Memilih antara Kedokteran dan Ilmu Komputer tidak cukup dengan melihat jurusan mana yang dianggap lebih menjanjikan. Calon mahasiswa juga perlu mempertimbangkan persaingan masuk, biaya selama kuliah, serta jalur pendidikan yang akan ditempuh setelah lulus.
Dua program studi tersebut sama-sama menarik peminat di perguruan tinggi negeri. Namun, perbandingan tingkat persaingannya harus dilakukan per kampus dan per jalur seleksi. Besarnya daya tampung saja belum menunjukkan berapa orang yang bersaing untuk satu kursi.
Data penerimaan Universitas Indonesia (UI) memperlihatkan bahwa pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026, Pendidikan Dokter menyediakan 90 kursi, sedangkan Ilmu Komputer 75 kursi. Artinya, kursi Pendidikan Dokter lebih banyak 15 dibandingkan Ilmu Komputer.
Meski demikian, angka ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Pendidikan Dokter lebih mudah dimasuki. Kesimpulan tersebut memerlukan jumlah peminat pada tahun dan jalur yang sama untuk masing-masing prodi.
| Program Studi UI | Daya Tampung SNBT 2026 |
|---|---|
| Pendidikan Dokter | 90 kursi |
| Ilmu Komputer | 75 kursi |
Biaya kuliah menunjukkan perbedaan yang lebih jelas. Dalam ketentuan UKT Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2026, UKT S1 Kedokteran pada kelompok berbayar berkisar Rp6,175 juta–Rp24,7 juta per semester.
Untuk S1 Ilmu Komputer, rentangnya Rp2,5 juta–Rp10 juta per semester. Kedua prodi juga memiliki kelompok UKT Rp0; besaran yang dibayar mahasiswa bergantung pada kelompok UKT yang ditetapkan universitas.
Baca: Gaji Lulusan UI Terbaru Berdasarkan Fakultas pada 2025, Tembus Rp7,5 Juta per Bulan
| Program Studi UGM | UKT Kelompok Berbayar per Semester | UKT Kelompok Tertinggi |
|---|---|---|
| Kedokteran | Rp6,175 juta–Rp24,7 juta | Rp24,7 juta |
| Ilmu Komputer | Rp2,5 juta–Rp10 juta | Rp10 juta |
Pada kelompok UKT tertinggi, selisih biaya kedua prodi mencapai Rp14,7 juta per semester. Jika dikalikan delapan semester sebagai gambaran aritmetis, UKT tersebut menjadi Rp197,6 juta untuk Kedokteran dan Rp80 juta untuk Ilmu Komputer.
Ini bukan tagihan yang berlaku bagi semua mahasiswa atau perkiraan seluruh biaya pendidikan. Perhitungan itu belum memasukkan biaya hidup maupun tahapan pendidikan profesi dokter setelah program sarjana.
Bagi pendaftar UI, jalur masuk juga berpengaruh terhadap jenis biaya yang dikenakan. UI menyatakan mahasiswa yang diterima melalui SNBP atau SNBT hanya dikenakan UKT, sementara mahasiswa yang masuk melalui jalur mandiri dikenakan UKT dan Iuran Pengembangan Institusi (IPI). Karena itu, biaya jalur SNBT tidak bisa langsung disamakan dengan biaya jalur mandiri.
Bagaimana dengan penghasilan lulusan?
Tracer Study UI 2025 mencatat median pendapatan bulanan responden jenjang S1 dan vokasi dari Fakultas Kedokteran sebesar Rp10 juta, sedangkan dari Fakultas Ilmu Komputer Rp9 juta. Survei ini menelusuri lulusan tahun 2024.
Angka tersebut perlu dibaca sangat hati-hati. Data Fakultas Kedokteran pada bagian ini berasal dari tiga responden, sementara data Fakultas Ilmu Komputer berasal dari 258 responden.
Selain itu, hasilnya disajikan menurut fakultas, bukan khusus prodi Pendidikan Dokter dan Ilmu Komputer. Selisih median Rp1 juta itu tidak dapat dipakai untuk menyatakan bahwa lulusan Kedokteran pada umumnya bergaji lebih tinggi.
Jadi, mana pilihan yang lebih ketat? Belum bisa diputuskan dari data kursi yang ditampilkan di sini. Di UI, Pendidikan Dokter memiliki lebih banyak kursi SNBT 2026 daripada Ilmu Komputer, tetapi jumlah peminat per prodi tetap diperlukan untuk membandingkan rasio persaingannya. Adapun dari sisi UKT UGM, Kedokteran memiliki batas atas biaya per semester yang jauh lebih tinggi.
Bagi calon mahasiswa, perbandingan yang paling berguna ialah melihat prodi di kampus tujuan, jalur masuk, kelompok UKT, dan lama pendidikan yang ingin ditempuh. Rasio peminat terhadap kursi, ketika datanya tersedia, menggambarkan persaingan secara agregat—bukan peluang lolos setiap peserta. (RK/D-1)
Baca: Gaji Lulusan UGM Capai Rp6 Juta pada 2025, 91% Dapat Kerja Kurang dari 6 Bulan













