Berdasarkan Indonesia Animation Report 2026, pendapatan industri animasi Indonesia mencapai Rp798,15 miliar pada 2025. Angka tersebut meningkat 54,70% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp515,95 miliar.
Capaian itu menjadi nilai tertinggi sepanjang 2015–2025. Dibandingkan dengan 2015 yang sebesar Rp238,05 miliar, pendapatan industri animasi nasional telah bertambah 235,29% atau menjadi sekitar 3,35 kali lipat dalam satu dekade.
Indonesia Animation Report 2026 diluncurkan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif bersama Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Universitas Dian Nuswantoro pada 19 Mei 2026. Laporan tersebut memetakan 262 studio animasi dengan 3.448 tenaga kerja.
Pendapatan industri animasi bertumbuh selama lima tahun berturut-turut pada 2015–2019. Kenaikannya berkisar antara 21,91% hingga 30,58% per tahun sebelum pandemi Covid-19 menekan pendapatan sebesar 15,29% pada 2020.
Industri tersebut kembali tumbuh 10,95% pada 2021. Namun, pertumbuhannya melambat menjadi 2,08% pada 2022 sebelum meningkat 32,04% menjadi Rp763,55 miliar pada 2023.
Pendapatan industri animasi kemudian turun 32,43% menjadi Rp515,95 miliar pada 2024. Indonesia Animation Report 2026 menyebut periode tersebut sebagai “lembah produksi”, ketika sejumlah studio mengalihkan sumber daya dari proyek jasa untuk menyelesaikan IP internal berskala besar.
Secara tahunan, kenaikan pendapatan tertinggi terjadi pada 2025, yakni 54,70%. Dengan pertumbuhan tersebut, nilainya melampaui rekor sebelumnya yang sebesar Rp763,55 miliar pada 2023.
Sebaliknya, penurunan terdalam berlangsung pada 2024 sebesar 32,43%. Kontraksi tersebut lebih besar dibandingkan penurunan pada masa pandemi 2020 yang mencapai 15,29%.
Pendapatan IP Animasi Melonjak 279,53%
Kenaikan pendapatan industri pada 2025 terutama didorong oleh karya animasi orisinal. Pendapatan dari IP animasi melonjak 279,53%, dari Rp86,20 miliar pada 2024 menjadi Rp327,15 miliar pada 2025.
Nilai tersebut untuk pertama kalinya melampaui pendapatan jasa animasi yang diekspor. Pada 2025, pendapatan jasa ekspor animasi sebesar Rp229,75 miliar atau tumbuh 7,36% secara tahunan.
Laporan tersebut mengaitkan kenaikan pendapatan IP dengan kemunculan produk animasi berskala besar, termasuk film animasi Jumbo. Fenomena itu memperlihatkan bahwa pendapatan dari kepemilikan karya orisinal berpotensi melampaui pendapatan yang diperoleh dengan mengerjakan proyek milik pihak lain.
Saat ini terdapat 308 IP animasi aktif yang telah diproduksi dan didistribusikan melalui berbagai platform. Namun, sebanyak 46,34% IP milik studio belum didaftarkan untuk memperoleh perlindungan hukum.
Industri Animasi Masih Menghadapi Masalah Permodalan
Pertumbuhan industri animasi belum sepenuhnya diikuti oleh kemudahan memperoleh pembiayaan. Sebanyak 85,72% studio dilaporkan belum memiliki dana memadai untuk melakukan ekspansi global.
Selain itu, 76,62% studio masih mengandalkan modal mandiri atau bootstrapping. Penetrasi pembiayaan dari investor malaikat dan modal ventura baru sebesar 7,79%.
Persoalan lain terdapat pada struktur tenaga kerja. Dari 3.448 pekerja yang dipetakan, sekitar 51,4% berstatus pekerja lepas atau kontrak. Kondisi tersebut dapat menghambat keberlanjutan tim, terutama dalam pengembangan proyek IP yang membutuhkan proses produksi jangka panjang.
Dengan menggunakan CAGR 12,86% sebagai dasar proyeksi, Indonesia Animation Report 2026 memperkirakan pendapatan industri animasi dapat mencapai Rp1,001 triliun pada 2030. Target itu bergantung pada keberlanjutan investasi IP, akses pembiayaan, perlindungan HKI, dan perluasan distribusi global. (NKR/D-1)
Ikuti Channel WhatsApp Dataloka.id untuk mendapatkan informasi berbasis data, statistik terbaru, dan insight mengenai berbagai isu di Indonesia.
Bergabung di sini:
https://whatsapp.com/channel/0029VaplAbq1noz8ZsizkH2R













