Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep, Madura, Jawa Timur, pada Minggu (2/8/2026), kembali menyoroti keselamatan pelayaran di Indonesia. Berdasarkan data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), terdapat delapan kecelakaan pelayaran dengan 69 korban sepanjang 2025.
Jumlah itu meningkat 33,33% dibandingkan dengan 2024 yang mencatat enam kejadian. Kapal tenggelam menjadi jenis kecelakaan pelayaran yang paling banyak terjadi pada 2025. Jumlahnya mencapai enam kejadian atau setara dengan 75% dari seluruh kecelakaan pelayaran pada tahun tersebut.
Adapun kebakaran dan tubrukan masing-masing tercatat sebanyak satu kejadian. Setiap jenis kecelakaan itu memiliki pangsa sebesar 12,5%. Dengan demikian, mayoritas kecelakaan pelayaran yang diinvestigasi KNKT sepanjang 2025 berupa kapal tenggelam.
Jumlah kecelakaan pelayaran di Indonesia bergerak fluktuatif sepanjang 2016–2025. Angka tertinggi tercatat pada 2018, yakni sebanyak 41 kejadian.
Sebaliknya, jumlah kecelakaan pelayaran terendah terjadi pada 2024 dengan enam kejadian. Angkanya kemudian meningkat menjadi delapan kejadian pada 2025, tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan puncaknya pada 2018.
Berapa Jumlah Korban Kecelakaan Pelayaran pada 2025?
Peningkatan jumlah kecelakaan pelayaran pada 2025 diikuti oleh bertambahnya korban. Total korban meninggal dunia dan luka-luka mencapai 69 orang.
Jumlah tersebut melonjak 165,38% dibandingkan dengan 2024 yang mencatat 26 korban. Artinya, jumlah korban kecelakaan pelayaran bertambah 43 orang dalam setahun.
Dari total 69 korban pada 2025, sebanyak 54 orang atau 78,26% meninggal dunia. Sementara itu, 15 orang lainnya atau 21,74% mengalami luka-luka.
Kenaikan jumlah korban tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah kecelakaan pelayaran pada tahun yang sama. Jumlah kejadian meningkat 33,33% , sedangkan jumlah korbannya melonjak 165,38% .
Tren Korban Kecelakaan Pelayaran 2016–2025
Jumlah korban kecelakaan pelayaran juga berfluktuasi sepanjang 2016–2025. Korban terbanyak tercatat pada 2018, yakni mencapai 325 orang.
Sebaliknya, jumlah korban paling sedikit terjadi pada 2023 dengan 22 orang. Angkanya kemudian meningkat menjadi 26 orang pada 2024 dan kembali melonjak menjadi 69 orang pada 2025. (RK/D-1)












