Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Namun, tingginya tingkat pengenalan terhadap program tersebut belum diikuti dengan tingkat kepuasan yang sebanding.
Survei Indonesia Political Opinion (IPO) memperlihatkan mayoritas responden telah mengetahui keberadaan program, tetapi lebih dari separuh menyatakan tidak puas terhadap pelaksanaannya.
Berdasarkan survei IPO, sebanyak 98% responden mengaku mengetahui atau setidaknya pernah mendengar mengenai Program Makan Bergizi Gratis. Hanya 2% responden yang menyatakan sama sekali tidak mengetahui program tersebut.
Kelompok terbesar berasal dari masyarakat yang mengetahui Program MBG tetapi bukan penerima manfaat, yakni sebesar 41%. Selanjutnya, 22% responden mengaku mengetahui sekaligus menjadi penerima program.
Sebanyak 14% responden menyatakan mengetahui program dan pernah menyaksikan orang lain menerima manfaatnya. Sementara itu, 12% mengetahui program tetapi belum pernah menyaksikan pelaksanaannya secara langsung. Adapun 9% responden hanya mengetahui nama Program MBG tanpa mengetahui lebih jauh pelaksanaannya.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis telah memiliki tingkat pengenalan yang sangat tinggi di masyarakat, meskipun pengalaman dan kedekatan responden terhadap program masih beragam.
Berbeda dengan tingginya tingkat pengetahuan masyarakat, penilaian terhadap pelaksanaan Program MBG masih didominasi ketidakpuasan.
Sebanyak 51% responden menyatakan tidak puas terhadap Program MBG, sementara 12% lainnya mengaku sangat tidak puas. Dengan demikian, total responden yang memberikan penilaian negatif mencapai 63%.
Di sisi lain, sebanyak 25% responden menyatakan puas dan hanya 1% yang merasa sangat puas. Sementara itu, 11% responden tidak memberikan jawaban atau menjawab tidak tahu.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa proporsi masyarakat yang tidak puas masih jauh lebih besar dibandingkan mereka yang memberikan penilaian positif terhadap program.
Survei dilakukan oleh Indonesia Political Opinion (IPO) menggunakan metode pengambilan sampel bertingkat. IPO terlebih dahulu menentukan Primary Sampling Unit (PSU) pada sejumlah kelurahan atau desa sebagai lokasi sampel.
Di setiap kelurahan atau desa dipilih secara acak lima rukun tetangga (RT) menggunakan random kish grid paper. Pada setiap RT dipilih dua keluarga secara acak, kemudian dari setiap keluarga dipilih satu responden yang memenuhi syarat, yaitu berusia minimal 17 tahun atau telah menikah.
Pemilihan responden dilakukan secara acak dengan komposisi laki-laki dan perempuan masing-masing sebesar 50%. Pada setiap tahapan digunakan lembar acak sehingga surveyor tidak dapat memilih responden secara subjektif atau purposif. (NKR/D-1)
Baca : Sampah Makanan MBG Berpotensi Tembus 1,95 Juta Ton per Tahun pada 2029
Ikuti Channel WhatsApp Dataloka.id untuk mendapatkan informasi berbasis data, statistik terbaru, dan insight mengenai berbagai isu di Indonesia.
Bergabung di sini:
https://whatsapp.com/channel/0029VaplAbq1noz8ZsizkH2R













