Ajang FIFA Series yang digelar di Jakarta menjadi panggung menarik. Turnamen yang mulai berlangsung pada Jumat (27/3) ini mempertemukan Indonesia, Bulgaria, Saint Kitts and Nevis, serta Kepulauan Solomon dalam satu grup. Seluruh pertandingan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Jika ditarik ke aspek valuasi pemain, Indonesia menempati posisi teratas dengan total nilai pasar mencapai Rp533,18 miliar. Angka ini sedikit melampaui Bulgaria yang berada di kisaran Rp503,2 miliar.
Keunggulan ini menjadi catatan tersendiri. Pasalnya, secara peringkat FIFA, Indonesia masih berada di bawah Bulgaria. Namun, dari sisi nilai ekonomi skuad, Indonesia mampu menunjukkan daya saing yang lebih kuat. Fenomena ini tidak lepas dari meningkatnya jumlah pemain Indonesia yang merumput di kompetisi Eropa, yang turut mendongkrak valuasi pasar.
Sementara itu, kesenjangan terlihat cukup tajam jika dibandingkan dengan dua peserta lainnya. Saint Kitts and Nevis hanya mencatatkan nilai pasar sekitar Rp9,99 miliar, disusul Kepulauan Solomon sebesar Rp7,82 miliar. Perbedaan ini menegaskan disparitas kualitas dan eksposur pemain di level internasional.
Lebih lanjut, keunggulan nilai pasar Indonesia tersebut kemudian tercermin dalam performa di lapangan. Indonesia tampil dominan saat menghadapi Saint Kitts and Nevis pada semifinal dan menang telak 4-0.
Empat gol Indonesia masing-masing dicetak oleh Beckham Putra (dua gol), Ole Romeny, dan Mauro Zijlstra. Kemenangan ini memastikan langkah tim Garuda ke partai final.
Di laga lainnya, Bulgaria menunjukkan kekuatan ofensif yang jauh lebih mencolok dengan mengalahkan Kepulauan Solomon 10-2. Hasil tersebut membuat Bulgaria menjadi lawan Indonesia di final yang akan digelar pada Senin (30/3). Sementara itu, Saint Kitts and Nevis dan Kepulauan Solomon akan saling berhadapan dalam perebutan tempat ketiga. (RK/D-1)
(Baca: 10 Klub Terkaya di Dunia 2025: Madrid Puncaki Deloitte Football Money League)













