Fenomena bergesernya awal bulan puasa dari tahun ke tahun merupakan bagian dari siklus 33 tahun Ramadan, yakni pola pergerakan tanggal 1 Ramadan yang maju sekitar 10–12 hari setiap tahun dalam kalender Masehi.
Hal ini terjadi karena kalender Hijriah berbasis peredaran bulan dengan panjang tahun sekitar 354 hari, lebih pendek 11 hari apabila dibandingkan dengan kalender Masehi yang berjumlah 365 hari.
Selisih tersebut membuat Ramadan tidak terikat pada satu musim tertentu. Dalam kurun sekitar tiga dekade, bulan puasa akan bergerak dari awal tahun menuju pertengahan, lalu ke akhir tahun, sebelum kembali lagi mendekati posisi semula.
Dalam proyeksi kalender, awal Ramadan 2026 diperkirakan jatuh pada 18 Februari. Di Indonesia, pemerintah menetapkan 1 Ramadan pada 19 Februari 2026 setelah sidang isbat digelar pada 17 Februari. Setelah itu, pergeseran awal Ramadan terus berlangsung, yakni 8 Februari 2027, 28 Januari 2028, dan 16 Januari 2029.
Ramadan Dua Kali dalam Setahun
Akumulasi selisih hari tersebut juga memunculkan peristiwa yang relatif jarang. Pada 2030, Ramadan diperkirakan hadir dua kali dalam satu tahun Masehi, yakni pada 5 Januari dan kembali pada 26 Desember 2030. Kejadian ini merupakan konsekuensi matematis dari perbedaan panjang tahun Hijriah dan Masehi.
Perubahan posisi Ramadan dalam kalender Masehi turut memengaruhi durasi puasa di berbagai kawasan dunia. Ketika Ramadan berlangsung pada pertengahan tahun, seperti yang diproyeksikan pada 24 Juni 2047, wilayah belahan bumi utara mengalami durasi siang yang lebih panjang sehingga waktu berpuasa bertambah. Sebaliknya, di belahan bumi selatan, durasi siang lebih singkat.
Situasi berbalik ketika Ramadan jatuh pada akhir tahun, seperti 15 Desember 2031. Pada periode tersebut, durasi siang di belahan bumi utara lebih pendek, sedangkan di belahan bumi selatan menjadi lebih panjang. Jika ditarik sepanjang rentang 2026–2057, pergerakan awal Ramadan membentuk pola yang konsisten sebagai berikut.
Siklus 33 Ramadan 2026 hingga 2057
- 2026: 19 Februari
- 2027: 8 Februari
- 2028: 28 Januari
- 2029: 16 Januari
- 2030: 5 Januari dan 26 Desember
- 2031: 15 Desember
- 2032: 4 Desember
- 2033: 23 November
- 2034: 12 November
- 2035: 1 November
- 2036: 20 Oktober
- 2037: 10 Oktober
- 2038: 30 September
- 2039: 19 September
- 2040: 7 September
- 2041: 28 Agustus
- 2042: 17 Agustus
- 2043: 6 Agustus
- 2044: 26 Juli
- 2045: 15 Juli
- 2046: 5 Juli
- 2047: 24 Juni
- 2048: 12 Juni
- 2049: 2 Juni
- 2050: 22 Mei
- 2051: 11 Mei
- 2052: 30 April
- 2053: 20 April
- 2054: 9 April
- 2055: 29 Maret
- 2056: 17 Maret
- 2057: 6 Maret
Pada 2057, Ramadan kembali mendekati awal Maret. Pola ini menegaskan bahwa pergeseran tanggal puasa bukan anomali, melainkan bagian dari mekanisme kalender lunar yang membentuk siklus 33 tahun Ramadan secara berulang. (RK/D-1)
(Baca: Kupang hingga Jakarta, Ini 10 Kota dengan Durasi Puasa Terlama di Indonesia pada 2026)












