Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) menjadi salah satu gempa terbesar yang pernah tercatat di kawasan tersebut. Magnitudonya menyamai gempa Laut Flores pada 17 Juni 1996 yang juga berkekuatan M7,7.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa 2026 berpusat di laut di utara Flores dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back Arc Thrust tersebut juga memicu tsunami.
Kenaikan muka air laut tertinggi tercatat 1,61 meter di Reo, Manggarai. Sementara itu, tsunami setinggi 0,94 meter teramati di Maurole, Ende. Peringatan dini tsunami kemudian diakhiri setelah kondisi muka air laut dinyatakan kembali aman.
Dampak gempa juga cukup besar. Berdasarkan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu pukul 18.48 WIB, sedikitnya 47 orang meninggal dunia.
Sebanyak 24 korban meninggal berada di Manggarai dan 17 orang di Manggarai Timur. Tiga korban lainnya tercatat di Sikka, sedangkan masing-masing satu korban berada di Manggarai Barat, Ngada, dan Ende.
Gempa juga menyebabkan 346 rumah mengalami kerusakan. Rinciannya, 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan. Selain itu, puluhan fasilitas pendidikan, kesehatan, tempat ibadah, dan kantor turut terdampak.
Penelusuran terhadap Katalog Gempabumi Signifikan dan Merusak Indonesia 1821–2025 milik BMKG menunjukkan gempa M7,7 pada 2026 menyamai magnitudo gempa Laut Flores pada 17 Juni 1996.
Kendati sama-sama M7,7, karakter kedua gempa berbeda. Gempa 1996 memiliki kedalaman sekitar 587 kilometer sehingga dampak kerusakannya relatif terbatas. Adapun gempa 2026 hanya berkedalaman 15 kilometer sehingga guncangan di permukaan menjadi lebih kuat.
Catatan tersebut menunjukkan magnitudo bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat kerusakan. Kedalaman sumber gempa, lokasi pusat gempa, kondisi tanah, ketahanan bangunan, serta potensi tsunami ikut memengaruhi besarnya dampak.
Gempa Flores 1992 Paling Mematikan
Meski gempa 2026 termasuk yang terbesar dari sisi magnitudo, gempa Flores pada 12 Desember 1992 masih tercatat sebagai bencana gempa paling mematikan di kawasan tersebut.
Gempa M7,5 dengan kedalaman 28 kilometer itu memicu tsunami yang mencapai sekitar 300 meter ke daratan. Tinggi gelombang di sejumlah lokasi dilaporkan mencapai 26 meter.
BMKG mencatat sekitar 2.500 orang meninggal atau hilang. Lebih dari 500 orang terluka dan sekitar 90.000 penduduk kehilangan tempat tinggal. Sebagian besar bangunan di Maumere juga hancur.
Rangkaian gempa besar itu memperlihatkan tingginya risiko bencana di Flores. Gempa M7,7 pada 2026 bukan hanya mengulang catatan magnitudo besar, tetapi juga kembali mengingatkan pada ancaman guncangan kuat dan tsunami yang telah berulang kali terjadi di wilayah tersebut. (RK/D-1)
Baca: 10 Gempa Terbesar di Indonesia Sepanjang Sejarah: Aceh 2004 Jadi yang Paling Dahsyat













