Berita
Home » Blog » TOCO Jadi Sorotan Media China, Alternatif E-Commerce Indonesia di Tengah Biaya Platform yang Meningkat

TOCO Jadi Sorotan Media China, Alternatif E-Commerce Indonesia di Tengah Biaya Platform yang Meningkat

TOCO Jadi Sorotan Media China, Alternatif E-Commerce Indonesia di Tengah Biaya Platform yang Meningkat
Model bisnis tanpa komisi yang diusung TOCO menarik perhatian media dan penjual lintas negara di tengah meningkatnya biaya platform e-commerce arus utama. (Sumber: TOCO)

Dalam beberapa bulan terakhir, nama TOCO (toco.id) kian sering muncul dalam pemberitaan media dan blog bisnis asal China. Platform e-commerce asal Indonesia ini disorot karena menawarkan model bisnis yang relatif tidak lazim di kawasan Asia Tenggara, yakni komisi nol seumur hidup bagi penjual.

Di tengah meningkatnya biaya transaksi dan komisi pada platform besar seperti Shopee, Lazada, dan TikTok Shop, TOCO dipandang sebagai alternatif yang menjanjikan bagi para penjual. Tidak hanya pelaku usaha lokal, minat juga datang dari penjual lintas negara, termasuk dari China, yang tengah mencari saluran penjualan dengan beban biaya lebih ringan.

Eksodus Penjual Pasca Integrasi TikTok–Tokopedia

Perhatian media China terhadap TOCO menguat setelah proses penggabungan TikTok dan Tokopedia menuai kritik. Baijing.cn, dalam laporannya pada 18 Juli 2025, menyoroti dampak negatif integrasi tersebut yang dinilai berjalan tidak mulus. Kondisi ini disebut mendorong ribuan penjual meninggalkan platform besar dan beralih ke TOCO.

Baijing mencatat, TOCO sebelumnya relatif kurang dikenal, tetapi mulai menarik minat luas karena menawarkan akses gratis seumur hidup tanpa komisi transaksi. Media ini juga membandingkan kebijakan TOCO dengan Shopee dan TikTok Shop yang mulai menerapkan komisi sekitar 2,5 persen per transaksi, yang dinilai semakin menekan margin penjual.

Narasi serupa muncul dalam laporan DNY1.com tertanggal 17 Juli 2025. Media tersebut menyebut puluhan ribu penjual terdampak langsung oleh ketidakpastian pasca-merger TikTok–Tokopedia. Dalam situasi tersebut, TOCO disebut sebagai salah satu pihak yang paling diuntungkan berkat strategi agresifnya menghapus komisi transaksi.

J&T Express Gandeng Toco, Pelanggan Bisa Belanja Ribuan Produk melalui Aplikasi

Model Tanpa Komisi dan Perubahan Lanskap Pasar

Analisis lebih mendalam disampaikan Ingstart.com dalam artikel bertajuk “Platform E-commerce TOCO: Model tanpa komisi memicu perubahan di pasar Asia Tenggara” yang terbit pada 9 Desember 2025. Media ini menilai TOCO sebagai tantangan disruptif terhadap struktur biaya e-commerce yang selama ini dianggap memberatkan penjual.

Menurut Ingstart, meskipun TOCO belum tentu mampu langsung menandingi dominasi Shopee atau Lazada, platform ini dinilai berhasil membuka ceruk pasar baru. Penjual yang terbebani biaya tinggi serta konsumen yang sensitif terhadap harga disebut menjadi kelompok utama yang diuntungkan. Bagi penjual dan investor China, TOCO dipandang sebagai instrumen lindung nilai risiko dalam strategi ekspansi multi-channel ke Asia Tenggara.

Pertumbuhan Cepat dan Tantangan Keberlanjutan

Sorotan lain datang dari Chwang.com pada 9 Desember 2025 yang mengulas perjalanan TOCO sejak masuk ke pasar Indonesia pada Agustus 2024. Dengan mengusung model komisi nol, TOCO secara langsung menantang platform besar Asia Tenggara yang mengenakan komisi berkisar 8 hingga 38 persen.

Chwang mencatat TOCO berhasil menarik jutaan pengguna aktif bulanan, dengan sekitar 3,4 juta produk terdaftar. Pola pertumbuhan ini disebut menyerupai Meesho di India, platform e-commerce tanpa komisi yang sukses menarik ratusan ribu penjual kecil sebelum akhirnya melantai di bursa.

Meski demikian, media tersebut juga menyoroti tantangan yang dihadapi TOCO, mulai dari keberlanjutan model bisnis, keterbatasan infrastruktur, hingga persoalan trafik. Bagi penjual China, TOCO direkomendasikan lebih sebagai platform uji pasar berbiaya rendah, bukan sebagai satu-satunya kanal penjualan.

Marketplace Terpopuler di Indonesia September 2026: Shopee Teratas, Lazada Salip Blibli

Biaya Tinggi dan Daya Tarik “Biaya Nol”

Laporan Sea321.com pada 19 Desember 2025 menekankan bahwa meningkatnya minat terhadap TOCO tidak terlepas dari lonjakan biaya administrasi di platform e-commerce besar. Media ini mengutip pernyataan CEO TOCO, Arnold Sebastian, yang menyebut pertumbuhan platform terjadi secara organik tanpa biaya pemasaran.

Arnold menyatakan banyak penjual mengeluhkan potongan di platform lain yang mencapai 8 hingga 38 persen, sehingga menyulitkan keberlanjutan usaha. Hingga akhir 2025, TOCO disebut memiliki sekitar 1 juta pengguna aktif bulanan dan 3,4 juta produk, memperkuat posisinya sebagai pendatang baru yang mulai diperhitungkan di pasar e-commerce Indonesia.

Babak Baru Persaingan E-Commerce

Dari sudut pandang media dan analis China, kebangkitan TOCO mencerminkan perubahan dinamika e-commerce Asia Tenggara. Di tengah biaya tinggi dan volatilitas yang meningkat, platform dengan model biaya nol menawarkan ruang eksperimen berisiko rendah, terutama bagi penjual kecil dan menengah.

Sebagaimana Meesho di India, TOCO dinilai berpotensi menunjukkan bahwa ekosistem e-commerce tidak harus bertumpu pada satu model bisnis. Bagi penjual dan investor China, TOCO bukan sekadar platform baru dari Indonesia, melainkan sinyal awal dari fase persaingan e-commerce yang semakin menekankan efisiensi biaya dan kepentingan penjual. (ADV/RK/D-1)

(Baca: PosDigi Gandeng Toco Jual Meterai Fisik dan Digital Resmi)

Toco Academy Volume 4 Digelar di Bogor, Dorong UMKM Lebih Mandiri Berjualan Daring

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

×
× Advertisement