Dataloka.id – Pendapatan PT Blue Bird Tbk (BIRD) mencapai Rp5,71 triliun sepanjang 2025, tumbuh 13,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir, bahkan melampaui pendapatan perusahaan pada 2015 yang sebesar Rp5,47 triliun.
Pencapaian itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Bluebird menghadapi perubahan industri transportasi. Perusahaan yang telah beroperasi sejak 1972 ini harus berhadapan dengan persaingan layanan transportasi berbasis aplikasi, perubahan perilaku pelanggan, hingga tekanan pandemi covid-19 yang sempat melumpuhkan mobilitas masyarakat.
Dampaknya terlihat dari kinerja keuangan perusahaan. Pendapatan Bluebird yang mencapai Rp5,47 triliun pada 2015 terus menyusut hingga Rp4,05 triliun pada 2019, sebelum merosot lebih dalam menjadi Rp2,05 triliun pada 2020. Pada tahun pertama pandemi tersebut, perusahaan bahkan mengalami kerugian bersih sebesar Rp163,18 miliar.
Namun, Bluebird tidak hanya mengandalkan bisnis taksi konvensional untuk menghadapi perubahan tersebut. Perusahaan memperkuat aplikasi MyBluebird, memperluas kerja sama dengan platform digital, mengembangkan layanan non-taksi, serta menambah armada untuk menjangkau kebutuhan mobilitas yang semakin beragam.
Hasil transformasi itu mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, data keuangan perusahaan juga memperlihatkan kenaikan pendapatan belum sepenuhnya mengembalikan tingkat keuntungan Bluebird seperti satu dekade sebelumnya. Kondisi tersebut menghadirkan pertanyaan mengenai sejauh mana adaptasi bisnis mampu menjaga pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang.
Saat Taksi Online Mengubah Persaingan
Tahun 2015 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan bisnis Bluebird. Ketika itu, perusahaan memperoleh pendapatan bersih Rp5,47 triliun dan laba bersih Rp828,95 miliar, sebelum persaingan transportasi berbasis aplikasi semakin intensif di Indonesia.
Perubahan mulai terlihat pada 2016. Berdasarkan laporan tahunan Bluebird, pendapatan perusahaan turun 12,36% menjadi Rp4,80 triliun, sedangkan laba bersih menyusut menjadi Rp510,20 miliar.
Dalam laporan tersebut, manajemen menjelaskan bahwa penurunan terutama berasal dari segmen taksi yang mengalami kontraksi pendapatan sebesar 15,46%. Penurunan pesanan di wilayah Jabodetabek menjadi salah satu tekanan terbesar, dengan pendapatan taksi di kawasan tersebut menyusut 20,52%.
Persaingan dengan taksi online juga secara eksplisit disebut dalam memorandum kinerja keuangan Bluebird untuk tahun buku 2016. Dokumen tersebut menjelaskan bahwa perusahaan tetap berupaya mempertahankan profitabilitas di tengah persaingan yang muncul seiring berkembangnya layanan taksi berbasis aplikasi.
Tekanan terhadap bisnis berlanjut pada 2017 ketika pendapatan turun menjadi Rp4,20 triliun. Laba bersih perusahaan juga kembali menyusut menjadi Rp427,50 miliar, atau turun 16,21% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2018, pendapatan Bluebird meningkat tipis menjadi Rp4,22 triliun. Akan tetapi, pemulihan belum berlangsung konsisten karena pendapatannya kembali melemah menjadi Rp4,05 triliun pada 2019.
Perubahan tersebut menunjukkan tekanan terhadap bisnis taksi konvensional telah berlangsung sebelum pandemi covid-19. Kendati demikian, penyusutan pendapatan tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan kehadiran taksi online karena kinerja perusahaan juga dipengaruhi permintaan perjalanan, biaya operasional, dan kondisi pasar.
Tekanan terbesar muncul pada 2020. Pembatasan mobilitas selama pandemi membuat pendapatan Bluebird merosot 49,44% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi Rp2,05 triliun.
Pada periode tersebut, Bluebird mengalami rugi bersih Rp163,18 miliar setelah pada 2019 masih memperoleh laba Rp315,62 miliar. Penurunan perjalanan masyarakat berdampak pada kegiatan operasional perusahaan, baik untuk layanan taksi maupun non-taksi.
Pemulihan mulai terlihat pada 2021 ketika pendapatan meningkat 8,51% menjadi Rp2,22 triliun. Bluebird juga kembali memperoleh laba bersih, meskipun nilainya baru sebesar Rp8,72 miliar.
Pertumbuhan menjadi lebih kuat pada 2022. Pendapatan perusahaan melonjak 61,65% menjadi Rp3,59 triliun dan laba bersih meningkat menjadi Rp364,03 miliar.
Tren positif itu berlanjut hingga 2025. Dalam tiga tahun terakhir, pendapatan Bluebird meningkat berturut-turut menjadi Rp4,42 triliun pada 2023, Rp5,04 triliun pada 2024, dan Rp5,71 triliun pada 2025.
Jika dibandingkan dengan 2015, pendapatan perusahaan pada 2025 sudah meningkat sekitar 4,26% secara nominal. Namun, dari sisi laba bersih, keuntungan Bluebird sebesar Rp643,41 miliar pada 2025 masih lebih rendah 22,38% dibandingkan laba Rp828,95 miliar pada 2015.
Bagaimana Bluebird Menghadapi Disrupsi Taksi Online?
Salah satu strategi Bluebird untuk menghadapi perubahan industri adalah memperluas akses pelanggan melalui layanan digital. Perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan pemesanan melalui telepon, pangkalan taksi, maupun pemberhentian kendaraan secara langsung di jalan.
Langkah digitalisasi sebenarnya telah dimulai sejak 2011 ketika Bluebird memperkenalkan layanan pemesanan taksi melalui perangkat BlackBerry. Perusahaan kemudian meluncurkan kembali aplikasi MyBluebird pada 2016 dengan fitur pemesanan dan berbagai pilihan metode pembayaran.
Perubahan yang lebih besar terlihat pada 2017 ketika Bluebird menjalin kerja sama dengan Gojek. Melalui kolaborasi tersebut, pelanggan GO-CAR di Jakarta mulai dapat memperoleh taksi Bluebird saat memesan kendaraan melalui aplikasi Gojek.
Kemitraan itu menjadi salah satu bentuk penyesuaian terhadap perubahan cara masyarakat mengakses layanan transportasi. Bluebird yang sebelumnya menghadapi persaingan dari platform digital justru mulai memanfaatkan ekosistem tersebut untuk memperluas jaringan pemesanannya.
Direktur PT Blue Bird Tbk saat itu, Adrianto (Andre) Djokosoetono, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Gojek merupakan bagian dari upaya perusahaan mengikuti perkembangan teknologi.
“Kolaborasi ini juga menunjukkan bahwa Blue Bird akan terus berinovasi mengikuti perkembangan teknologi untuk melayani pelanggan dengan lebih baik lagi,” ujar Andre dalam keterangan resmi perusahaan pada 1 Februari 2017.
Kerja sama tersebut turut membuka peluang tambahan pesanan bagi pengemudi Bluebird. Pelanggan dapat mengakses layanan perusahaan melalui beragam saluran, termasuk aplikasi MyBluebird dan platform digital mitra.
Strategi digital kemudian dilanjutkan melalui pengembangan fitur Fixed Price pada 2018. Fitur tersebut memungkinkan pelanggan mengetahui tarif perjalanan sejak awal pemesanan sehingga memberikan alternatif selain penggunaan tarif berdasarkan argometer.
Pada 2021, Bluebird memperkenalkan MyBluebird5 dengan sejumlah fitur baru, termasuk komunikasi dengan pengemudi dan pilihan pembayaran yang lebih beragam. Pengembangan berlanjut pada 2023 melalui MyBluebird6 yang menawarkan pembaruan pengalaman pemesanan dan program loyalitas.
Transformasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan aplikasi. Perusahaan juga memperkuat sistem pengelolaan armada melalui pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efektivitas operasional dan merespons permintaan pelanggan.
Pada 2024, misalnya, Bluebird menyatakan telah mengembangkan AI Mapping dan teknologi Internet of Things (IoT) untuk membantu pengelolaan armada, mempercepat respons layanan, serta meningkatkan efisiensi bahan bakar dan operasional.
Perkembangan digitalisasi tersebut semakin terlihat dalam kinerja terbaru. Sepanjang 2024, jumlah rata-rata pesanan harian melalui MyBluebird secara nasional meningkat 50,6% dibandingkan tahun sebelumnya, berdasarkan laporan tahunan perusahaan.
Pada 2025, jumlah pengguna aplikasi MyBluebird juga tumbuh lebih dari 30%. Kontribusi pemesanan melalui aplikasi tersebut mencapai sekitar 40% dari seluruh transaksi Bluebird, memperlihatkan semakin besarnya peran kanal digital dalam kegiatan bisnis perusahaan.
Namun, peningkatan penggunaan aplikasi tidak secara otomatis membuktikan bahwa digitalisasi menjadi satu-satunya penyebab pertumbuhan pendapatan. Pemulihan permintaan perjalanan, penambahan kendaraan, dan ekspansi bisnis tetap menjadi faktor lain yang perlu diperhitungkan.
Diversifikasi Bisnis, Pendapatan Non-Taksi Semakin Besar
Upaya Bluebird mempertahankan bisnis tidak berhenti pada pengembangan aplikasi. Perusahaan juga memperluas kegiatan usahanya melalui layanan penyewaan kendaraan, bus, transportasi antarkota, dan berbagai solusi mobilitas lainnya.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, struktur pendapatan Bluebird pada 2015 masih didominasi segmen taksi. Dari total pendapatan Rp5,47 triliun, sebesar Rp4,76 triliun berasal dari layanan taksi, sedangkan Rp711,40 miliar berasal dari segmen non-taksi.
Dengan komposisi tersebut, kontribusi bisnis non-taksi baru mencapai sekitar 13% dari seluruh pendapatan perusahaan. Kondisi ini memperlihatkan besarnya ketergantungan Bluebird terhadap layanan taksi pada awal periode pengamatan.
Perubahan mulai terlihat dalam beberapa tahun berikutnya. Pada 2019, pendapatan segmen non-taksi meningkat menjadi Rp835,72 miliar, sehingga porsinya mencapai sekitar 20,62% dari jumlah pendapatan kedua segmen sebelum eliminasi.
Pada tahun tersebut, Bluebird juga mengakuisisi Cititrans untuk memperkuat layanan perjalanan antarkota. Akuisisi ini memperluas cakupan bisnis perusahaan di luar perjalanan taksi reguler.
Ketika pandemi melanda pada 2020, pendapatan segmen non-taksi ikut menurun menjadi Rp578,71 miliar. Meski demikian, porsinya justru meningkat menjadi 28,20% karena penurunan pendapatan segmen taksi berlangsung lebih tajam.
Kondisi itu penting untuk diperhatikan karena kenaikan persentase kontribusi tidak selalu berarti pertumbuhan nilai pendapatan. Porsi bisnis non-taksi pada 2020 meningkat di tengah kontraksi yang terjadi pada kedua segmen usaha.
Peran bisnis non-taksi semakin besar ketika kegiatan ekonomi dan mobilitas masyarakat pulih setelah pandemi. Pada 2024, pendapatan segmen tersebut mencapai Rp1,52 triliun, kemudian meningkat 17,70% menjadi Rp1,79 triliun pada 2025.
Sebaliknya, pendapatan segmen taksi mencapai Rp3,99 triliun pada 2025 atau tumbuh 11,60% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan kedua segmen memperlihatkan bahwa ekspansi Bluebird tidak hanya berlangsung pada bisnis taksi yang menjadi layanan utamanya.
Dalam satu dekade, nilai pendapatan segmen non-taksi meningkat lebih dari dua kali lipat, dari Rp711,40 miliar pada 2015 menjadi Rp1,79 triliun pada 2025. Porsinya juga bertambah dari 13% menjadi 31,01%.
Perubahan tersebut menunjukkan semakin beragamnya sumber pendapatan perusahaan. Meski demikian, bisnis taksi tetap memberikan kontribusi terbesar terhadap kegiatan usaha Bluebird.
Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Adrianto Djokosoetono, menyampaikan bahwa diversifikasi layanan menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjawab kebutuhan pelanggan yang terus berkembang.
“Kami beradaptasi dengan kebutuhan mobilitas yang semakin dinamis,” ujar Andre dalam keterangan resmi mengenai kinerja perusahaan tahun buku 2024.
Menurut Andre, perusahaan berupaya memberikan kemudahan akses layanan, fleksibilitas transaksi, dan pilihan transportasi untuk berbagai kebutuhan. Strategi tersebut sejalan dengan arah transformasi Bluebird menjadi penyedia layanan mobilitas yang lebih terintegrasi.
Armada Bertambah, Pemesanan Digital Menguat
Transformasi Bluebird juga terlihat dari perkembangan jumlah kendaraan yang dioperasikan. Berdasarkan laporan tahunan perusahaan, total armada Bluebird mencapai 22.998 unit pada 2023 dan meningkat menjadi 24.166 unit pada 2024.
Jumlah tersebut kembali bertambah menjadi 26.070 unit pada 2025, atau meningkat 7,88% dibandingkan tahun sebelumnya. Penambahan kendaraan meliputi berbagai layanan yang dioperasikan perusahaan, baik pada segmen taksi maupun non-taksi.
Pada saat yang sama, penggunaan aplikasi MyBluebird semakin berperan dalam proses pemesanan layanan. Perusahaan menyebutkan bahwa kontribusi aplikasi tersebut mencapai hingga 35% sepanjang 2024.
Setahun kemudian, sekitar 40% dari total transaksi Bluebird berasal dari pemesanan melalui MyBluebird. Pertumbuhan jumlah pengguna aplikasi yang melampaui 30% pada 2025 juga memperlihatkan semakin luasnya pemanfaatan layanan digital perusahaan.
Pertumbuhan armada dan penggunaan aplikasi tersebut menggambarkan dua pendekatan yang berjalan bersamaan. Bluebird memperluas kapasitas layanan secara fisik sekaligus meningkatkan akses pelanggan melalui teknologi.
Meski demikian, jumlah kendaraan bukan satu-satunya indikator keberhasilan ekspansi. Tingkat pemanfaatan armada, jumlah perjalanan per kendaraan, dan biaya operasional tetap menentukan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan.
Hal serupa berlaku untuk layanan digital. Pertumbuhan jumlah pengguna maupun pesanan melalui aplikasi perlu diikuti peningkatan efisiensi agar transformasi teknologi dapat memberikan manfaat finansial dalam jangka panjang.
Kendaraan Listrik dan Tantangan Mobilitas Masa Depan
Selain mengembangkan layanan digital, Bluebird mulai memperluas penggunaan kendaraan ramah lingkungan sebagai bagian dari transformasi bisnis. Pada 2019, perusahaan memperkenalkan armada listrik pertamanya untuk layanan Bluebird dan Silverbird.
Langkah tersebut berlanjut pada 2022 melalui pengenalan visi keberlanjutan 50:30. Melalui strategi ini, perusahaan menargetkan pengurangan emisi karbon dan buangan operasional sebesar 50% hingga 2030.
Pengembangan kendaraan ramah lingkungan juga dilakukan pada layanan non-taksi. Pada 2024, Bluebird memperluas operasional Bus Rapid Transit (BRT) berbasis listrik di Ibu Kota Nusantara dan Medan.
Perusahaan turut menambah armada kendaraan listrik untuk layanan Bluebird dan Goldenbird sepanjang 2025. Ekspansi tersebut dilakukan di sejumlah kota, antara lain Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan.
Penggunaan kendaraan listrik menjadi salah satu perubahan penting dalam bisnis transportasi. Namun, dampaknya terhadap profitabilitas tetap bergantung pada biaya investasi kendaraan, kebutuhan pengisian daya, pemeliharaan, serta tingkat pemanfaatan armada.
Dari sisi operasional, perubahan teknologi juga menuntut penyesuaian keterampilan pengemudi dan pengelolaan layanan. Karena itu, pengembangan armada tidak dapat dipisahkan dari kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung.
Dalam peringatan hari jadi Bluebird ke-53 pada Mei 2025, Andre Djokosoetono menekankan pentingnya perusahaan terus menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan pelanggan.
“Bagi kami, menjadi andal adalah tentang kesungguhan untuk terus berbenah dan tetap relevan dengan kebutuhan pelanggan,” ujar Andre dalam keterangan resmi pada 8 Mei 2025.
Pernyataan tersebut menggambarkan arah transformasi yang terus dikembangkan perusahaan. Bluebird berupaya mempertahankan standar pelayanan yang selama ini menjadi bagian dari identitas bisnisnya, sembari memperluas penggunaan teknologi dan pilihan mobilitas.
Bertahan dari Disrupsi, Tantangan Belum Selesai
Perjalanan bisnis Bluebird selama 2015–2025 menunjukkan bahwa adaptasi perusahaan berlangsung melalui sejumlah perubahan. Selain mengembangkan layanan digital, Bluebird memperluas segmen non-taksi, menjalin kemitraan dengan platform teknologi, dan meningkatkan kapasitas operasional melalui penambahan armada.
Perubahan tersebut berlangsung ketika perusahaan menghadapi tekanan yang berbeda dari waktu ke waktu. Persaingan transportasi daring menjadi tantangan penting pada pertengahan 2010-an, sedangkan pandemi covid-19 menyebabkan penurunan mobilitas yang jauh lebih besar pada 2020.
Dalam lima tahun setelah pandemi, pendapatan Bluebird meningkat dari Rp2,05 triliun menjadi Rp5,71 triliun. Perusahaan juga berhasil beralih dari kerugian bersih Rp163,18 miliar menjadi keuntungan Rp643,41 miliar pada periode yang sama.
Meski demikian, perkembangan tersebut belum sepenuhnya mengembalikan profitabilitas Bluebird ke tingkat satu dekade sebelumnya. Margin laba bersih 2025 yang masih berada di bawah posisi 2015 menunjukkan bahwa pemulihan pendapatan tidak selalu menghasilkan peningkatan keuntungan dengan proporsi serupa.
Ke depan, perusahaan menghadapi tantangan untuk menjaga pertumbuhan di tengah persaingan industri transportasi yang terus berubah. Penguatan layanan digital, efisiensi armada, diversifikasi usaha, dan pengembangan kendaraan ramah lingkungan menjadi bagian dari strategi yang harus dijalankan secara berkelanjutan.
Bluebird telah memperlihatkan kemampuannya melewati periode disrupsi dan tekanan pandemi. Namun, perjalanan perusahaan juga menunjukkan bahwa bertahan bukan sekadar mempertahankan keberadaan bisnis, melainkan terus menyesuaikan layanan dan model usaha tanpa mengabaikan kemampuan menghasilkan keuntungan. (NKR/D-1)












