Pertumbuhan transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) masih tinggi pada Agustus 2026. Namun, lajunya melambat dibandingkan bulan sebelumnya, ketika jumlah pengguna dan pelaku usaha yang menerima pembayaran menggunakan layanan tersebut terus bertambah.
Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI) yang dirilis pada 23 September 2026, volume transaksi QRIS tumbuh 67,22% secara tahunan ( year-on-year /yoy) pada Agustus. Persentase tersebut lebih rendah daripada Juli 2026 yang mencapai 82,42%.
Dengan demikian, pertumbuhan volume transaksi QRIS melambat 15,20 poin persentase dalam satu bulan. Meski demikian, angka positif 67,22% tetap menunjukkan volume transaksi yang lebih tinggi daripada Agustus 2025.
Pertumbuhan QRIS Juli dan Agustus 2026
Perlambatan QRIS berlangsung di tengah peningkatan aktivitas pembayaran digital secara keseluruhan. BI melaporkan volume seluruh pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36% secara tahunan.
| Indikator | Juli 2026 | Agustus 2026 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan volume QRIS (yoy) | 82,42% | 67,22% |
| Volume seluruh pembayaran digital | 5,50 miliar | 6,11 miliar |
| Pertumbuhan seluruh pembayaran digital (yoy) | 28,69% | 40,36% |
Sumber: Bank Indonesia, Hasil RDG Agustus dan September 2026.
Pada Juli, volume pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi dengan pertumbuhan 28,69% secara tahunan. Perbedaan tren ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan QRIS tidak selalu bergerak searah dengan seluruh transaksi pembayaran digital.
Namun, melambatnya pertumbuhan tahunan QRIS tidak otomatis berarti jumlah transaksi turun dari Juli ke Agustus. Untuk menyimpulkan perubahan bulanan, diperlukan volume QRIS masing-masing bulan yang dibandingkan secara langsung.
Pengguna QRIS mencapai 69,32 juta
Dari sisi jangkauan, QRIS masih memperlihatkan pertumbuhan. Dalam siaran pers 2 Oktober 2026, BI menyebut jumlah pengguna QRIS hingga Agustus mencapai 69,32 juta, sementara jumlah merchant atau pelaku usaha penerima pembayaran QRIS sebanyak 47,11 juta.
Dibandingkan posisi Juni, pengguna bertambah 3,55 juta dari 65,77 juta orang. Pada periode yang sama, jumlah merchant meningkat sekitar 2,25 juta, dari 44,86 juta menjadi 47,11 juta.
| Indikator | Juni 2026 | Agustus 2026 |
|---|---|---|
| Jumlah pengguna | 65,77 juta | 69,32 juta |
| Jumlah merchant | 44,86 juta | 47,11 juta |
| Transaksi kumulatif Januari–bulan terkait | 12,55 miliar | 17,45 miliar |
Sumber: Bank Indonesia, siaran pers 17 Agustus dan 2 Oktober 2026.
Volume QRIS secara kumulatif pada Januari–Agustus 2026 mencapai 17,45 miliar transaksi. Jumlah tersebut bertambah sekitar 4,90 miliar dibandingkan akumulasi Januari–Juni, tetapi tidak dapat disebut sebagai transaksi Agustus saja karena mencakup Juli dan Agustus.
Secara nominal, nilai transaksi QRIS sepanjang semester I/2026 mencapai Rp1,12 kuadriliun, tumbuh 93,92% dibandingkan semester yang sama pada 2025. Peningkatan pengguna, merchant, dan nominal transaksi memperlihatkan perluasan penggunaan pembayaran digital dalam kegiatan ekonomi.
Perkembangan QRIS berbeda antardaerah
Meski penggunaan nasional bertambah, perkembangan transaksi tidak selalu seragam. Laporan Perekonomian Sulawesi Selatan Agustus 2026 menunjukkan volume QRIS mencapai 88,14 juta transaksi pada triwulan II/2026, tumbuh 149,72% secara tahunan.
Pada periode yang sama, nilai transaksinya sebesar Rp7,64 triliun atau meningkat 82,79% secara tahunan. Pertumbuhan volume yang lebih cepat daripada nominal menunjukkan kenaikan frekuensi pembayaran lebih besar daripada kenaikan nilai transaksinya.
Sebaliknya, laporan BI untuk Papua Barat dan Papua Barat Daya menunjukkan volume QRIS pada triwulan II/2026 masing-masing turun 45,24% dan 14,16% secara tahunan. Hal ini memperlihatkan bahwa pertambahan pengguna dan merchant belum tentu langsung diikuti kenaikan frekuensi transaksi di seluruh wilayah.
Perluasan akses perlu diikuti keamanan transaksi
Meluasnya penggunaan QRIS juga meningkatkan kebutuhan edukasi konsumen. BI mendorong masyarakat untuk memeriksa keaslian informasi, menjaga data pribadi, dan memahami saluran pengaduan ketika menghadapi masalah pembayaran digital.
Dengan demikian, perkembangan QRIS tidak cukup dinilai dari banyaknya pengguna atau tingginya pertumbuhan tahunan. Konsistensi aktivitas transaksi, jangkauan antardaerah, dan kemampuan pengguna mengelola risiko juga menentukan keberlanjutan penggunaan pembayaran digital.(NKR/D-1)
Baca : Marketplace Terpopuler di Indonesia September 2026: Shopee Teratas, Lazada Salip Blibli
Ikuti Channel WhatsApp Dataloka.id untuk mendapatkan informasi berbasis data, statistik terbaru, dan insight mengenai berbagai isu di Indonesia.
Bergabung di sini:
https://whatsapp.com/channel/0029VaplAbq1noz8ZsizkH2R













