Banjir yang melanda Nepal kembali menempatkan risiko bencana hidrometeorologi sebagai perhatian. Selain menimbulkan korban dan merusak infrastruktur, banjir dapat menyebabkan kerugian ekonomi dalam skala sangat besar.
Besarnya dampak tersebut terlihat dalam laporan 2026 Climate and Catastrophe Insight dari Aon. Sejumlah banjir yang terjadi sepanjang 1900–2025 menimbulkan kerugian hingga puluhan miliar dolar AS setelah nilainya disetarakan ke dolar AS 2025.
Angka tersebut menggambarkan besarnya beban ekonomi yang dapat muncul setelah banjir berskala besar. Kerugian tidak hanya berasal dari kerusakan rumah dan fasilitas umum, tetapi juga dapat berkaitan dengan terganggunya aktivitas ekonomi dan infrastruktur.
Berapa Kerugian Banjir Terbesar di Dunia?
Berdasarkan data Aon, banjir dengan estimasi kerugian ekonomi terbesar di dunia terjadi di Thailand pada Juni–Desember 2011. Kerugiannya mencapai US$65 miliar atau sekitar Rp1.149,92 triliun dengan kurs Rp17.691 per US$.
Setelah Thailand, banjir Sungai Yangtze di China pada Juni–September 1998 menjadi salah satu kejadian dengan kerugian terbesar. Aon memperkirakan kerugiannya mencapai US$62 miliar atau setara Rp1.096,84 triliun.
Banjir Sungai Yangtze pada Juni–Agustus 2010 berada di posisi berikutnya dengan estimasi kerugian US$58 miliar atau sekitar Rp1.026,08 triliun.
Di Eropa, banjir Bernd pada Juli 2021 menimbulkan kerugian sekitar US$53 miliar atau setara Rp937,62 triliun. Sementara itu, banjir Sungai Yangtze pada Juli–Agustus 1931 diperkirakan menyebabkan kerugian US$43 miliar atau sekitar Rp760,71 triliun dalam nilai dolar AS 2025.
China Paling Sering Masuk Daftar
China menjadi negara yang paling sering muncul dalam daftar banjir dengan kerugian ekonomi terbesar versi Aon. Sebanyak enam kejadian dalam daftar tersebut berasal dari China.
Jumlah itu mencakup empat banjir Sungai Yangtze serta banjir musiman pada 2020 dan 2021. Catatan tersebut memperlihatkan besarnya kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh banjir di negara tersebut dalam berbagai periode.
Aon menggunakan nilai dolar AS 2025 untuk membandingkan kerugian bencana yang terjadi pada tahun berbeda. Dengan pendekatan tersebut, nilai kerugian historis dapat dilihat menggunakan basis nilai uang yang lebih sebanding.
Apakah Banjir Nepal 2026 Masuk Daftar Aon?
Banjir Nepal pada 2026 belum masuk dalam daftar Aon karena laporan tersebut hanya mencakup kejadian hingga 2025. Dengan demikian, kerugian ekonomi akibat banjir Nepal belum dapat dibandingkan secara langsung dengan deretan bencana dalam laporan tersebut.
Meski demikian, bencana di Nepal kembali memperlihatkan bahwa dampak banjir tidak berhenti pada korban dan kerusakan fisik. Banjir juga dapat mengganggu infrastruktur dan aktivitas ekonomi dalam skala luas. (RK/D-1)
Baca: Negara Paling Berisiko Banjir di ASEAN 2025, Myanmar Puncaki Peringkat













