesar berasal dari Aceh dengan total Rp25,36 triliun. Kerugian ini didominasi oleh kerusakan fisik yang mencapai Rp16,97 triliun, terutama pada sektor perumahan, jalan nasional, dan lahan pertanian.
Di Sumatra Utara, total kerugian ditaksir Rp7,08 triliun, sementara Sumatra Barat mencatat kerugian Rp6,04 triliun. Jika digabungkan, kerugian fisik di tiga provinsi mencapai Rp26,04 triliun atau lebih dari dua pertiga total kerugian.
Selain kerusakan fisik, Litbang Kompas juga menghitung kerugian ekonomi potensial yang bersumber dari hilangnya pendapatan masyarakat selama masa pengungsian serta dampak korban luka.
Nilai kerugian ekonomi potensial di tiga provinsi mencapai Rp7,61 triliun. Aceh kembali menjadi wilayah dengan nilai tertinggi, yakni Rp6,65 triliun, jauh melampaui Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Komponen lain yang turut memperbesar total kerugian adalah dampak akibat kematian dan penduduk yang hilang, yang dihitung menggunakan pendekatan Value of Statistical Life (VSL). Total kerugian pada komponen ini mencapai Rp4,84 triliun.
Sumatra Utara mencatat nilai tertinggi, sedikit di atas Aceh, sementara Sumatra Barat juga menyumbang angka yang tidak kecil. Pendekatan VSL ini tidak dimaksudkan sebagai harga nyawa manusia, melainkan sebagai ukuran ekonomi atas risiko kematian yang ingin dihindari oleh masyarakat.
Kerusakan fisik paling besar terjadi pada sektor perumahan dengan nilai mencapai Rp9,47 triliun di tiga provinsi. Infrastruktur jalan nasional juga mengalami kerusakan berat dengan estimasi kerugian Rp10,29 triliun. Selain itu, sawah yang rusak menimbulkan kerugian lebih dari Rp4 triliun, menunjukkan besarnya dampak bencana terhadap ketahanan pangan dan mata pencaharian warga.
Menurut Litbang Kompas, estimasi kerugian ini disusun berdasarkan data korban dan kerusakan bangunan dari BNPB per 11 Desember 2025 pukul 18.00 WIB yang bersifat dinamis dan masih dapat berubah. Perhitungan kerugian fisik menggunakan biaya satuan seragam untuk setiap jenis aset, sementara kerugian pendapatan dihitung dari kehilangan pendapatan per kapita selama satu bulan masa pengungsian.
Karena belum memasukkan dampak jangka panjang seperti penurunan produktivitas dan biaya pemulihan sosial, total estimasi kerugian bencana Sumatra per 11 Desember 2025 ini dinilai masih bersifat konservatif. (RK/D-1)
(Baca: Nilai Kerugian Bencana di Indonesia pada 2025 Tembus Rp3,68 Triliun)













