Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menyita perhatian setelah mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Episode tersebut berakhir pada Minggu, 6 September 2026, pukul 00.04 WIB. Namun, statusnya masih bertahan pada Level III atau Siaga karena tingkat kegempaannya masih tinggi.
Badan Geologi mengingatkan masyarakat, wisatawan, dan pendaki agar tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Setelah erupsi menerus berakhir, gunung api di Provinsi Lampung tersebut tercatat kembali mengalami tiga kali erupsi strombolian.
Aktivitas Anak Krakatau kembali mengingatkan besarnya potensi vulkanik Indonesia. Badan Geologi mencatat Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Jumlah itu terdiri atas 77 gunung api Tipe A, 29 Tipe B, dan 21 Tipe C.
Dari jumlah tersebut, Nusa Tenggara Timur menjadi provinsi dengan gunung api aktif terbanyak. Berdasarkan pengolahan Dataloka terhadap daftar dan lokasi gunung api Badan Geologi, terdapat 24 gunung api aktif di provinsi tersebut.
Jumlah itu setara dengan 18,90 persen dari seluruh gunung api aktif di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Lewotobi Laki-laki, Lewotobi Perempuan, Ili Lewotolok, Kelimutu, Egon, Inielika, Inierie, dan Ebulobo.
Posisi berikutnya ditempati Sulawesi Utara dengan 17 gunung api aktif. Provinsi ini menjadi lokasi Gunung Lokon, Soputan, Karangetang, Ruang, Awu, Mahawu, dan sejumlah pusat aktivitas vulkanik lainnya.
Jawa Barat berada di urutan ketiga dengan 15 gunung api aktif. Jumlah tersebut mencakup Gunung Salak, Gede, Tangkuban Parahu, Guntur, Papandayan, Galunggung, dan Ciremai.
Secara keseluruhan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Jawa Barat memiliki 56 gunung api aktif. Jumlahnya setara dengan 44,09 persen dari total nasional.
Setelah tiga provinsi teratas, Jawa Timur dan Maluku masing-masing memiliki 10 gunung api aktif. Jawa Tengah menyusul dengan tujuh gunung api, sedangkan Aceh, Sumatera Utara, dan Maluku Utara masing-masing memiliki enam.
Sulawesi Tengah menjadi provinsi dengan jumlah paling sedikit, yakni satu gunung api aktif berupa Gunung Colo di Pulau Una-Una. Sementara itu, tidak ada lokasi dalam daftar 127 gunung api tersebut yang dikelompokkan ke provinsi-provinsi di Kalimantan dan Papua.
Catatan metodologi: Angka per provinsi merupakan hasil pengelompokan Dataloka berdasarkan lokasi dan koordinat dalam daftar MAGMA Indonesia. Gunung api di perbatasan dicatat satu kali mengikuti titik koordinat utamanya agar tidak terjadi penghitungan ganda. Gunung api bawah laut di kawasan Laut Banda dikelompokkan ke wilayah Maluku sesuai pengelompokan regional sumber.
Aktif Tidak Berarti Sedang Meletus
Sebutan gunung api aktif tidak selalu berarti gunung tersebut sedang mengalami erupsi. Klasifikasi Tipe A, B, dan C didasarkan pada sejarah erupsi serta tanda-tanda aktivitas vulkaniknya.
Gunung api Tipe A merupakan gunung yang pernah mengalami erupsi sejak 1600. Tipe B belum mengalami erupsi magmatik lagi setelah 1600, tetapi masih memperlihatkan aktivitas seperti solfatara.
Sementara itu, erupsi gunung api Tipe C tidak diketahui dalam sejarah manusia. Meski demikian, gunung tersebut masih memperlihatkan tanda aktivitas masa lalu berupa lapangan solfatara atau fumarola dalam tingkat lemah. (Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 Tahun 2011)
Klasifikasi tersebut berbeda dengan tingkat aktivitas Normal, Waspada, Siaga, dan Awas. Tingkat aktivitas dapat berubah mengikuti hasil pengamatan visual, kegempaan, deformasi, geokimia, dan penginderaan jauh.
Badan Geologi menyebutkan 69 gunung api dipantau secara efektif melalui Pos Pengamatan Gunung Api. “Pemantauan dilakukan terus-menerus agar setiap perubahan aktivitas gunung api dapat dideteksi sedini mungkin,” kata Penyelidik Bumi Utama PVMBG Kristianto. (RK/D-1)
Baca: Sejarah Panjang Krakatau: Letusan 1883, Tsunami 2018, hingga Erupsi 2026
https://geologi.esdm.go.id/media-center/belajar-hidup-berdampingan-dengan-bencana-strategi-siaga-di-daerah-cincin-api
https://magma.esdm.go.id/v1/edukasi/tipe-gunung-api-di-indonesia-a-b-dan-c
https://jdih.esdm.go.id/dokumen/download?id=permen+ESDM+15+2011.pdf
https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/erupsi-menerus-anak-krakatau-berakhir-aktivitas-gunung-api-kembali-menurun-dan-tetap-dipantau













