Peta kekuatan militer Timur Tengah 2025 menunjukkan lanskap keamanan kawasan yang semakin kompleks, terutama setelah eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat dalam dua tahun terakhir. Data terbaru dari IISS memperlihatkan distribusi kekuatan militer yang tidak merata, dengan sejumlah negara menjadi aktor utama.
Dari sisi jumlah tentara aktif, Iran menempati posisi teratas dengan sekitar 610 ribu personel militer aktif. Angka ini menjadikan Teheran sebagai kekuatan darat terbesar di kawasan, sekaligus pilar utama dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. Di bawahnya, Mesir memiliki sekitar 438,5 ribu personel, disusul Arab Saudi dengan 257 ribu personel aktif.
Negara lain seperti Maroko, Irak, dan Israel juga memiliki kekuatan signifikan, masing-masing dengan lebih dari 150 ribu personel. Sementara itu, Aljazair, Yaman, Yordania, dan Uni Emirat Arab melengkapi daftar 10 besar kekuatan militer aktif di kawasan.
Secara keseluruhan, total personel militer aktif di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara mencapai sekitar 2,54 juta orang, atau sekitar 12,1% dari total global yang mencapai lebih dari 20,9 juta personel.
Eskalasi Konflik Iran–Israel–AS
Peta kekuatan militer ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika konflik terbaru di kawasan. Perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 tidak hanya terbatas pada tiga negara utama. Konflik dengan cepat meluas ke kawasan lain melalui keterlibatan aktor proksi dan serangan lintas negara.
Serangan balasan Iran menyasar pangkalan militer AS di Timur Tengah serta infrastruktur energi dan jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz. Dampaknya, jalur perdagangan global terganggu dan harga energi mengalami tekanan signifikan.
Selain itu, konflik juga mendorong peningkatan mobilisasi militer di berbagai negara kawasan, memperbesar risiko perang regional yang lebih luas.
Belanja Pertahanan Meningkat
Ketegangan geopolitik ini berdampak langsung pada peningkatan belanja militer di kawasan. Pada 2025, total belanja pertahanan di Timur Tengah dan Afrika Utara mencapai hampir 219 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan riil sekitar 4,5 persen.
Rata-rata belanja militer terhadap PDB juga meningkat menjadi 4,3 persen, naik dari 3,5 persen pada 2022. Kenaikan ini mencerminkan respons negara-negara kawasan terhadap meningkatnya ancaman keamanan dan ketidakstabilan regional. Aljazair menjadi salah satu negara dengan lonjakan signifikan, dengan anggaran pertahanan mencapai 8,8% dari PDB—tertinggi di kawasan dan termasuk yang tertinggi di dunia. (RK/D-1)
(Baca: Sebaran Pasukan AS dan Sekutu di Timur Tengah di Tengah Konflik Iran–Israel (8 Maret 2026))













