Indonesia menjadi negara dengan tingkat kemiskinan tertinggi di antara sejumlah negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income) berdasarkan proyeksi World Bank untuk 2026.
Dengan menggunakan standar garis kemiskinan internasional bagi negara dalam kelompok tersebut, sebanyak 64,2 persen penduduk Indonesia diperkirakan masih berada di bawah garis kemiskinan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa status sebagai negara berpendapatan menengah atas belum serta-merta diikuti oleh rendahnya tingkat kemiskinan apabila diukur menggunakan standar daya beli internasional.
T Perbandingan ini juga memperlihatkan tantangan yang masih dihadapi sejumlah negara berkembang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Standar World Bank
World Bank mengelompokkan negara berpendapatan menengah atas sebagai negara dengan pendapatan per kapita antara US$4.636 hingga US$14.375. Saat ini terdapat 59 negara yang masuk dalam kategori tersebut.
Untuk mengukur kemiskinan pada kelompok negara ini, World Bank menggunakan garis kemiskinan sebesar US$8,30 per orang per hari berdasarkan PPP 2021 atau sekitar Rp1,51 juta per orang per bulan. Standar ini berbeda dengan garis kemiskinan nasional masing-masing negara.
Perbandingan Antarnegara
Indonesia mencatat tingkat kemiskinan 64,2 persen, disusul Afrika Selatan 60,0 persen dan Filipina 56,5 persen. Iran berada di 36,2 persen, Meksiko 21,1 persen, Brasil 20,4 persen, Vietnam 17,9 persen, Argentina 14,5 persen, Thailand 10,1 persen, sedangkan Malaysia terendah dengan 1,0 persen.
Perbandingan ini menggunakan metodologi World Bank sehingga tidak dapat disamakan secara langsung dengan angka kemiskinan resmi masing-masing negara.(RK/D-1)
Baca : Utang Pemerintah Tembus Rp10.293,69 T pada Semester I 2026
Ikuti Channel WhatsApp Dataloka.id untuk mendapatkan informasi berbasis data, statistik terbaru, dan insight mengenai berbagai isu di Indonesia.
Bergabung di sini:
https://whatsapp.com/channel/0029VaplAbq1noz8ZsizkH2R













