Sebanyak 35,36% pekerja muda Indonesia berada pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya pada Agustus 2024. Temuan dalam kajian Badan Pusat Statistik atau BPS itu memperlihatkan bahwa persoalan transisi pendidikan ke dunia kerja juga menyangkut kecocokan kualifikasi setelah seseorang memperoleh pekerjaan.
Data tersebut bersumber dari Sakernas Agustus 2024 yang diolah dalam publikasi Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia: Implikasi bagi Bonus Demografi, terbit Oktober 2025. Pemuda dalam kajian ini merujuk pada kelompok usia 16–30 tahun.
Berapa banyak yang bekerja sesuai tingkat pendidikan?
Kelompok terbesar, yakni 64,64%, bekerja pada posisi yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. Sisanya terdiri atas 22,36% pekerja berpendidikan lebih tinggi daripada kebutuhan pekerjaan dan 13,00% berpendidikan lebih rendah.
| Kesesuaian Tingkat Pendidikan dengan Pekerjaan | Persentase Pekerja Muda |
|---|---|
| Sesuai atau matched | 64,64% |
| Pendidikan lebih tinggi atau overeducated | 22,36% |
| Pendidikan lebih rendah atau undereducated | 13,00% |
| Total | 100,00% |
Gabungan dua kategori ketidaksesuaian mencapai 35,36%. Seluruh persentase pada tabel menggunakan pekerja muda sebagai kelompok acuan, sehingga angka 22,36% tidak dihitung hanya dari pekerja yang mengalami ketidaksesuaian.
Apa yang dimaksud overeducated?
Overeducated menggambarkan keadaan ketika tingkat pendidikan formal seseorang lebih tinggi daripada tingkat yang umumnya diperlukan untuk pekerjaannya. Sebagai ilustrasi, kondisi ini dapat terjadi ketika lulusan perguruan tinggi mengisi pekerjaan yang kebutuhan pendidikannya berada di jenjang lebih rendah.
Sebaliknya, undereducated menggambarkan keadaan ketika tingkat pendidikan formal berada di bawah kebutuhan pekerjaan. Kedua istilah tersebut merupakan kategori ketidaksesuaian vertikal atau vertical mismatch.
Kategori itu tidak dapat digunakan sendirian untuk menilai kemampuan seseorang. Pengalaman, keterampilan, dan tugas yang dijalankan perlu dilihat secara tersendiri agar penilaian terhadap pekerja tidak berhenti pada ijazahnya.
Apakah sama dengan bekerja di luar jurusan?
Bekerja di luar jurusan menyangkut kesesuaian bidang studi, sedangkan ukuran dalam artikel ini menyangkut jenjang pendidikan. Oleh karena itu, angka 35,36% tidak dapat ditulis sebagai persentase lulusan yang bekerja di luar jurusan kuliah.
Sebagai contoh, seseorang dapat menempati pekerjaan yang sama-sama membutuhkan pendidikan sarjana, tetapi bidang kerjanya berbeda dari jurusan yang ditempuh. Sebaliknya, kedekatan bidang pekerjaan dengan jurusan tidak selalu menunjukkan bahwa kebutuhan jenjang pendidikannya juga setara.
Apa yang perlu diperhatikan calon mahasiswa?
Data ini mengajak calon mahasiswa melihat hasil pendidikan secara lebih lengkap. Selain mencari tahu apakah alumni sudah bekerja, pertanyaan dapat diperluas pada tugas yang dikerjakan, tingkat kualifikasi yang digunakan, dan kesempatan berkembang dalam pekerjaan.
Informasi tracer study kampus dapat membantu penelusuran tersebut apabila menyajikan definisi, tahun lulusan, dan jumlah responden dengan jelas. Perbandingan antarkampus juga perlu menggunakan ukuran yang sepadan agar hasilnya tidak menyesatkan.
Ketidaksesuaian pendidikan dan pekerjaan tidak cukup dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa kuliah tidak berguna. Kesimpulan semacam itu membutuhkan pemeriksaan manfaat pendidikan yang lebih luas, sementara tabel ini hanya menunjukkan kecocokan tingkat pendidikan dengan pekerjaan pada satu periode.(NKR/D-1)
Baca: 8 Pekerjaan dengan Gaji Tertinggi untuk Lulusan Universitas Menurut BPS
Ikuti Channel WhatsApp Dataloka.id untuk mendapatkan informasi berbasis data, statistik terbaru, dan insight mengenai berbagai isu di Indonesia.
Bergabung di sini:
https://whatsapp.com/channel/0029VaplAbq1noz8ZsizkH2R













