Bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM mendominasi ketersediaan program studi profesi di Indonesia. Sebanyak 80,22 persen prodi profesi masuk dalam kelompok tersebut pada 2025.
Namun, komposisi mahasiswanya bergerak ke arah yang berlawanan. Mahasiswa profesi STEM hanya sebesar 19,81 persen, sedangkan 80,19 persen lainnya berada di bidang non-STEM.
Selisih tersebut menjadi kesenjangan terbesar antara ketersediaan prodi dan distribusi mahasiswa pada seluruh jenjang pendidikan tinggi. Proporsi prodi profesi STEM lebih besar 60,41 poin persentase dibandingkan pangsa mahasiswanya.
| Program pendidikan | Mahasiswa STEM | Prodi STEM | Selisih |
|---|---|---|---|
| Profesi | 19,81% | 80,22% | 60,41 poin |
| Sarjana | 28,36% | 35,60% | 7,24 poin |
| Magister | 20,12% | 27,84% | 7,72 poin |
| Doktoral | 23,51% | 30,71% | 7,20 poin |
| Spesialis | 100,00% | 99,58% | -0,42 poin |
| Diploma | 69,33% | 71,49% | 2,16 poin |
Keterangan: selisih dihitung dari pangsa prodi STEM dikurangi pangsa mahasiswa STEM. Persentase mahasiswa dan prodi memakai penyebut yang berbeda sehingga tidak menggambarkan tingkat keterisian setiap program studi.
Mengapa kesenjangannya begitu lebar?
Program profesi memiliki struktur yang berbeda dari sarjana atau diploma. Banyak prodi profesi STEM berasal dari bidang kesehatan dan bidang teknis, tetapi tiap prodi belum tentu memiliki peserta dalam jumlah besar.
Sebaliknya, mahasiswa non-STEM dapat terkonsentrasi pada program dengan peserta sangat banyak. Pendidikan Profesi Guru merupakan salah satu contoh penting karena jumlah peserta dan lulusannya jauh melampaui program profesi lain.
Kondisi tersebut membuat jumlah program studi tidak bergerak searah dengan jumlah mahasiswa. Banyak program dengan kelompok kecil dapat kalah besar dari satu program yang memiliki peserta dalam skala nasional.
Pola yang sama, meskipun lebih kecil, juga terlihat pada sarjana, magister, dan doktoral. Pada ketiga jenjang itu, pangsa prodi STEM selalu lebih tinggi daripada pangsa mahasiswanya.
Pada program sarjana, misalnya, sebanyak 35,60 persen prodi berada di kelompok STEM. Namun, mahasiswa yang mengambil bidang STEM hanya 28,36 persen dari keseluruhan mahasiswa sarjana.
Bukan ukuran kekurangan peminat
Kesenjangan ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa prodi profesi STEM kekurangan peminat. Data yang dibandingkan merupakan proporsi jumlah prodi dan mahasiswa pada tingkat nasional, bukan kapasitas serta tingkat keterisian setiap prodi.
Beberapa program profesi juga memiliki pembatasan peserta, persyaratan kelulusan, dan kebutuhan fasilitas yang berbeda. Program profesi kesehatan, misalnya, tidak dapat menerima mahasiswa dalam skala yang sama dengan program berbasis kelas besar.
Meski demikian, perbandingan tersebut memperlihatkan pentingnya melihat mahasiswa dan ketersediaan program secara bersamaan. Pertumbuhan jumlah prodi belum tentu langsung meningkatkan jumlah mahasiswa apabila skala, akses, dan kebutuhan tiap program berbeda.(NKR/D-1)
Baca : Jurusan UI Masuk 200 Besar Dunia Versi QS 2026, Seberapa Ketat Jalur SNBT?
Ikuti Channel WhatsApp Dataloka.id untuk mendapatkan informasi berbasis data, statistik terbaru, dan insight mengenai berbagai isu di Indonesia.
Bergabung di sini:
https://whatsapp.com/channel/0029VaplAbq1noz8ZsizkH2R













