Dataloka.id – Besarnya penghasilan dan peluang memperoleh pekerjaan kerap menjadi pertimbangan calon mahasiswa ketika memilih jurusan kuliah. Namun, lulusan dari fakultas dengan pendapatan lebih tinggi belum tentu mendapatkan pekerjaan dalam waktu yang lebih singkat.
Gambaran tersebut terlihat dalam hasil Tracer Study Universitas Indonesia (UI) 2025. Survei terhadap alumni yang lulus sepanjang 2024 itu menunjukkan adanya perbedaan median pendapatan dan masa tunggu kerja antara satu fakultas dan fakultas lainnya.
Berdasarkan hasil survei tersebut, median pendapatan lulusan sarjana (S1) dan vokasi UI mencapai Rp7,5 juta per bulan. Sementara itu, median waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh pekerjaan pertama berada di angka dua bulan.
Meski demikian, kedua indikator tersebut tidak selalu bergerak searah. Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), misalnya, memiliki median pendapatan Rp9 juta per bulan dengan masa tunggu kerja satu bulan. Pada Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom), median pendapatannya sama, tetapi waktu tunggunya mencapai dua bulan.
Perbedaan juga terlihat pada Fakultas Teknik. Dengan median pendapatan Rp8 juta per bulan, alumni fakultas tersebut membutuhkan waktu tiga bulan untuk memperoleh pekerjaan pertama berdasarkan nilai tengah hasil survei.
Temuan ini memperlihatkan bahwa besarnya penghasilan dan kecepatan memperoleh pekerjaan merupakan dua indikator yang perlu dibaca secara terpisah. Keduanya memberikan gambaran mengenai kondisi alumni setelah lulus, tetapi tidak dapat digunakan sebagai ukuran tunggal keberhasilan suatu fakultas.
Berapa Gaji Lulusan UI Berdasarkan Fakultas?
Mengacu pada paparan resmi Tracer Study UI 2025, Fakultas Kedokteran berada di posisi teratas dengan median pendapatan Rp10 juta per bulan. Namun, angka tersebut hanya berasal dari tiga responden sehingga belum dapat menggambarkan kondisi lulusan fakultas itu secara keseluruhan.
Dengan jumlah responden yang jauh lebih besar, FEB dan Fasilkom sama-sama memiliki median pendapatan Rp9 juta per bulan. Data pendapatan FEB berasal dari 360 responden, sedangkan Fasilkom melibatkan 258 responden.
Di bawahnya terdapat Fakultas Teknik, Fakultas Hukum, dan Fakultas Ilmu Administrasi yang masing-masing memiliki median pendapatan Rp8 juta per bulan. Ketiganya berada di atas median pendapatan lulusan UI secara keseluruhan, yakni Rp7,5 juta.
Sementara itu, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) memiliki median pendapatan Rp7 juta per bulan, disusul Fakultas Farmasi sebesar Rp6,9 juta. Pada kelompok lainnya, median pendapatan alumni berkisar antara Rp4,5 juta hingga Rp6,5 juta per bulan.
Berikut perbandingan median pendapatan, masa tunggu kerja, dan jumlah responden pendapatan lulusan S1 serta vokasi UI berdasarkan hasil Tracer Study 2025.
| Fakultas/Sekolah | Median pendapatan per bulan | Masa tunggu kerja | Responden pendapatan |
|---|---|---|---|
| Kedokteran | Rp10.000.000 | 1 bulan | 3 |
| Ekonomi dan Bisnis | Rp9.000.000 | 1 bulan | 360 |
| Ilmu Komputer | Rp9.000.000 | 2 bulan | 258 |
| Teknik | Rp8.000.000 | 3 bulan | 508 |
| Hukum | Rp8.000.000 | 3 bulan | 159 |
| Ilmu Administrasi | Rp8.000.000 | 2 bulan | 111 |
| Matematika dan IPA | Rp7.000.000 | 3 bulan | 278 |
| Farmasi | Rp6.900.000 | 2 bulan | 29 |
| Ilmu Sosial dan Ilmu Politik | Rp6.500.000 | 3 bulan | 201 |
| Ilmu Pengetahuan Budaya | Rp6.000.000 | 1,5 bulan | 200 |
| Psikologi | Rp6.000.000 | 2 bulan | 101 |
| Kesehatan Masyarakat | Rp6.000.000 | 2 bulan | 180 |
| Vokasi | Rp5.920.000 | 1 bulan | 152 |
| Ilmu Keperawatan | Rp4.500.000 | 0 bulan | 28 |
Sumber: Universitas Indonesia, Tracer Study UI 2025
Apakah Gaji Lebih Tinggi Berarti Lebih Cepat Mendapat Pekerjaan?
Perbandingan antarfakultas menunjukkan bahwa pendapatan lebih tinggi tidak selalu diikuti masa tunggu kerja yang lebih singkat. Hal ini antara lain terlihat pada lulusan Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB).
Lulusan Fakultas Teknik memiliki median pendapatan Rp8 juta per bulan dengan masa tunggu tiga bulan. Sebaliknya, alumni FIB memiliki median pendapatan lebih rendah, yakni Rp6 juta, tetapi masa tunggunya hanya 1,5 bulan.
Pola serupa terlihat pada Sekolah Vokasi. Meski median pendapatannya sebesar Rp5,92 juta per bulan, waktu tunggu kerja alumninya hanya satu bulan, lebih singkat dibandingkan dengan lulusan Fakultas Teknik maupun Fasilkom.
Adapun Fakultas Ilmu Keperawatan memiliki median waktu tunggu nol bulan, dengan median pendapatan Rp4,5 juta per bulan. Kendati demikian, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena data pendapatannya hanya berasal dari 28 responden.
Median waktu tunggu nol bulan juga tidak berarti seluruh lulusan langsung memperoleh pekerjaan. Nilai tersebut menunjukkan titik tengah distribusi jawaban responden, bukan pengalaman setiap alumni.
Secara keseluruhan, perbedaan ini memperlihatkan bahwa kecepatan memperoleh pekerjaan tidak dapat disimpulkan hanya dari tingkat pendapatan lulusan. Terlebih, jumlah dan karakteristik responden pada setiap fakultas tidak sama.
Mayoritas Responden Memperoleh Pekerjaan dalam Tiga Bulan
Jika dilihat secara keseluruhan, sebagian besar responden lulusan sarjana dan vokasi UI tidak membutuhkan waktu lebih dari tiga bulan untuk memperoleh pekerjaan pertama. Meski demikian, masih terdapat kelompok alumni yang harus menunggu lebih lama.
Berdasarkan hasil Tracer Study UI 2025, sebanyak 64 persen responden yang menjawab pertanyaan masa tunggu memperoleh pekerjaan dalam rentang satu hingga tiga bulan. Adapun 17,2 persen membutuhkan empat hingga enam bulan, sedangkan 18,8 persen lainnya menunggu lebih dari enam bulan.
Distribusi tersebut berasal dari 2.511 responden yang menjawab pertanyaan mengenai waktu memperoleh pekerjaan pertama. Dengan demikian, persentase itu menggambarkan kondisi kelompok responden tersebut, bukan seluruh alumni UI.
Sementara itu, berdasarkan pertanyaan mengenai status kegiatan saat survei, sebanyak 73,6 persen responden sarjana dan vokasi berstatus bekerja, baik penuh waktu maupun paruh waktu. Sebanyak 12,9 persen lainnya melanjutkan pendidikan.
Data status kegiatan tersebut berasal dari 3.441 responden. Perbedaan jumlah responden perlu diperhatikan agar persentase status pekerjaan tidak langsung dibandingkan dengan distribusi masa tunggu seolah-olah keduanya berasal dari kelompok jawaban yang sama.
Membaca Data Gaji dan Masa Tunggu Kerja Secara Proporsional
Hasil tracer study dapat menjadi salah satu rujukan bagi calon mahasiswa untuk memahami gambaran awal kondisi lulusan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Namun, angka pendapatan dan masa tunggu kerja tidak dapat diperlakukan sebagai jaminan hasil yang akan diperoleh setiap mahasiswa.
Selain perbedaan jumlah responden, waktu pelaksanaan survei juga menjadi faktor penting. Tracer Study UI 2025 dilaksanakan pada Agustus 2025 hingga Januari 2026 dengan sasaran alumni yang lulus pada Januari hingga Desember 2024.
Artinya, data tersebut menggambarkan pengalaman kelompok alumni tertentu pada periode survei, bukan proyeksi gaji yang akan diterima mahasiswa ketika lulus beberapa tahun mendatang. Besaran pendapatan juga dapat berbeda menurut jenis pekerjaan, pengalaman, lokasi kerja, dan kondisi pasar tenaga kerja.
Hal yang sama berlaku untuk masa tunggu pekerjaan. Perbedaan waktu antara satu fakultas dan fakultas lain belum cukup untuk menyimpulkan bahwa suatu jurusan secara langsung menyebabkan lulusannya lebih cepat atau lebih lambat memperoleh pekerjaan.
Dengan demikian, informasi median pendapatan dan masa tunggu kerja sebaiknya dipertimbangkan bersama indikator lain, seperti bidang pekerjaan lulusan, kesesuaian pekerjaan dengan pendidikan, serta perkembangan kebutuhan tenaga kerja.
Bagi calon mahasiswa, fakultas dengan median gaji lebih tinggi belum tentu menjadi pilihan terbaik apabila hanya dilihat dari satu indikator. Data UI justru memperlihatkan pentingnya menilai prospek penghasilan dan peluang kerja secara bersamaan, dengan tetap memperhatikan keterbatasan hasil survei. (RK/D-1)
Baca: Di 11 Provinsi, Rata-Rata Kuliah S1 Memakan Waktu 4,5 Tahun atau Lebih













