Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah mahasiswa gagal studi terbanyak dalam data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi atau PDDikti. Sebanyak 51.359 mahasiswa tercatat dalam kategori tersebut.
Jakarta berada di urutan kedua dengan 35.899 mahasiswa, disusul Jawa Timur sebanyak 30.260 mahasiswa. Secara nasional, jumlah yang tercatat mencapai 289.670 mahasiswa.
Istilah gagal studi dalam dataset mempunyai cakupan lebih luas daripada putus studi. PDDikti memasukkan tiga jenis status keluar, yaitu putus studi, dikeluarkan, dan mengundurkan diri.
Data tersebut menggambarkan tahun ajaran 2024 dan diterbitkan sebagai dataset tahun 2025. Dataloka mengagregasi kolom jumlah mahasiswa gagal studi berdasarkan provinsi dalam berkas resmi PDDikti.
Sepuluh provinsi tersebut menyumbang 215.527 mahasiswa atau 74,40 persen dari jumlah nasional. Jawa Barat sendiri mencakup 17,73 persen dari keseluruhan catatan.
Namun, tabel menampilkan jumlah absolut, bukan tingkat atau rasio gagal studi. Provinsi dengan populasi mahasiswa dan perguruan tinggi lebih besar secara alami dapat memiliki angka lebih tinggi.
Enam provinsi di Pulau Jawa masuk daftar
Enam provinsi di Pulau Jawa menempati 10 besar, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta. Jumlah gabungannya mencapai 170.205 mahasiswa atau 58,76 persen dari total nasional.
Di luar Pulau Jawa, Sulawesi Selatan menempati posisi tertinggi dengan 13.648 mahasiswa. Provinsi tersebut berada di atas Sumatera Utara, Riau, dan Lampung.
Konsentrasi angka di Pulau Jawa tidak dapat langsung dimaknai bahwa mahasiswa di wilayah tersebut lebih rentan berhenti kuliah. Analisis seperti itu membutuhkan pembanding berupa jumlah mahasiswa aktif atau total populasi mahasiswa di setiap provinsi.
Sebagian besar tercatat di perguruan tinggi swasta
Berdasarkan kelompok institusi dalam berkas PDDikti, sebanyak 213.800 mahasiswa gagal studi tercatat di perguruan tinggi swasta. Jumlah tersebut setara dengan 73,81 persen dari total nasional.
Perguruan tinggi negeri mencatat 49.831 mahasiswa atau 17,20 persen. Sisanya tersebar pada kelompok perguruan tinggi agama dan perguruan tinggi kedinasan.
Komposisi tersebut juga belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa risiko gagal studi di kampus swasta lebih tinggi. Jumlah perguruan tinggi, mahasiswa, karakter program, serta pelaporan pada setiap kelompok perlu diperhitungkan.
Mahasiswa S1 mendominasi data
Sebanyak 239.155 catatan atau 82,56 persen berasal dari jenjang S1. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan jenjang D3, D4, profesi, magister, dan doktor.
Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, mahasiswa laki-laki berjumlah 169.615 orang atau 58,55 persen. Mahasiswa perempuan tercatat sebanyak 120.054 orang atau 41,45 persen.
Bidang teknik memiliki jumlah tertinggi, yakni 68.118 mahasiswa. Bidang ekonomi menyusul dengan 65.070 mahasiswa, diikuti ilmu sosial sebanyak 53.634 mahasiswa dan pendidikan 48.181 mahasiswa.
Sekali lagi, angka-angka tersebut merupakan jumlah. Tanpa data total mahasiswa pada setiap jenjang, jenis kelamin, dan bidang ilmu, hasilnya tidak dapat dibaca sebagai perbandingan tingkat risiko.
Data masih menggunakan 34 kelompok provinsi
Berkas PDDikti yang digunakan masih mengelompokkan data ke dalam 34 provinsi. Wilayah Papua hanya dipisahkan menjadi Papua dan Papua Barat, belum mengikuti pemekaran menjadi enam provinsi.
Keterbatasan itu perlu diperhatikan ketika membandingkan hasilnya dengan data kependudukan atau pendidikan lain yang sudah memakai pembagian 38 provinsi.
Selain itu, kategori mengundurkan diri tidak selalu mempunyai makna yang sama dengan mahasiswa yang keluar karena persoalan akademik. Sebagian mahasiswa dapat mengundurkan diri untuk pindah perguruan tinggi, bekerja, menghadapi persoalan ekonomi, atau mengambil keputusan pribadi lainnya. (RK/D-1)
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Provinsi mana yang memiliki mahasiswa gagal studi terbanyak?
Jawa Barat, dengan 51.359 mahasiswa atau 17,73 persen dari jumlah nasional.
Berapa jumlah mahasiswa gagal studi dalam data PDDikti?
Sebanyak 289.670 mahasiswa untuk tahun ajaran 2024.
Apakah gagal studi sama dengan putus studi?
Tidak sepenuhnya. Dalam dataset ini, gagal studi mencakup putus studi, dikeluarkan, dan mengundurkan diri.
Apakah Jawa Barat juga memiliki tingkat putus kuliah tertinggi?
Belum tentu. Data hanya menunjukkan jumlah. Penentuan tingkat atau rasio membutuhkan pembanding berupa total mahasiswa di setiap provinsi.
Mengapa data hanya menggunakan 34 provinsi?
Berkas sumber masih memakai pengelompokan wilayah lama dan belum memisahkan seluruh provinsi baru di Papua.
Baca: Jumlah Mahasiswa Baru Indonesia Capai 2,16 Juta pada 2025, Banten Terbanyak













