Dataloka.id — Penghasilan tinggi dan cepat memperoleh pekerjaan menjadi dua pertimbangan yang sering digunakan calon mahasiswa untuk menilai prospek lulusan. Namun, data tracer study menunjukkan keduanya tidak dapat langsung digabungkan menjadi satu ranking sederhana.
Tracer Study ITB menampilkan median penghasilan sekitar Rp8,3 juta per bulan dengan rata-rata masa tunggu kerja 2,11 bulan. UI memiliki median penghasilan sekitar Rp7,5 juta per bulan dan median masa tunggu sekitar 2 bulan.
UGM berada di sekitar Rp6 juta per bulan dengan rata-rata masa tunggu sekitar 3 bulan. IPB juga memiliki median penghasilan sekitar Rp6 juta, sedangkan rata-rata masa tunggu yang digunakan dalam kompilasi berada di sekitar 3,9 bulan.
Gaji dan Masa Tunggu Lulusan
| Kampus | Penghasilan | Masa tunggu | Ukuran |
|---|---|---|---|
| ITB | Median Rp8,3 juta/bulan | 2,11 bulan | Rata-rata masa tunggu |
| UI | Median Rp7,5 juta/bulan | 2 bulan | Median masa tunggu |
| UGM | Median Rp6 juta/bulan | 3 bulan | Rata-rata masa tunggu |
| IPB | Median Rp6 juta/bulan | 3,9 bulan | Rata-rata masa tunggu |
Catatan: Populasi, tahun lulusan, response rate, serta definisi masa tunggu berbeda antartracer study. Angka tidak boleh diperlakukan sebagai ranking yang sepenuhnya apple-to-apple.
ITB Punya Median Penghasilan Paling Tinggi dalam Kompilasi
Median penghasilan alumni ITB yang bekerja berada di sekitar Rp8,3 juta per bulan. Angka itu lebih tinggi daripada tiga kampus lain dalam kompilasi, tetapi responden dan periode tracer study berbeda.
Di tingkat program studi, variasinya jauh lebih besar. Teknik Perminyakan memiliki median Rp13 juta, Teknik Telekomunikasi Rp12,5 juta, dan Teknik Kimia Rp12 juta per bulan.
Rata-rata masa tunggu ITB sekitar 2,11 bulan. Angka tersebut dekat dengan median 2 bulan di UI, tetapi keduanya menggunakan ukuran statistik yang berbeda sehingga tidak layak disimpulkan bahwa selisih 0,11 bulan bermakna.
UI Memiliki Median Masa Tunggu 2 Bulan
Tracer Study UI menampilkan median penghasilan sekitar Rp7,5 juta per bulan. Pada sisi kecepatan kerja, median masa tunggu lulusan berada di sekitar 2 bulan.
Sebanyak 81,2 persen lulusan dalam data UI memperoleh pekerjaan maksimal enam bulan. Sekitar 64 persen mendapat pekerjaan dalam 1–3 bulan dan 17,2 persen dalam 4–6 bulan.
UI menggunakan median untuk masa tunggu, sedangkan beberapa kampus lain menggunakan rata-rata. Perbedaan definisi ini membuat urutan “paling cepat” tidak dapat dibuat secara presisi hanya dari satu tabel gabungan.
UGM dan IPB Sama-sama Sekitar Rp6 juta
UGM memiliki median penghasilan sekitar Rp6 juta per bulan dan rata-rata masa tunggu sekitar 3 bulan. Data tersebut memperlihatkan hasil lulusan yang relatif cepat, tetapi tetap tidak identik secara metodologis dengan UI.
IPB juga berada di median penghasilan sekitar Rp6 juta per bulan. Rata-rata masa tunggu yang digunakan dalam kompilasi berada di sekitar 3,9 bulan dan berasal dari cakupan data yang berbeda.
Perbandingan ini memperlihatkan mengapa membaca tracer study memerlukan lebih dari satu angka. Kampus dapat memiliki median gaji serupa tetapi karakter populasi dan waktu masuk kerja yang berbeda.
Gaji Tinggi tidak Otomatis Berarti Cepat Kerja
Secara intuitif, pekerjaan bergaji lebih tinggi mungkin dianggap lebih kompetitif sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk diperoleh. Namun, tabel empat kampus tidak cukup untuk membuktikan hubungan tersebut karena desain survei berbeda.
ITB memiliki median penghasilan paling tinggi dan masa tunggu rata-rata yang tetap singkat. UI memiliki median penghasilan di bawah ITB tetapi median masa tunggu sekitar 2 bulan, sehingga keduanya sama-sama menunjukkan hasil yang kuat dari sisi berbeda.
Untuk menguji hubungan gaji dan kecepatan kerja secara lebih tepat, dibutuhkan data pada level individu atau setidaknya level program studi dengan definisi yang sama. Tanpa itu, korelasi tidak boleh disimpulkan hanya dari empat angka agregat.
Mana yang Lebih Penting, Gaji atau Cepat Kerja?
Jawabannya bergantung pada tujuan calon mahasiswa. Masa tunggu menggambarkan seberapa cepat transisi ke pekerjaan, sedangkan pendapatan menggambarkan nilai kompensasi pada kelompok responden yang bekerja.
Keduanya sebaiknya dibaca bersama indikator lain seperti kesesuaian bidang kerja, jenis perusahaan, lokasi, kepuasan kerja, dan kelanjutan studi. Satu kampus tidak perlu menjadi nomor satu pada semua indikator untuk menghasilkan lulusan dengan prospek baik.
Apakah Lulusan Bergaji Tinggi juga Paling Cepat Bekerja?
Belum dapat disimpulkan secara umum. Data menunjukkan ITB memiliki median penghasilan tertinggi dalam kompilasi dan rata-rata masa tunggu 2,11 bulan, sementara UI memiliki median masa tunggu 2 bulan dengan median penghasilan Rp7,5 juta.
Perbedaan metodologi membuat keduanya tidak dapat diranking secara ketat. Temuan yang lebih aman adalah gaji dan kecepatan kerja merupakan dua indikator berbeda yang perlu dibaca bersamaan. (ELS/D-1)
Baca: Kampus Terbaik di Luar Jawa: Peringkat QS 2027 dan Reputasi Perusahaan













