Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap 14 September. Momentum tersebut menjadi pengingat mengenai pentingnya perpustakaan sekaligus kebiasaan membaca masyarakat di Indonesia. Menjelang peringatan tahun ini, data Perpustakaan Nasional menunjukkan tingkat kegemaran membaca masyarakat masih berbeda cukup lebar antarwilayah.
Berdasarkan Survei Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat 2025 yang ditampilkan Badan Pusat Statistik (BPS), Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat skor tertinggi secara nasional, yakni 62,05. Nusa Tenggara Barat (NTB) berada di urutan kedua dengan 61,19, sedangkan Sumatra Selatan menempati posisi ketiga dengan skor 60,86.
NTT Jadi Provinsi dengan Tingkat Kegemaran Membaca Tertinggi
Empat provinsi mencatat skor tingkat kegemaran membaca di atas 60 pada 2025. Setelah NTT, NTB, dan Sumatra Selatan, terdapat Maluku Utara dengan skor 60,66.
Kalimantan Barat berada di posisi kelima dengan skor 59,85, hanya terpaut 0,01 poin dari Sulawesi Selatan yang mencatat 59,84.
Daftar tersebut menunjukkan tidak ada provinsi di Pulau Jawa yang masuk 10 besar. Jawa Barat menjadi provinsi di Jawa dengan nilai tertinggi, yakni 59,19, tetapi masih berada di bawah Kepulauan Riau yang menutup posisi 10 besar dengan skor 59,33.
Secara nasional, tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia pada 2025 berada di angka 54,8. Perpustakaan Nasional menyebut capaian tersebut masih masuk kategori rendah.
Cara Perpusnas Mengukur Tingkat Kegemaran Membaca
Pengukuran Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) mengalami perubahan metodologi pada 2025. Perpustakaan Nasional tidak lagi hanya melihat seberapa sering atau berapa lama seseorang membaca, tetapi mencoba menangkap perilaku membaca secara lebih menyeluruh.
Pengukuran tersebut dibagi menjadi tiga fase, yakni pra-membaca, saat membaca, dan pasca-membaca. Pada fase pra-membaca, survei antara lain mengukur motivasi, minat, tujuan membaca, akses terhadap bahan bacaan, serta pemahaman mengenai budaya literasi.
Sementara itu, fase saat membaca melihat perilaku pembaca, perhatian, strategi memahami bacaan, hingga praktik literasi sosial. Adapun fase pasca-membaca mengukur dampak kegiatan membaca dan manfaat yang diperoleh setelah seseorang membaca.
Perpusnas menyatakan perubahan instrumen tersebut dilakukan agar pengukuran lebih mencerminkan kondisi nyata di masyarakat. TKM juga digunakan sebagai salah satu instrumen untuk mengevaluasi kebijakan serta program peningkatan budaya baca di daerah.
Hari Kunjung Perpustakaan pada 14 September pun tidak hanya diarahkan untuk mendorong masyarakat datang ke perpustakaan. Perpusnas menilai momentum tersebut juga perlu dimanfaatkan untuk mendekatkan layanan literasi kepada masyarakat dan memahami tantangan membaca yang dihadapi di berbagai daerah. (RK/D-1)
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi di Indonesia pada 2025?
Nusa Tenggara Timur menjadi provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi pada 2025 dengan skor 62,05.
Apa provinsi kedua dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi pada 2025?
Nusa Tenggara Barat berada di posisi kedua dengan skor 61,19, disusul Sumatera Selatan dengan skor 60,86.
Berapa tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia pada 2025?
Secara nasional, tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 54,8.
Apakah ada provinsi di Pulau Jawa yang masuk 10 besar?
Tidak. Tidak ada provinsi di Pulau Jawa yang masuk daftar 10 provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi pada 2025.
Bagaimana tingkat kegemaran membaca diukur?
Perpustakaan Nasional mengukur tingkat kegemaran membaca melalui sejumlah aspek perilaku membaca, mulai dari motivasi dan akses bahan bacaan, aktivitas saat membaca, hingga dampak yang diperoleh setelah membaca.
Kapan Hari Kunjung Perpustakaan diperingati?
Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap 14 September di Indonesia.
Baca: Jumlah Perpustakaan di Indonesia 2024 Berdasarkan Jenisnya













