Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menghasilkan sampah makanan dalam jumlah besar seiring dengan bertambahnya penerima manfaat. Timbulan sisa pangan program tersebut diproyeksikan mencapai 1,91 juta–1,95 juta ton per tahun pada 2029.
Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan Kementerian PPN/Bappenas bertajuk Studi Integrasi Konsep Ekonomi Sirkular untuk Pengelolaan Sisa Pangan pada Program Makan Bergizi Gratis. Kajian itu diinisiasi Bappenas dan GIZ dengan melibatkan Waste4Change.
Bappenas menggunakan dua skenario untuk memperkirakan timbulan sisa pangan MBG sepanjang 2025–2029. Skenario pertama mengacu pada target penerima manfaat yang diperoleh dari Bappenas pada Oktober 2024, sedangkan skenario kedua menggunakan target terbaru dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan per Juli 2025.
Dalam skenario pertama, timbulan sisa pangan MBG diperkirakan sebanyak 187.367 ton pada 2025. Jumlahnya kemudian meningkat menjadi 641.150 ton pada 2026 dan menembus 1,06 juta ton pada 2027.
Volume sisa pangan kembali bertambah menjadi 1,49 juta ton pada 2028 dan mencapai 1,91 juta ton pada 2029. Dengan demikian, timbulan sisa pangan dalam skenario tersebut berpotensi meningkat 917,71% atau lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan pada 2025.
Peningkatan itu sejalan dengan bertambahnya target penerima manfaat dalam skenario pertama, dari 15,42 juta orang pada 2025 menjadi 89,9 juta orang pada 2029.
Sementara itu, skenario kedua memperkirakan timbulan sisa pangan MBG sebanyak 778.310 ton pada 2025. Jumlahnya melonjak 150,1% menjadi 1,95 juta ton pada 2026, lalu diperkirakan relatif konstan hingga 2029.
Perbedaan proyeksi tersebut dipengaruhi asumsi penerima manfaat. Dalam skenario kedua, jumlah penerima manfaat ditargetkan mencapai 82,9 juta orang pada akhir 2025 dan tetap berada pada level tersebut hingga 2029.
Sisa Makanan Penerima Manfaat Mendominasi
Berdasarkan sumbernya, sisa pangan MBG berasal dari kegiatan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan makanan yang tidak dihabiskan penerima manfaat. Laporan Bappenas menyebut makanan yang tersisa di tangan penerima manfaat sebagai penyumbang terbesar.
Dalam skenario pertama, sisa pangan dari penerima manfaat diproyeksikan mencapai 1,44 juta ton pada 2029. Adapun sisa pangan yang berasal dari operasional SPPG diperkirakan sebanyak 469.454 ton.
Pola serupa terlihat dalam skenario kedua. Sisa pangan penerima manfaat diperkirakan mencapai 1,47 juta ton pada 2029, sedangkan timbulan dari operasional SPPG sebesar 480.456 ton.
Kajian Bappenas menemukan sejumlah faktor yang menyebabkan makanan MBG tidak dihabiskan. Penyebab utamanya meliputi kondisi siswa yang masih kenyang atau belum lapar, porsi yang terlalu besar, rasa makanan, serta menu yang kurang sesuai dengan preferensi anak.
Hasil survei menunjukkan sebanyak 33% responden di Kota Bogor dan 36% responden di Kabupaten Cilacap menilai rasa makanan perlu ditingkatkan. Selain itu, 31% responden di Bogor dan 29% responden di Cilacap menilai variasi menu masih perlu diperbaiki.
Kualitas makanan juga menjadi perhatian bagi 23% responden di Bogor dan 18% responden di Cilacap. Beberapa temuan lapangan mencakup makanan dengan aroma kurang baik serta sayuran dan buah yang sudah tidak layak dikonsumsi.
Meski demikian, angka dalam laporan tersebut merupakan proyeksi, bukan realisasi timbulan sisa pangan secara nasional. Perhitungannya menggunakan hasil pengukuran langsung selama tiga hingga empat hari di Kota Bogor dan Kabupaten Cilacap, kemudian diproyeksikan berdasarkan target penerima manfaat MBG.
Laporan Bappenas juga memperkirakan sisa pangan MBG dapat menghasilkan emisi kumulatif sekitar 0,73 juta–1,18 juta ton karbon dioksida ekuivalen sepanjang 2025–2029. Karena itu, pengurangan sisa pangan perlu dilakukan sejak perencanaan menu, penentuan porsi, pengadaan bahan, hingga pengolahan makanan yang tidak habis. (RK/D-1)
Baca: 20 Kementerian/Lembaga dengan Anggaran Terbesar dalam RAPBN 2027













