Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta edukasi mengenai anemia dan konsumsi tablet tambah darah diperkuat. Edukasi diperlukan agar remaja memahami manfaat tablet tersebut dan tidak sekadar menerimanya tanpa dikonsumsi.
Permintaan itu disampaikan Budi dalam Seminar Tindak Lanjut Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak di Jakarta, Kamis (13/8/2026). Menurutnya, anak perlu dilibatkan sebagai subjek dalam edukasi kesehatan, termasuk untuk memahami risiko anemia sejak usia remaja.
“Anak-anak jadi objek. Tadi bilang gitu, kan? Anak-anak jadi objek aja. Harusnya mereka jadi subjek,” kata Budi.
Pelibatan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan dokter kecil di Unit Kesehatan Sekolah ataupun posyandu remaja. Melalui kegiatan itu, siswa dapat menyampaikan informasi kesehatan kepada teman sebaya dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Dorongan memperkuat edukasi anemia sejalan dengan hasil sementara CKG selama Semester I 2026. Pemeriksaan tersebut menunjukkan anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di kalangan anak sekolah dan remaja.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, anemia dialami oleh 27 persen peserta anak sekolah dan remaja yang menjalani CKG selama Semester I 2026. Proporsi tersebut setara dengan sekitar satu dari empat peserta yang diperiksa.
Anemia menjadi masalah kesehatan terbanyak kedua setelah karies gigi. Gangguan kesehatan gigi tersebut ditemukan pada lebih dari 40 persen peserta atau sedikitnya empat dari setiap 10 anak sekolah dan remaja yang diperiksa.
Selain karies gigi dan anemia, peningkatan tekanan darah ditemukan pada 21 persen peserta. Angkanya terpaut 6 poin persentase dari anemia. Dengan demikian, sekitar satu dari lima anak sekolah dan remaja yang diperiksa telah menunjukkan peningkatan tekanan darah.
Sementara itu, penumpukan kotoran telinga dialami oleh 7 persen peserta. Persentase yang sama terlihat pada kelompok peserta dengan gizi lebih dan obesitas.
Hasil CKG tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan anak sekolah dan remaja tidak terbatas pada gangguan gigi dan anemia. Pemeriksaan juga menemukan faktor risiko penyakit tidak menular, seperti peningkatan tekanan darah serta kelebihan berat badan sejak usia sekolah.
Kendati demikian, hasil tersebut tidak dapat langsung dibaca sebagai prevalensi seluruh anak sekolah dan remaja di Indonesia. Data itu hanya menggambarkan kondisi peserta yang telah mengikuti CKG selama periode pemeriksaan.
Secara keseluruhan, CKG telah menjangkau 59,6 juta orang dari berbagai kelompok usia hingga 5 Juli 2026. Pemerintah menargetkan jumlah peserta mencapai 130 juta orang pada akhir 2026.
Hasil pemeriksaan selanjutnya menjadi dasar penentuan intervensi sesuai masalah kesehatan peserta. Pada kasus anemia, tindak lanjutnya mencakup pemberian tablet tambah darah dan penguatan edukasi agar tablet tersebut benar-benar dikonsumsi oleh remaja. (RK/D-1)
Baca: Hasil Pemeriksaan Ulang CKG 2026: Sekitar 10,87% Peserta Terdeteksi Hipertensi







