Generasi baru di dunia musik tidak lagi berjalan melalui satu jalur yang sama. Seorang penyanyi muda bisa berkembang menjadi penulis lagu, masuk ke dunia film, belajar instrumen, menari, atau membangun audiens lewat platform digital.
Keragaman itu terlihat pada sejumlah talenta muda yang akan menjadi bagian dari Indonesia International Music Expo atau IIME 2026.
Quinn Salman, Kaisa Asraya, Etenia Croft, Annisa Dalimunthe, dan Evolette Alexandra datang dengan cerita yang berbeda. Ada yang tumbuh bersama musik sejak kecil, ada yang menggabungkan musik dengan akting dan tari, sementara lainnya membawa identitas Indonesia ke dalam karya.
Mereka menjadi bagian dari music expo yang berlangsung pada 2-4 Oktober 2026 di NICE, PIK 2.
Quinn Salman, Bertumbuh dari Musik ke Berbagai Panggung
Quinn Salman mulai mengenal dunia bernyanyi sejak usia lima tahun. Perjalanan tersebut kemudian membawanya merilis singel debut Anugerah Terindah pada 2019. Namanya semakin dikenal setelah lagu TIBA-TIBA mendapat perhatian luas.
Namun perjalanan Quinn tidak berhenti di ruang rekaman. Ia juga terlibat dalam sejumlah proyek film dan musikal, antara lain Petualangan Sherina 2, musikal Keluarga Cemara, dan film animasi JUMBO. Quinn juga meraih sejumlah penghargaan AMI Awards dalam perjalanan kariernya.
Jejak tersebut memperlihatkan bagaimana performer muda dapat tumbuh melalui banyak medium sekaligus. Musik menjadi fondasi, tetapi film, teater, dan bentuk pertunjukan lain memberinya ruang untuk mengembangkan kemampuan yang lebih luas.
Kaisa Asraya dan Talenta yang Tak Berjalan Sendiri
Jalur berbeda ditempuh Kaisa Asraya Jineswari. Kaisa tidak hanya bernyanyi. Ia juga aktif sebagai aktris, dancer, presenter, dan content creator.
Perjalanan musiknya antara lain dimulai melalui Ananda Voice 5 dengan lagu Apa Ini Apa Itu. Ia kemudian bergabung dalam Senandung Pelangi Generasi 4 melalui lagu Si Jago.
Kaisa juga memiliki karya solo seperti Bahagia di Sekolah dan Yo Eyo Lebaran. Aktivitas tersebut menggambarkan karakter generasi performer saat ini.
Batas antara satu bentuk seni dengan bentuk lainnya semakin cair. Seorang penyanyi dapat menari, berakting, membuat konten, lalu kembali ke studio untuk merekam lagu.
Keragaman kemampuan itu bukan sekadar tambahan. Bagi performer muda, kemampuan beradaptasi dengan berbagai medium dapat membuka lebih banyak ruang untuk berekspresi.
Etenia Croft, Bertumbuh lewat Vokal dan Piano
Bagi Etenia Croft Wijaya, perjalanan musik berlangsung melalui dua jalur sekaligus: vokal dan piano. Ia meraih Distinction Gold Award untuk Solo Vokal serta Gold Award untuk Piano dalam Asia-Pacific Arts Festival 2023.
Pada 2025, Etenia merilis album Bersinar. Aktivitas tersebut berlanjut pada 2026 melalui sejumlah karya, termasuk Kau Selalu Ada. Ia juga membawakan kembali lagu Jangan Menyerah bersama Rian D’Masiv.
Perjalanan Etenia menunjukkan bagaimana kemampuan teknis dan keberanian merilis karya dapat berkembang beriringan. Kemampuan memainkan instrumen memberi pemahaman lain terhadap musik, sementara aktivitas sebagai penyanyi membawanya berhadapan langsung dengan dunia pertunjukan dan rekaman.
Bagi talenta muda, perpaduan semacam ini dapat menjadi proses panjang untuk menemukan karakter bermusik sendiri.
Annisa Dalimunthe, Musik dan Identitas Indonesia
Annisa Dalimunthe membawa cerita yang berbeda. Ia tumbuh di Kuala Lumpur dan mulai mempelajari vokal sejak berusia lima tahun. Annisa kemudian dikenal sebagai Duta Budaya Diaspora Indonesia.
Kedekatannya dengan Indonesia ikut masuk ke dalam karya yang dibawakan. Ia merilis Anugerah Terindah serta Merah Putih Gemilang. Dalam lagu terakhir, Annisa berkolaborasi dengan drummer Ikmal Tobing.
Pada 2026, ia juga tampil sebagai penyanyi pembuka di The Catwalk Master Asia serta sejumlah panggung nasional.
Bagi Annisa, musik sekaligus menjadi cara untuk mempertahankan hubungan dengan identitas Indonesia.
Pengalaman tumbuh di luar negeri membuat tema tersebut memiliki makna yang berbeda. Musik bukan hanya medium tampil, tetapi juga jalan untuk memperkenalkan budaya dan rasa kedekatan dengan Tanah Air kepada generasi muda serta diaspora.
Evolette Alexandra, Mengembangkan Vokal Sejak Usia Dini
volette Alexandra menjadi talenta muda lain yang ikut mewarnai IIME 2026. Penyanyi cilik asal Indonesia tersebut telah mengembangkan kemampuan bernyanyi sejak usia dini dan tampil di berbagai panggung, baik di dalam maupun luar negeri.
Perjalanannya ditopang oleh karakter vokal yang kuat serta kemampuan membawakan beragam genre musik. Berbagai pengalaman dan prestasi di bidang musik turut menjadi bagian dari proses Evolette dalam mengembangkan kemampuannya sebagai penyanyi muda.
Kehadiran Evolette di IIME 2026 memperlihatkan bagaimana music expo juga dapat menjadi ruang pertemuan bagi generasi muda yang sedang bertumbuh dengan musisi, brand, komunitas, dan berbagai bagian lain dari ekosistem musik.
Pengalaman tampil sejak usia dini juga menunjukkan bahwa proses menjadi seorang performer tidak hanya berlangsung ketika berada di atas panggung, tetapi dibangun melalui latihan, eksplorasi musik, dan pengalaman yang terus bertambah.
Wajah Baru Masa Depan Musik
Quinn, Kaisa, Etenia, Evollete, dan Annisa memperlihatkan bahwa generasi baru tidak perlu tumbuh mengikuti pola yang sama.
Ada yang berkembang dari penyanyi cilik menjadi performer lintas medium. Ada yang menggabungkan musik dengan tari dan akting. Ada yang mendalami vokal serta instrumen. Ada pula yang menjadikan musik sebagai jalan untuk membawa identitas budaya.
Perjalanan mereka masih panjang. Namun justru proses itulah yang membuat talenta muda menarik untuk diikuti. Masa depan musik tidak muncul secara tiba-tiba ketika seorang artis mencapai puncak karier. Ia terbentuk sejak tahap belajar, mencoba, tampil, gagal, lalu kembali menghasilkan karya.
IIME 2026 menempatkan talenta-talenta muda itu di tengah ekosistem yang juga diisi musisi, komunitas, educator, brand, dan masyarakat. Di sana, generasi baru tidak hanya menjadi penonton perkembangan industri musik. Mereka sudah menjadi bagian di dalamnya. (ADV/VN/D-1)













