DANA Indonesia mencatat penerapan agentic artificial intelligence (AI) pada sejumlah proses operasional mampu meningkatkan produktivitas hingga 57% sepanjang 2025.
Selain itu, implementasi teknologi tersebut disebut meningkatkan kepuasan pelanggan sebesar 13% serta mempercepat penyelesaian layanan hingga 10%.
Capaian tersebut disampaikan DANA dalam AI@Work Lab di IdeaFest 2026, Jakarta, Minggu (7/9/2026). Forum tersebut membahas penerapan AI dalam kegiatan bisnis sekaligus dampaknya terhadap kebutuhan talenta teknologi.
CEO & Co-Founder DANA Indonesia Vince Iswara mengatakan tingkat adopsi AI tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan penggunaan teknologi tersebut. Menurut dia, perusahaan perlu melihat dampaknya terhadap penyelesaian masalah dan kinerja bisnis.
“Adopsi AI bukan lagi tujuan akhir. Nilainya baru tercipta ketika teknologi tersebut membantu menyelesaikan persoalan yang nyata, memperbaiki kualitas keputusan, dan memberikan hasil yang dapat diukur,” ujar Vince.
Menurut DANA, sekitar 80-90% kode di perusahaan saat ini dihasilkan dengan dukungan AI. Meski demikian, engineer tetap bertanggung jawab dalam merumuskan persoalan, merancang arsitektur sistem, melakukan validasi, memastikan keamanan, hingga mengambil keputusan terhadap hasil akhir.
Vince mengatakan penggunaan AI tetap membutuhkan keterlibatan manusia, terutama dalam menentukan konteks, menjaga kualitas, mengelola risiko, dan mempertanggungjawabkan hasil.
Aktivitas Terindikasi Judi Online Turun 80%
DANA juga memanfaatkan teknologi melalui pendekatan Smart Friction. Sistem tersebut menambahkan lapisan verifikasi pada aktivitas yang dinilai memiliki indikasi risiko lebih tinggi.
Melalui kolaborasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), DANA menyebut pendekatan tersebut berkontribusi terhadap penurunan aktivitas terindikasi perjudian online di platformnya hingga 80% sepanjang 2025.
Di sisi lain, penggunaan AI turut mengubah kebutuhan keterampilan tenaga teknologi. CTO DANA Indonesia Norman Sasono mengatakan kemampuan menulis kode tetap penting, tetapi bukan lagi satu-satunya kompetensi yang menentukan.
Menurut Norman, engineer semakin membutuhkan kemampuan memahami konteks bisnis, memecahkan masalah, merancang arsitektur, mengambil keputusan, serta mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan.
“AI dapat membantu menjawab how, tetapi engineer tetap bertanggung jawab atas why, what, dan what could go wrong. Ketika kode semakin mudah dihasilkan, kemampuan memahami konteks, menggunakan penilaian yang tepat, dan akuntabilitas justru menjadi semakin penting,” ujar Norman.
DANA menilai perusahaan juga perlu memberikan ruang bagi tim untuk bereksperimen menggunakan AI. Namun, setiap implementasi teknologi tersebut perlu disertai tujuan, parameter keberhasilan, tata kelola, dan akuntabilitas yang jelas. (ADV/RK/D-1)
Baca: Perputaran Uang Judi Online 2025 Turun setelah 7 Tahun Berturut-turut Meningkat














Comments 1